Minggu, 05 Juli 2026

Ketika Ibadah Tak Menyentuh Hati: Mengulik Akar Sombong dan Suka Merendahkan Orang Lain pada Ahli Ibadah

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Sudah beberapa hari saya ingin menuliskan artikel ini, tetapi selalu saja ada alasan untuk menundanya. Kesibukan, rasa lelah, atau pikiran bahwa "nanti saja kalau ada waktu" menjadi penghalang hingga akhirnya penulis tersadar bahwa menunda kebaikan adalah salah satu pintu yang sering dimanfaatkan setan untuk melemahkan semangat. Padahal, persoalan yang akan dibahas dalam tulisan ini sangat penting untuk menjadi bahan renungan bersama. Khususnya, sebagai pengingat bagi penulis sendiri.

Tidak sedikit kita menjumpai seseorang yang tampak sangat tekun menjalankan ibadah. Ia tidak pernah meninggalkan salat berjamaah, rajin berpuasa sunah, dan gemar membaca Al-Qur'an. Namun, di sisi lain, setiap berbicara lisannya sering menyakiti orang lain, sikapnya meremehkan sesama, merasa dirinya paling benar, bahkan memandang rendah orang yang dianggap kurang salih atau tidak seperti dirinya. Fenomena ini mengundang pertanyaan besar, mengapa ibadah yang begitu banyak belum mampu melahirkan akhlak yang mulia? Apakah ada yang salah dengan ibadahnya? Mari kita uraikan pelan-pelan jawabannya.

Akar yang pertama, adanya Penyakit Hati. Mengapa ibadah yang demikian tidak melahirkan akhlak tawadhu? Jawabannya karena ibadah itu berhenti di anggota badan, belum sampai menyentuh bagian yang lain, sehingga penyakit hati masih bersemayam. Dan para ulama menyebut dua penyakit hati utama di balik fenomena ini adalah Riya dan Ujub.

Riya adalah beribadah agar dilihat dan dipuji manusia. Ujub adalah bangga terhadap amal sendiri sehingga merasa lebih mulia dari orang lain. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya” HR. Bukhari. 

Ketika niat bergeser dari "karena Allah" menjadi "agar dianggap salih", maka ibadah berubah fungsi. Ia bukan lagi tangga menuju Allah, melainkan panggung untuk menaikkan status sosial. Dari sinilah lahir perasaan: “Saya kan rajin salat berjamaah dan puasa, masa kalah sama dia yang tidak puasa dan jarang ke masjid.” Perasaan inilah awal mula sifat sombong.

Akar yang kedua, Peringatan Al-Qur’an tentang Salat Tanpa Jiwa. Ternyata, orang yang salat mendapat teguran dari al-Qur’an. Siapakah itu? Allah berfirman dalam surat al-Ma’un ayat 4-6.  : “Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya, yang berbuat riya” Kata “sahyun” artinya lalai. Lalai bukan berarti meninggalkan salat, tapi salatnya hanya badannya yang hadir.

Tidak ada yang salah dengan gerakan dan bacaannya, tapi hatinya melayang. Tidak ada tadabbur, khususnya penghayatan tentang lafaz takbir yang sering dibaca dalam salat, bahwa Allah Maha Besar, tidak ada yang melebihi atas kekuasaanya, dengan kata lain, selain Allah semua kecil, tak berdaya, dan tidak ada apa-apanya. Salat dengan tidak memerhatikan kualitas ini, tentu tidak akan mampu mengikis kesombongan. Standar Allah tentang sikap sombong tidak berubah. Sifat sombong tidak disukai Allah. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” QS. An-Nisa ayat 36. Tidak ada pengecualian, walau dia rajin tahajud dan lain sebagainya.”

Akar yang ketiga, adanya Potret Orang Bangkrut di Hari Kiamat. Sudah digambarkan adanya satu golongan di hari kiamat, yang disebut di salah satu hadits yang paling menakutkan yaitu tentang “orang bangkrut”. Nabi Saw. bersabda: “Tahukah kalian siapa orang bangkrut itu?” Sahabat menjawab “Yang tidak punya harta.” kemudian Nabi Saw. menjawab: “Orang bangkrut dari umatku adalah yang datang di hari kiamat dengan pahala salat, puasa, zakat. Tapi dia pernah mencaci, menuduh, berbuat zalim, dan memakan harta atau hak orang lain. Maka kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang yang dizaliminya. Jika pahalanya habis, dosa orang yang dizalimi itu ditimpakan kepadanya, lalu dia dilempar ke neraka” HR. Muslim. Memahami ini, ternyata salat dan puasa bisa ludes karena lisan yang suka merendahkan dan menzalimi orang lain. Ini bukti bahwa Allah tidak hanya menilai kuantitas ibadah, tapi juga kualitasnya.

Sebagai penutup, lewat tulisan sederhana ini, penulis menjadikannya sebagai peringatan dan cermin muhasabah diri bukan sebagai alat untuk menghakimi orang lain. Sebab, yang paling membutuhkan perbaikan adalah hati kita sendiri. Selanjutnya adalah kembali meneladani Nabi Saw. Beliau manusia paling mulia, paling banyak ibadahnya, tapi paling tawadhu.

Di antara kunci tawadhu adalah mengingat bahwa semua nikmat termasuk hidayah salat adalah pemberian Allah. Kita tidak tahu akhir hidup seseorang. Bisa jadi ahli maksiat yang kita hina, mati dalam keadaan husnul khatimah. Dan penilai amal hanyalah Allah. “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” QS. An-Najm ayat 32. Wallahu a’lam bis-sawab. Semoga bermanfaat!

Minggu, 17 Mei 2026

MASIH ADA KEHIDUPAN AKHIRAT

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

 

“Dunia sedang pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat sedang datang mendekat. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia.”

(Ali bin Abi Thalib)

 

“Barang siapa mengenal hakikat dunia, maka ia tidak akan tertipu olehnya. Dan barang siapa yakin kepada akhirat, maka ia akan mempersiapkan bekalnya.”

(Imam Al-Ghazali)

 

Saat ini tampak sekali, sebagian besar manusia berbondong-bondong mengejar dunianya dengan begitu keras, seolah-olah kehidupan hanya berhenti pada kenikmatan yang terlihat oleh jangkauan mata. Ukuran keberhasilan pun sering kali hanya dinilai dari banyaknya simpanan materi, luasnya pengaruh, dan tingginya kedudukan sosial.

Dunia memang menawarkan kenyamanan yang membuat manusia terlena, hingga lupa bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan. Tidak sedikit yang merasa dirinya kuat karena harta, merasa aman karena jabatan, dan merasa mulia karena tervalidasi oleh pujian manusia.

Manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan yang sangat kuat terhadap kehidupan dunia. Hati manusia mudah terpikat oleh sesuatu yang terlihat indah, menjanjikan kenyamanan, dan memberikan kepuasan. Dunia akhirnya tidak lagi dipandang sebagai sarana menjalani amanah kehidupan, tetapi berubah menjadi tujuan utama yang diperebutkan tanpa batas.

Kehidupan modern pun semakin memperkuat kecenderungan manusia untuk mencintai dunia. Pemanfaatan media sosial yang tidak tepat menambah sarana budaya pamer. Persaingan gaya hidup membuat banyak orang merasa harus selalu terlihat berhasil di hadapan orang lain.

Akibatnya, banyak orang hidup dalam tekanan untuk terus mengejar standar kesuksesan yang sebenarnya semu. Mereka tampak bahagia di luar, tetapi di dalam hatinya dipenuhi kecemasan dan kelelahan.

Dalam Al-Qur’an Allah Swt. sudah mengingatkan, “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali ‘Imran: 14).

