Oleh
Mujianto, M.Pd.
“Dunia
sedang pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat sedang datang mendekat. Maka
jadilah kalian anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia.”
(Ali bin Abi Thalib)
“Barang
siapa mengenal hakikat dunia, maka ia tidak akan tertipu olehnya. Dan barang
siapa yakin kepada akhirat, maka ia akan mempersiapkan bekalnya.”
(Imam Al-Ghazali)
Saat ini tampak sekali, sebagian besar manusia berbondong-bondong mengejar dunianya dengan begitu keras, seolah-olah kehidupan hanya berhenti pada kenikmatan yang terlihat oleh jangkauan mata. Ukuran
keberhasilan pun sering kali hanya dinilai dari banyaknya simpanan materi, luasnya pengaruh,
dan tingginya kedudukan sosial.
Dunia
memang menawarkan kenyamanan yang membuat manusia terlena, hingga lupa bahwa
semua yang dimiliki hanyalah titipan. Tidak sedikit yang merasa dirinya kuat
karena harta, merasa aman karena jabatan, dan merasa mulia karena tervalidasi
oleh pujian manusia.
Manusia
pada dasarnya memiliki kecenderungan yang sangat kuat terhadap kehidupan dunia.
Hati manusia mudah terpikat oleh sesuatu yang terlihat indah, menjanjikan
kenyamanan, dan memberikan kepuasan. Dunia akhirnya tidak lagi dipandang
sebagai sarana menjalani amanah kehidupan, tetapi berubah menjadi tujuan utama
yang diperebutkan tanpa batas.
Kehidupan
modern pun semakin memperkuat kecenderungan manusia untuk mencintai dunia. Pemanfaatan
media sosial yang tidak tepat menambah sarana budaya pamer. Persaingan
gaya hidup membuat banyak orang merasa harus selalu terlihat berhasil di
hadapan orang lain.
Akibatnya,
banyak orang hidup dalam tekanan untuk terus mengejar standar kesuksesan yang
sebenarnya semu. Mereka tampak bahagia di luar, tetapi di dalam hatinya
dipenuhi kecemasan dan kelelahan.
Dalam
Al-Qur’an Allah Swt. sudah mengingatkan, “Dijadikan terasa indah dalam
pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa
perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas
dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup
di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali
‘Imran: 14).
Di
Kehidupan Akhirat Ada Keadilan Sejati
Kehidupan
akhirat mengajarkan bahwa keadilan sejati tidak selalu selesai di dunia. Banyak
orang baik hidup dalam kesulitan, sementara sebagian pelaku kejahatan justru
tampak menikmati hidupnya tanpa rasa takut. Jika manusia hanya percaya pada
kehidupan dunia, tentu mereka akan menilai, bahwa semua itu tidaklah adil.
Namun
akhirat hadir sebagai jawaban bahwa Allah tidak pernah lalai terhadap apa yang
dilakukan manusia. Akan ada hari ketika seluruh rahasia dibuka, seluruh
kedustaan dihancurkan, dan seluruh hak dikembalikan kepada pemiliknya. Hari itu
tidak ada kekuasaan yang mampu menyelamatkan seseorang selain rahmat Allah dan
amal salehnya.
Banyak
orang baru menyadari pentingnya akhirat ketika musibah datang menghampiri. Saat
sakit, kehilangan orang tercinta, atau berada dalam titik terendah kehidupan,
manusia mulai memahami betapa lemah dirinya.
Mengingat
akhirat tidak berarti menjadikan seseorang meninggalkan dunia sepenuhnya. Islam
mengajarkan keseimbangan antara bekerja untuk kehidupan dunia dan mempersiapkan
bekal akhirat. Dunia adalah ladang amal. Di sinilah manusia diberi kesempatan
menanam kebaikan sebanyak mungkin.
Senyum
yang tulus, membantu sesama, mendidik anak dengan baik, menjaga kejujuran dalam
pekerjaan, tidak menzalimi orang lain, hingga menahan diri dari menyakiti orang lain merupakan investasi
yang nilainya akan terlihat di akhirat kelak.
Pada akhirnya, setiap manusia sedang berjalan menuju satu tujuan yang sama, yaitu kembali kepada Allah. Cepat atau lambat, semua akan meninggalkan dunia yang dicintainya. Rumah, kendaraan, dan segala kebanggaan dunia tidak akan ikut masuk ke liang kubur.
Allah SWT. berfirman, “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda
gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang
bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An‘am: 32).
Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, tetapi juga bukan untuk dicintai secara berlebihan.
Manusia yang bijak adalah manusia yang mampu memanfaatkan dunia tanpa diperbudak olehnya. Ia sadar bahwa kehidupan yang abadi adalah akhirat. Kesadaran inilah yang akan membuat manusia memiliki tujuan hidup yang benar, bersyukur, dan lebih tenang. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar