Oleh Mujianto, M.Pd.
Sudah beberapa hari saya
ingin menuliskan artikel ini, tetapi selalu saja ada alasan untuk menundanya.
Kesibukan, rasa lelah, atau pikiran bahwa "nanti saja kalau ada
waktu" menjadi penghalang hingga akhirnya penulis tersadar bahwa menunda
kebaikan adalah salah satu pintu yang sering dimanfaatkan setan untuk
melemahkan semangat. Padahal, persoalan yang akan dibahas dalam tulisan
ini sangat penting untuk menjadi bahan renungan bersama. Khususnya, sebagai pengingat bagi penulis sendiri.
Tidak sedikit kita
menjumpai seseorang yang tampak sangat tekun menjalankan ibadah. Ia tidak
pernah meninggalkan salat berjamaah, rajin berpuasa sunah, dan gemar membaca
Al-Qur'an. Namun, di sisi lain, setiap berbicara lisannya sering menyakiti orang lain, sikapnya
meremehkan sesama, merasa dirinya paling benar, bahkan memandang rendah orang
yang dianggap kurang salih atau tidak seperti dirinya. Fenomena ini mengundang pertanyaan
besar, mengapa ibadah yang begitu banyak belum mampu melahirkan akhlak yang
mulia? Apakah ada yang salah dengan ibadahnya? Mari kita uraikan
pelan-pelan jawabannya.
Akar yang pertama, adanya
Penyakit Hati. Mengapa ibadah yang demikian tidak melahirkan akhlak
tawadhu? Jawabannya karena ibadah itu berhenti di anggota badan, belum sampai
menyentuh bagian yang lain, sehingga penyakit hati masih bersemayam. Dan para
ulama menyebut dua penyakit hati utama di balik fenomena ini adalah Riya dan Ujub.
Riya adalah beribadah agar dilihat dan dipuji manusia. Ujub adalah bangga terhadap amal sendiri sehingga merasa lebih mulia dari orang lain. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya” HR. Bukhari.
Ketika niat bergeser
dari "karena Allah" menjadi "agar dianggap salih", maka
ibadah berubah fungsi. Ia bukan lagi tangga menuju Allah, melainkan panggung
untuk menaikkan status sosial. Dari sinilah lahir perasaan: “Saya kan rajin
salat berjamaah dan puasa, masa kalah sama dia yang tidak puasa dan jarang ke
masjid.” Perasaan inilah awal mula sifat sombong.
Akar yang kedua, Peringatan
Al-Qur’an tentang Salat Tanpa Jiwa. Ternyata, orang yang salat mendapat teguran dari al-Qur’an. Siapakah itu? Allah berfirman dalam surat al-Ma’un ayat 4-6. : “Maka celakalah bagi orang-orang yang salat,
yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya, yang berbuat riya” Kata “sahyun”
artinya lalai. Lalai bukan berarti meninggalkan salat, tapi salatnya hanya
badannya yang hadir.
Tidak ada yang salah
dengan gerakan dan bacaannya, tapi hatinya melayang. Tidak ada tadabbur, khususnya
penghayatan tentang lafaz takbir yang sering dibaca dalam salat, bahwa Allah Maha
Besar, tidak ada yang melebihi atas kekuasaanya, dengan kata lain, selain Allah
semua kecil, tak berdaya, dan tidak ada apa-apanya. Salat dengan tidak memerhatikan kualitas ini, tentu tidak
akan mampu mengikis kesombongan. Standar Allah tentang sikap sombong tidak
berubah. Sifat sombong tidak disukai Allah. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang
yang sombong dan membangga-banggakan diri” QS. An-Nisa ayat 36. Tidak ada
pengecualian, walau dia rajin tahajud dan lain sebagainya.”
Akar yang ketiga, adanya Potret
Orang Bangkrut di Hari Kiamat. Sudah digambarkan adanya satu golongan di hari kiamat, yang disebut di salah satu hadits yang paling menakutkan yaitu tentang “orang bangkrut”. Nabi Saw. bersabda: “Tahukah kalian siapa
orang bangkrut itu?” Sahabat menjawab “Yang tidak punya harta.” kemudian Nabi Saw. menjawab: “Orang bangkrut dari umatku adalah yang datang di hari kiamat dengan
pahala salat, puasa, zakat. Tapi dia pernah mencaci, menuduh, berbuat zalim, dan memakan harta atau hak orang lain. Maka kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang yang dizaliminya. Jika
pahalanya habis, dosa orang yang dizalimi itu ditimpakan kepadanya, lalu dia dilempar ke
neraka” HR. Muslim. Memahami ini, ternyata salat dan puasa bisa ludes karena lisan yang suka merendahkan dan menzalimi orang lain. Ini bukti bahwa Allah tidak hanya menilai
kuantitas ibadah, tapi juga kualitasnya.
Sebagai penutup, lewat tulisan
sederhana ini, penulis menjadikannya sebagai peringatan dan cermin muhasabah
diri bukan sebagai alat untuk menghakimi orang lain. Sebab, yang paling
membutuhkan perbaikan adalah hati kita sendiri. Selanjutnya adalah kembali
meneladani Nabi Saw. Beliau manusia paling mulia, paling banyak ibadahnya, tapi
paling tawadhu.
Di antara kunci tawadhu
adalah mengingat bahwa semua nikmat termasuk hidayah salat adalah pemberian
Allah. Kita tidak tahu akhir hidup seseorang. Bisa jadi ahli maksiat yang kita
hina, mati dalam keadaan husnul khatimah. Dan penilai amal hanyalah Allah. “Maka
janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang
orang yang bertakwa” QS. An-Najm ayat 32. Wallahu a’lam bis-sawab. Semoga
bermanfaat!