 

Di Kehidupan Akhirat Ada Keadilan Sejati

Kehidupan akhirat mengajarkan bahwa keadilan sejati tidak selalu selesai di dunia. Banyak orang baik hidup dalam kesulitan, sementara sebagian pelaku kejahatan justru tampak menikmati hidupnya tanpa rasa takut. Jika manusia hanya percaya pada kehidupan dunia, tentu mereka akan menilai, bahwa semua itu  tidaklah adil.

Namun akhirat hadir sebagai jawaban bahwa Allah tidak pernah lalai terhadap apa yang dilakukan manusia. Akan ada hari ketika seluruh rahasia dibuka, seluruh kedustaan dihancurkan, dan seluruh hak dikembalikan kepada pemiliknya. Hari itu tidak ada kekuasaan yang mampu menyelamatkan seseorang selain rahmat Allah dan amal salehnya.

Banyak orang baru menyadari pentingnya akhirat ketika musibah datang menghampiri. Saat sakit, kehilangan orang tercinta, atau berada dalam titik terendah kehidupan, manusia mulai memahami betapa lemah dirinya.

Mengingat akhirat tidak berarti menjadikan seseorang meninggalkan dunia sepenuhnya. Islam mengajarkan keseimbangan antara bekerja untuk kehidupan dunia dan mempersiapkan bekal akhirat. Dunia adalah ladang amal. Di sinilah manusia diberi kesempatan menanam kebaikan sebanyak mungkin.

Senyum yang tulus, membantu sesama, mendidik anak dengan baik, menjaga kejujuran dalam pekerjaan, tidak menzalimi orang lain, hingga menahan diri dari menyakiti orang lain merupakan investasi yang nilainya akan terlihat di akhirat kelak.

Pada akhirnya, setiap manusia sedang berjalan menuju satu tujuan yang sama, yaitu kembali kepada Allah. Cepat atau lambat, semua akan meninggalkan dunia yang dicintainya. Rumah, kendaraan, dan segala kebanggaan dunia tidak akan ikut masuk ke liang kubur.

Allah SWT. berfirman, “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An‘am: 32).

Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, tetapi juga bukan untuk dicintai secara berlebihan.

Manusia yang bijak adalah manusia yang mampu memanfaatkan dunia tanpa diperbudak olehnya. Ia sadar bahwa kehidupan yang abadi adalah akhirat. Kesadaran inilah yang akan membuat manusia memiliki tujuan hidup yang benar, bersyukur, dan lebih tenang. Wallahu a’lam.

Selasa, 09 September 2025

Cara Pandang

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Cara pandang adalah perspektif atau sudut pandang yang digunakan seseorang dalam menilai suatu hal, baik itu peristiwa, orang lain, maupun dirinya sendiri. Cara pandang tidak terbentuk secara instan, melainkan hasil dari proses panjang yang dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman hidup, hingga lingkungan sosial.

Setiap orang memiliki cara pandang yang unik, namun tidak semua cara pandang membawa dampak positif. Ada yang terbuka, kritis, dan toleran, namun ada pula yang sempit, kaku, bahkan diskriminatif. Oleh karena itu, penting untuk mengasah dan mengembangkan cara pandang agar tidak hanya didasarkan pada prasangka atau emosi sesaat, melainkan pada pertimbangan yang rasional, dan bijaksana.

 

Meningkatkan Kualitas Cara Pandang

Dalam kehidupan sehari-hari, cara pandang berpengaruh besar terhadap sikap, pengambilan keputusan, serta relasi sosial. Oleh karena itu, mengasah cara pandang menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter dan kebijaksanaan pribadi. Apalagi yang sedang mempunyai amanat sebagai seorang pemimpin, cara pandangnya mempengaruhi keputusan dan kebijakan yang akan dirasakan orang banyak.

