Kamis, 03 September 2026

SEBERAPA DEKAT KITA DENGAN AL-QUR’AN?

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

Ada sebuah pemandangan yang mungkin sering kita lihat, bahkan tanpa kita sadari terjadi pada diri kita sendiri. Dalam sehari, kita mampu berlama-lama memegang telepon genggam, membaca berbagai pesan, menonton video, membuka media sosial, mengikuti berita, bekerja, berbelanja, dan melakukan banyak aktivitas lainnya. Namun, ketika berhadapan dengan al-Qur’an, tiba-tiba kita merasa tidak memiliki waktu. Kita berkata, “Nanti saja kalau sudah senggang.”

Al-Qur’an bukanlah buku biasa. Ia adalah kalamullah, firman Allah Swt. yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui Malaikat Jibril a.s. untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Karena itu, hubungan kita dengan al-Qur’an seharusnya tidak sebatas hubungan antara seseorang dengan sebuah buku. Ada penghormatan, kecintaan, kebutuhan, dan rasa tanggung jawab di dalamnya. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. al-Isra’: 9). Kalau kita benar-benar meyakini bahwa al-Qur’an adalah petunjuk menuju jalan yang lurus, lalu bagaimana mungkin kita ingin menemukan jalan kehidupan tanpa pernah membuka petunjuknya?

Selain petunjuk kehidupan, ada banyak keutamaan yang sangat besar bagi siapa yang dekat dengan al-Qur’an. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud r.a. Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa ‘Alif Lam Mim’ itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2910).


Betapa Beratnya Perjuangan Rasulullah Saw. Ketika Menerima Wahyu Al-Qur’an

Al-Qur’an sesungguhnya membawa sebuah amanat yang sangat besar. Amanat itu sampai kepada kita melalui manusia pilihan Allah, Nabi Agung Muhammad Saw. Bayangkan betapa beratnya perjuangan Rasulullah Saw. ketika menerima wahyu. Wahyu bukan sesuatu yang ringan. Dalam sejarah disebutkan bahwa terkadang Rasulullah Saw. mengalami keadaan yang sangat berat ketika wahyu turun. Keringat beliau bercucuran meskipun pada hari yang dingin. Setelah menerima wahyu, beliau kemudian menyampaikannya kepada para sahabat, mengajarkannya, menjaganya, dan memperjuangkannya dengan penuh pengorbanan.

Para sahabat mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an dengan penuh perhatian. Sebagian dari mereka bahkan rela menghadapi ancaman, penyiksaan, pengusiran, dan berbagai kesulitan demi mempertahankan iman kepada kitab Allah. Sedangkan kita hari ini mendapatkan al-Qur’an dalam bentuk mushaf yang sudah tersusun rapi. Kita tidak perlu mencarinya di padang pasir, tidak perlu menunggu perjalanan panjang, bahkan tidak perlu menunggu seorang guru datang membacakan wahyu kepada kita. Mushaf itu sudah ada di rumah kita. Al-Qur’an bahkan tersedia dalam genggaman melalui perangkat yang hampir selalu kita bawa ke mana-mana. Lalu alasan apa lagi yang membuat kita begitu jauh darinya?

Sering kali masalahnya bukan benar-benar karena kita tidak mempunyai waktu, tetapi karena al-Qur’an belum menjadi prioritas dalam hidup kita. Untuk sesuatu yang kita anggap penting, kita selalu menemukan waktu. Kita bisa bangun lebih awal untuk bekerja, menunggu berjam-jam untuk sesuatu yang kita sukai, atau menghabiskan waktu untuk hiburan. Tetapi beberapa menit membaca al-Qur’an terasa berat. Padahal kita tidak selalu dituntut membacanya berlembar-lembar.

Lalu apa yang kita dapatkan dari al-Qur’an? Salah satu kabar yang sangat menggembirakan bagi orang beriman adalah bahwa al-Qur’an akan menjadi syafaat bagi orang-orang yang membacanya. Rasulullah Saw. bersabda, “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim).

Namun, hubungan kedekatan kita dengan al-Qur’an teruslah kita pupuk, hingga hubungan itu lahir dari cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah Saw. Ketika seseorang mencintai Allah, ia akan senang mendengar firman-Nya. Ketika seseorang mencintai Rasulullah Saw., ia akan menghormati amanat yang beliau perjuangkan.

Mungkin hari ini kita merasa terlalu sibuk dan benar-benar sulit bahkan enggan untuk membuka al-Qur’an, hingga suatu saat nanti tiba, ketika kehidupan dunia benar-benar berakhir, kita akan menyadari bahwa banyak kesibukan yang dahulu kita anggap penting ternyata tidak sepenting yang kita kira.

Mari kita buka al-Qur’an. Membacanya walau hanya beberapa ayat. Karena boleh jadi, ayat yang kita baca akan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan kita ketika kelak tidak ada lagi yang dapat kita andalkan selain rahmat Allah Swt. dan amal yang kita bawa menghadap-Nya. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis-sawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar