Minggu, 05 Juli 2026

Ketika Ibadah Tak Menyentuh Hati: Mengulik Akar Sombong dan Suka Merendahkan Orang Lain pada Ahli Ibadah

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Sudah beberapa hari saya ingin menuliskan artikel ini, tetapi selalu saja ada alasan untuk menundanya. Kesibukan, rasa lelah, atau pikiran bahwa "nanti saja kalau ada waktu" menjadi penghalang hingga akhirnya penulis tersadar bahwa menunda kebaikan adalah salah satu pintu yang sering dimanfaatkan setan untuk melemahkan semangat. Padahal, persoalan yang akan dibahas dalam tulisan ini sangat penting untuk menjadi bahan renungan bersama. Khususnya, sebagai pengingat bagi penulis sendiri.

Tidak sedikit kita menjumpai seseorang yang tampak sangat tekun menjalankan ibadah. Ia tidak pernah meninggalkan salat berjamaah, rajin berpuasa sunah, dan gemar membaca Al-Qur'an. Namun, di sisi lain, setiap berbicara lisannya sering menyakiti orang lain, sikapnya meremehkan sesama, merasa dirinya paling benar, bahkan memandang rendah orang yang dianggap kurang salih atau tidak seperti dirinya. Fenomena ini mengundang pertanyaan besar, mengapa ibadah yang begitu banyak belum mampu melahirkan akhlak yang mulia? Apakah ada yang salah dengan ibadahnya? Mari kita uraikan pelan-pelan jawabannya.

Akar yang pertama, adanya Penyakit Hati. Mengapa ibadah yang demikian tidak melahirkan akhlak tawadhu? Jawabannya karena ibadah itu berhenti di anggota badan, belum sampai menyentuh bagian yang lain, sehingga penyakit hati masih bersemayam. Dan para ulama menyebut dua penyakit hati utama di balik fenomena ini adalah Riya dan Ujub.

Riya adalah beribadah agar dilihat dan dipuji manusia. Ujub adalah bangga terhadap amal sendiri sehingga merasa lebih mulia dari orang lain. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya” HR. Bukhari. 

Ketika niat bergeser dari "karena Allah" menjadi "agar dianggap salih", maka ibadah berubah fungsi. Ia bukan lagi tangga menuju Allah, melainkan panggung untuk menaikkan status sosial. Dari sinilah lahir perasaan: “Saya kan rajin salat berjamaah dan puasa, masa kalah sama dia yang tidak puasa dan jarang ke masjid.” Perasaan inilah awal mula sifat sombong.

Akar yang kedua, Peringatan Al-Qur’an tentang Salat Tanpa Jiwa. Ternyata, orang yang salat mendapat teguran dari al-Qur’an. Siapakah itu? Allah berfirman dalam surat al-Ma’un ayat 4-6.  : “Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya, yang berbuat riya” Kata “sahyun” artinya lalai. Lalai bukan berarti meninggalkan salat, tapi salatnya hanya badannya yang hadir.

Tidak ada yang salah dengan gerakan dan bacaannya, tapi hatinya melayang. Tidak ada tadabbur, khususnya penghayatan tentang lafaz takbir yang sering dibaca dalam salat, bahwa Allah Maha Besar, tidak ada yang melebihi atas kekuasaanya, dengan kata lain, selain Allah semua kecil, tak berdaya, dan tidak ada apa-apanya. Salat dengan tidak memerhatikan kualitas ini, tentu tidak akan mampu mengikis kesombongan. Standar Allah tentang sikap sombong tidak berubah. Sifat sombong tidak disukai Allah. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” QS. An-Nisa ayat 36. Tidak ada pengecualian, walau dia rajin tahajud dan lain sebagainya.”

Akar yang ketiga, adanya Potret Orang Bangkrut di Hari Kiamat. Sudah digambarkan adanya satu golongan di hari kiamat, yang disebut di salah satu hadits yang paling menakutkan yaitu tentang “orang bangkrut”. Nabi Saw. bersabda: “Tahukah kalian siapa orang bangkrut itu?” Sahabat menjawab “Yang tidak punya harta.” kemudian Nabi Saw. menjawab: “Orang bangkrut dari umatku adalah yang datang di hari kiamat dengan pahala salat, puasa, zakat. Tapi dia pernah mencaci, menuduh, berbuat zalim, dan memakan harta atau hak orang lain. Maka kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang yang dizaliminya. Jika pahalanya habis, dosa orang yang dizalimi itu ditimpakan kepadanya, lalu dia dilempar ke neraka” HR. Muslim. Memahami ini, ternyata salat dan puasa bisa ludes karena lisan yang suka merendahkan dan menzalimi orang lain. Ini bukti bahwa Allah tidak hanya menilai kuantitas ibadah, tapi juga kualitasnya.

Sebagai penutup, lewat tulisan sederhana ini, penulis menjadikannya sebagai peringatan dan cermin muhasabah diri bukan sebagai alat untuk menghakimi orang lain. Sebab, yang paling membutuhkan perbaikan adalah hati kita sendiri. Selanjutnya adalah kembali meneladani Nabi Saw. Beliau manusia paling mulia, paling banyak ibadahnya, tapi paling tawadhu.

Di antara kunci tawadhu adalah mengingat bahwa semua nikmat termasuk hidayah salat adalah pemberian Allah. Kita tidak tahu akhir hidup seseorang. Bisa jadi ahli maksiat yang kita hina, mati dalam keadaan husnul khatimah. Dan penilai amal hanyalah Allah. “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” QS. An-Najm ayat 32. Wallahu a’lam bis-sawab. Semoga bermanfaat!