Mengasah cara pandang berarti melatih diri untuk melihat segala sesuatu tidak hanya dari satu sisi, melainkan secara lebih luas dan mendalam. Ini melibatkan kemampuan berpikir reflektif, terbuka, serta kesediaan memahami pandangan orang lain.

Menurut Darmaprawira, dalam buku Pendidikan Kewargaan yang Demokratis. Individu yang cara pandangnya tajam dan bijak tidak mudah terjebak dalam penilaian sepihak, fanatisme, atau prasangka. Ia mampu menimbang suatu persoalan dengan pertimbangan rasional dan empatik

Pengalaman hidup juga memainkan peran penting dalam memperkaya cara pandang. Bertemu dengan orang dari latar belakang berbeda, menjelajahi tempat baru, atau menghadapi situasi sulit dapat membuka perspektif yang sebelumnya sempit. Istilah yang popular di kalangan orang Jawa, Ketika melihat orang yang berpikiran sempit disebut dengan ‘Duline kurang adoh’ bukan karena tidak pernah berkunjung ke tempat yang jauh, tapi karena tidak bisa mengambil suatu pelajaran.

Selain pengalaman, membaca buku, berdiskusi, dan mendengar cerita dari orang lain adalah sarana penting dalam mengasah cara pandang. Buku membuka jendela ke dunia lain, memperkenalkan sudut pandang baru, dan memperluas cakrawala berpikir. Diskusi yang sehat mendorong kita untuk mempertimbangkan pendapat berbeda

Menurut Moeljono dalam buku Character Building: Membangun Karakter Bangsa, bahwa Proses berliterasi, dan berdiskusi yang sehat membantu individu keluar dari “zona nyaman berpikir” dan mendorong lahirnya cara pandang yang lebih matang.

Cara pandang adalah sudut atau perspektif seseorang, dan mengasah cara pandang bukan hal yang mudah, terutama di tengah masyarakat yang cenderung mengedepankan penilaian instan dan hitam-putih. Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh perbedaan, cara pandang yang luas dan bijak menjadi bekal penting untuk menciptakan kehidupan yang lebih damai, dan beradab. Wallahu a’lam bis-shawab.

Rabu, 03 September 2025

Mustahil, Perubahan Tanpa Berubah

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

(QS. Ar-Ra’d: 11)

 

Perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti dalam hidup. Namun ironisnya, banyak orang menginginkan hasil yang berbeda dalam hidup mereka, tanpa benar-benar mengubah perilaku, kebiasaan, atau pola pikir yang selama ini mereka jalani. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya keinginan untuk berubah, namun lemahnya kesadaran bahwa perubahan sejati menuntut tindakan nyata.

Salah satu penyebab utama proses perubahan yang gagal adalah ilusi bahwa cukup dengan niat dan harapan, segalanya akan berbeda. Padahal, niat tanpa ikhtiar hanyalah omong kosong. Seseorang bisa memiliki visi besar untuk masa depan, namun jika cara hidupnya masih seperti kemarin, maka hasil yang diterima juga akan sama seperti hari-hari sebelumnya.

Dalam kehidupan spiritual, pendidikan, karir, maupun hubungan sosial, prinsip ini tetap berlaku. Misalnya, seseorang yang ingin lebih dekat dengan Tuhan tidak bisa hanya berharap keimanan meningkat tanpa memperbaiki amal, memperbanyak ibadah, dan menjauhi maksiat. Seorang pelajar tidak bisa berharap nilai naik tanpa belajar lebih keras. Seorang pemimpin tidak bisa berharap perubahan dalam organisasi tanpa mengubah cara ia memimpin.

Perubahan bukan hanya tentang tindakan, tetapi juga cara berpikir. Banyak orang ingin berubah, namun tidak siap untuk berpikir dengan cara baru. Maka diperlukan banyak literasi dan belajar dari pengalaman. Pola pikir (mindset) adalah akar dari segala tindakan. Tanpa perubahan mindset, perubahan perilaku hanya akan sementara dan tidak berkelanjutan.

 

Refleksi untuk Lembaga Pendidikan dalam Meningkatkan Daya Saing

Hal yang sama berlaku untuk sebuah organisasi, tim, seperti lembaga pendidikan sekolah menuntut perubahan untuk hasil yang lebih baik. Di tengah persaingan antar lembaga pendidikan yang semakin ketat, setiap sekolah tentu menginginkan peningkatan jumlah murid baru setiap tahun ajaran. Peningkatan jumlah murid di tahun ajaran sebelumnya harus dipahami secara mendalam penyebabnya. Apakah karena memang kualitas lembaga yang bagus ataukah suatu keberuntungan? Jika dipahami hanya suatu keberuntungan, maka perlu kewaspadaan.

Dalam dunia pendidikan yang dinamis, tidak mungkin ada hasil baru tanpa upaya baru. Harapan untuk menarik lebih banyak murid akan tetap menjadi harapan semu jika lembaga masih mempertahankan cara kerja lama yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan zaman.

Orang tua saat ini semakin selektif dalam memilih sekolah bagi anak-anak mereka. Mereka tidak hanya melihat fasilitas fisik, tetapi juga nilai-nilai yang ditanamkan, pendekatan pendidikan yang digunakan, serta rekam jejak prestasi dan budaya sekolah.

Lembaga pendidikan yang ingin unggul dalam menarik murid baru harus mulai bertransformasi secara menyeluruh, bukan sekadar mengganti spanduk promosi atau mempercantik brosur. Program unggulan dan Branding yang positif semakin dikuatkan, pembenahan mutu guru, pelayanan administrasi, komunikasi publik, hingga inovasi pembelajaran yang menarik dan bermakna.

Pentingnya kesadaran bahwa perubahan hanya mungkin terjadi jika lembaga benar-benar mau berubah, bukan sekadar kelihatan berubah. Evaluasi mendalam, keberanian berinovasi, dan keterbukaan terhadap perubahan menjadi kunci penting. Memperoleh murid baru bukan soal keberuntungan, tetapi hasil dari keseriusan membangun kualitas dan kepercayaan publik.

Lembaga pendidikan yang berhasil berubah adalah mereka yang menyadari bahwa perubahan bukan ancaman, tetapi peluang. Mereka tidak menunggu perubahan datang dari luar, melainkan menciptakannya dari dalam. "mustahil, perubahan tanpa berubah," apakah benar adanya? Wallahu a’lam bis-shawab.

 

Selasa, 26 Agustus 2025

Kepatuhan Tanpa Berpikir

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Kepatuhan adalah salah satu elemen penting dalam menjaga keteraturan sosial. Tanpa kepatuhan terhadap hukum, dan norma, masyarakat bisa terjerumus ke dalam kekacauan. Namun, terdapat sisi gelap dari kepatuhan yang jarang dibicarakan, yaitu kepatuhan tanpa berpikir.

Kepatuhan tanpa berpikir adalah bentuk kepatuhan di mana seseorang menaati perintah, atau aturan tanpa mempertanyakan validitas, etika, atau logikanya. Dalam konteks ini, kepatuhan bukan lagi cerminan tanggung jawab, melainkan penyerahan diri secara pasif terhadap kekuasaan, atau kepentingan tertentu.

Hal itu membuktikan bahwa seseorang dapat mematikan nalar dan empati dirinya sendiri hanya demi “melakukan yang diperintahkan.” Kepatuhan seperti itu menjadi ladang subur bagi penyalahgunaan kekuasaan.

Kepatuhan tanpa berpikir tentu berhubungan dengan tanggung jawab moral seseorang. Banyak terjadi, seseorang yang benar-benar melakukan kesalahan, sering merasa tidak bersalah, dan cukup enteng dijawab dengan kalimat “karena saya hanya menjalankan perintah.” Dan dalih seperti ini sering dipakai untuk bersembunyi. Janganlah kita lupa bahwa kepatuhan tidak menghapuskan tanggung jawab pribadi, dan semua ada nilai dan dampak yang harus dipertanggungjawabkan masing-masing.

Dalam dunia yang kompleks ini, tantangan moral dan etika semakin rumit. Kepatuhan buta tidak lagi bisa dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan dan kebijakan. Tentu, diperlukan keberanian untuk bertanya pada diri sendiri, “Apakah yang saya taati ini benar?” Tanpa pertanyaan kritis seperti itu, seseorang hanya akan bergerak seperti robot, patuh tapi tidak sadar, hidup tapi tidak merdeka.

 

Guru, Nalar Kritis, dan Institusinya

Dalam dunia pendidikan, guru tidak hanya mengajar materi pembelajaran, tetapi juga seharusnya menjadi agen perubahan dan pembimbing moral yang aktif berpikir kritis. Namun, realitas di banyak sekolah menunjukkan hal sebaliknya, guru justru kerap menjadi pelaksana pasif suatu kebijakan, baik yang datang dari sekolah ataupun dari luar tanpa mempertanyakan relevansi, efektivitas, atau dampaknya terhadap peserta didik.

Dalam hal kepatuhan, guru mempunyai cobaan tersendiri. Sebagai seorang bawahan atau pelaksana, tentunya harus siap menjalankan perintah dari kepala satuan pendidikannya maupun sistem yang lebih tinggi. Namun, kepatuhan sebaiknya tetap dibarengi dengan nalar kritis, bukan bermaksud menawar tugas yang diberikan, tetapi berpikir mendalam, sebagai bentuk perhatian menemukan celah, apakah kebijakan ini akan baik bagi satuan pendidikannya?, dan adakah sesuatu cara yang lebih hebat dari itu?. 

Nalar kritis akan kembali kepada kualitas dan kemajuan lembaga, walaupun tidak mudah untuk dilakukan, karena membutuhkan keberanian dan kecerdasan.

Pada lembaga dengan sistem manajemen yang baik, guru akan diberikan ruang, dipersilakan mempertanyakan kebijakan secara konstruktif. Guru pun bisa menjalankan perannya sebagai pendidik sejati, yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mampu memperjuangkan kualitas pendidikan yang lebih baik.

Mendorong guru untuk berpikir kritis terhadap kebijakan bukan berarti mendorong pembangkangan, melainkan menghidupkan kembali profesionalisme. Sekolah bukanlah pabrik yang hanya menjalankan instruksi, tetapi komunitas intelektual. Ketika guru hanya patuh tanpa berpikir, maka pendidikan kehilangan jiwanya.

Agama Islam sangat menghargai akal dan pikiran sebagai alat untuk memahami sesuatu yang benar dan yang salah. Rasulullah SAW. pun mendorong umatnya untuk bertanya dan mencari ilmu. Dalam Surah Al-Zumar ayat 9 disebutkan: “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” Ini menjadi dalil bahwa kepatuhan yang ideal dalam Islam adalah yang dilandasi oleh pemahaman dan kesadaran,

Kembali kepada dunia pendidikan, pendidikan tidak hanya mengajarkan murid dari yang tidak bisa menjadi bisa tentang sesuatu hal, tetapi juga membangun kesadaran kritis, berpikir mendalam, menumbuhkan keberanian moral dan tanggung jawab individu. Wallahu a’lam bis-shawab.

Jumat, 22 Agustus 2025

Ujaran Sang Pemimpin Sejati

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

 

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin.”

(HR. al-Bukhari).

 

Ujaran dari seorang pemimpin sejati bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan di depan publik, tetapi cerminan dari karakter, dan visi yang dipegang teguh. Kata-kata pemimpin sejati seperti halnya mutiara, memiliki bobot moral yang kuat karena tidak lahir dari kepentingan pribadi dan sesaat, melainkan dari kesadaran akan tanggung jawab besar yang diemban.

Ujaran seorang pemimpin sejati tentunya tidak dimaksudkan untuk mencari tepuk tangan, ataupun sekadar balasan ucapan terima kasih tetapi untuk membangkitkan kesadaran, dan membentuk arah.

Pemimpin sejati memahami bahwa setiap kata yang keluar dari lisannya memiliki dampak sosial yang luas. Ia tidak berbicara tanpa berpikir atau hanya untuk menangguk popularitas. Sebaliknya, ia menimbang setiap kalimat dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan perpecahan, kesalahpahaman, atau bahkan konflik. Ia sadar bahwa kata-kata yang keluar dari lisannya bisa menjadi alat pemersatu atau sebaliknya, penghancur.

Ciri utama ujaran pemimpin sejati adalah kejujuran. Ia tidak menutup-nutupi fakta atau menyembunyikan kebenaran demi menjaga citra. Di situlah integritasnya diuji, ketika ia berani berkata benar dalam situasi yang sulit.

Lebih dari itu, ujaran dari pemimpin sejati bersifat membangun dan menginspirasi. Ia tidak menggunakan kata-kata untuk merendahkan, menakut-nakuti, atau mengintimidasi yang dipimpinnya. Seorang pemimpin dengan kebijaksanaan yang tinggi akan memilih diksi yang menguatkan semangat kolektif, membangkitkan rasa percaya diri, serta menanamkan harapan yang masuk akal dan bisa diperjuangkan bersama. Walau dalam masa SULIT sekalipun.

Ujaran yang dilontarkan pemimpin sejati juga mencerminkan rasa hormat terhadap keragaman. Ia tidak mengutamakan satu kelompok dan mengabaikan yang lain. Kata-katanya merangkul semua lapisan ataupun golongan. Pemimpin sejati mampu menggunakan redaksi bahasa yang memperkuat semangat persatuan dan kesetaraan di tengah perbedaan.

Di era digital saat ini, ujaran pemimpin menyebar lebih cepat dan lebih luas dari sebelumnya. Karena itu, tanggung jawab moral atas ucapan menjadi semakin besar. Pemimpin sejati tidak boleh terpancing untuk menyampaikan ujaran yang dangkal, provokatif, atau menyudutkan pihak tertentu hanya karena tekanan opini publik atau kepentingan politik jangka pendek. Ia harus mampu menahan diri dan tetap mengedepankan kebijaksanaan, bahkan di tengah riuh rendahnya informasi yang saling bersilang.

Pemimpin sejati juga tahu kapan saatnya berbicara dan kapan saatnya diam. Tidak semua situasi menuntut respon cepat berupa ujaran publik. Kadang, keheningan yang tenang dan penuh pertimbangan justru lebih bermakna daripada ucapan yang terburu-buru. Ketika ia akhirnya berbicara, kata-katanya akan memiliki dampak yang lebih kuat karena lahir dari kontemplasi, bukan reaksi spontan.

Ujaran dari pemimpin sejati adalah cerminan jiwanya. Menurut Andrias Harefa Dalam buku Delapan Langkah Menjadi Pemimpin Autentik Berintegritas, digambarkan bahwa pemimpin autentik memiliki “compass” nilai-nilai utama yang memandu tutur kata dan tindakan mereka secara konsisten.

Kepercayaan publik kepada seorang pemimpin akan terbangun dari melihat integritasnya. Konsistensi antara ucapan dan tindakan adalah tanda integritas sejati. Pemimpin tidak hanya berbicara dengan rangkaian kalimat indah, tetapi juga menjalankannya dalam kehidupan nyata. Wallahu a’lam bis-shawab.

Selasa, 19 Agustus 2025

Diam Pada Waktunya Adalah yang Terbaik

Oleh Mujianto, M.Pd.


Dalam kehidupan, diam sering kali disalahartikan sebagai bentuk kelemahan, ketundukan, atau bahkan kekalahan. Diam, dalam banyak konteks, justru menunjukkan kekuatan batin, pengendalian diri, dan kedewasaan emosional yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Orang yang memilih diam bukan karena takut atau menyerah, melainkan karena ia tahu bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi. Terkadang, diam adalah pilihan sadar untuk tidak menambah luka dalam relasi, untuk tidak menanggapi kebodohan dengan kebodohan, dan untuk menjaga martabat diri.

Ada kekuatan besar dalam memilih diam di saat yang tepat. Diam di sini bukan diartikan tidak tahu apa-apa, tetapi diam yang penuh kesadaran, diam yang memang dipilih, karena merupakan langkah cerdas. Diam bukan berarti tidak peduli, melainkan cara elegan untuk tidak ikut terbakar dalam kekacauan. Ketika situasi tak memungkinkan kita untuk didengar secara utuh, maka diam adalah bentuk kebijaksanaan. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita cukup kuat untuk tidak membuktikan apa pun kepada siapa pun. Dan pada akhirnya, waktu dan kebenaran akan berbicara lebih lantang daripada semua argumen.

Diam juga memiliki batas dan konteks. Ada kalanya diam justru bisa disalahartikan jika dilakukan terus-menerus tanpa keberanian untuk bersuara ketika ketidakadilan terjadi. Oleh karena itu, diam yang bermakna bukanlah pasif atau apatis, melainkan sikap yang terkontrol, dan penuh kesadaran. Diam yang bijaksana tahu kapan harus berhenti dan kapan harus berbicara.

 

Orang Licik dengan Segala Keunikannya

Menghadapi orang yang licik bukanlah perkara mudah. Selain memiliki dua wajah, mereka juga pandai memanipulasi. Mereka tahu bagaimana memancing reaksi, memutarbalikkan fakta agar menguntungkan diri sendiri, dan  akhirnya membuat orang lain yang merasa bersalah.

Sikap orang licik sangat tidak mengenakkan, selain ucapannya yang tidak bisa dipegang, hari ini berkata A, besok B, juga sering menyalahkan orang lain atas masalah yang mereka buat sendiri.

Bereaksi dengan marah atau terburu-buru justru membuat kita masuk ke dalam permainan mereka. Di sinilah sikap diam menjadi senjata yang paling kuat karena ia bukan hanya menghindarkan kita dari jebakan, tetapi juga menunjukkan bahwa kita tidak bisa dikendalikan oleh kelicikan.

Orang yang licik biasanya haus perhatian dan ingin melihat orang lain terpancing oleh provokasi mereka. Dengan tetap diam, kita memotong sumber kekuatan mereka. Diam bukan berarti kita tidak tahu atau tidak berdaya, melainkan kita memilih untuk tidak bermain dalam arena yang mereka ciptakan. Ini adalah bentuk kecerdasan emosional dan ketegasan yang tersembunyi. Sikap diam memberi pesan yang tegas: “Aku tahu permainanmu, tapi aku tidak tertarik untuk ikut serta.”

Diam memungkinkan kita mengamati dengan lebih jernih. Kita dapat melihat pola, strategi, dan kelemahan orang yang licik tanpa harus terburu-buru menanggapi. Diam memberi ruang bagi kebenaran untuk terungkap dengan sendirinya, karena tipu daya tidak akan bertahan lama di hadapan waktu. Kekhasan orang licik adalah terus berusaha membangun citra palsu.

Dalam diam, kita tidak merendahkan diri ke level permainan yang curang. Kita tidak perlu membalas dengan cara yang sama, karena kita tahu nilai kita lebih tinggi daripada permainan itu. Diam bukan kelemahan, tapi kekuatan yang tak mudah diganggu.

Mereka yang diam dengan kesadaran dan kendali penuh, padahal ia mampu menjawab, dan menguraikan tanggapan sebagai bentuk perlawanan, namun tidak melakukannya, mereka itu adalah pemenang. Wallahu a’lam bis-shawab