Oleh
Mujianto, M.Pd.
Ada
sebuah pemandangan yang mungkin sering kita lihat, bahkan tanpa kita sadari
terjadi pada diri kita sendiri. Dalam sehari, kita mampu berlama-lama memegang
telepon genggam, membaca berbagai pesan, menonton video, membuka media sosial,
mengikuti berita, bekerja, berbelanja, dan melakukan banyak aktivitas lainnya.
Namun, ketika berhadapan dengan al-Qur’an, tiba-tiba kita merasa tidak memiliki
waktu. Kita berkata, “Nanti saja kalau sudah senggang.”
Al-Qur’an
bukanlah buku biasa. Ia adalah kalamullah, firman Allah Swt. yang diwahyukan
kepada Nabi Muhammad Saw. melalui Malaikat Jibril a.s. untuk disampaikan kepada
seluruh umat manusia. Karena itu, hubungan kita dengan al-Qur’an seharusnya
tidak sebatas hubungan antara seseorang dengan sebuah buku. Ada penghormatan,
kecintaan, kebutuhan, dan rasa tanggung jawab di dalamnya. Allah Swt.
berfirman, “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang
paling lurus.” (QS. al-Isra’: 9). Kalau kita benar-benar meyakini bahwa
al-Qur’an adalah petunjuk menuju jalan yang lurus, lalu bagaimana mungkin kita
ingin menemukan jalan kehidupan tanpa pernah membuka petunjuknya?
Selain petunjuk kehidupan, ada banyak keutamaan yang sangat besar bagi siapa yang dekat dengan al-Qur’an. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas‘ud r.a. Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa ‘Alif Lam Mim’ itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2910).
Betapa
Beratnya Perjuangan Rasulullah Saw. Ketika Menerima Wahyu Al-Qur’an
Al-Qur’an sesungguhnya membawa sebuah amanat yang sangat besar.
Amanat itu sampai kepada kita melalui manusia pilihan Allah, Nabi Agung
Muhammad Saw. Bayangkan betapa beratnya perjuangan
Rasulullah Saw. ketika menerima wahyu. Wahyu bukan sesuatu yang ringan.
Dalam sejarah disebutkan bahwa terkadang Rasulullah Saw. mengalami keadaan yang
sangat berat ketika wahyu turun. Keringat beliau bercucuran meskipun pada hari
yang dingin. Setelah menerima wahyu, beliau kemudian menyampaikannya kepada
para sahabat, mengajarkannya, menjaganya, dan memperjuangkannya dengan penuh
pengorbanan.
Para
sahabat mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an dengan penuh perhatian. Sebagian dari
mereka bahkan rela menghadapi ancaman, penyiksaan, pengusiran, dan berbagai
kesulitan demi mempertahankan iman kepada kitab Allah. Sedangkan kita hari ini
mendapatkan al-Qur’an dalam bentuk mushaf yang sudah tersusun rapi. Kita tidak
perlu mencarinya di padang pasir, tidak perlu menunggu perjalanan panjang,
bahkan tidak perlu menunggu seorang guru datang membacakan wahyu kepada kita. Mushaf
itu sudah ada di rumah kita. Al-Qur’an bahkan tersedia dalam genggaman melalui
perangkat yang hampir selalu kita bawa ke mana-mana. Lalu alasan apa lagi
yang membuat kita begitu jauh darinya?
Sering
kali masalahnya bukan benar-benar karena kita tidak mempunyai waktu, tetapi
karena al-Qur’an belum menjadi prioritas dalam hidup kita. Untuk sesuatu
yang kita anggap penting, kita selalu menemukan waktu. Kita bisa bangun lebih
awal untuk bekerja, menunggu berjam-jam untuk sesuatu yang kita sukai, atau
menghabiskan waktu untuk hiburan. Tetapi beberapa menit membaca al-Qur’an terasa
berat. Padahal kita tidak selalu dituntut membacanya berlembar-lembar.
Lalu
apa yang kita dapatkan dari al-Qur’an? Salah satu kabar yang sangat
menggembirakan bagi orang beriman adalah bahwa al-Qur’an akan menjadi syafaat
bagi orang-orang yang membacanya. Rasulullah Saw. bersabda, “Bacalah al-Qur’an,
karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat
bagi para pembacanya.” (HR. Muslim).
Namun,
hubungan kedekatan kita dengan al-Qur’an teruslah kita pupuk, hingga hubungan
itu lahir dari cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah Saw.
Ketika seseorang mencintai Allah, ia akan senang mendengar firman-Nya. Ketika
seseorang mencintai Rasulullah Saw., ia akan menghormati amanat yang beliau
perjuangkan.
Mungkin
hari ini kita merasa terlalu sibuk dan benar-benar sulit bahkan enggan untuk
membuka al-Qur’an, hingga suatu saat nanti tiba, ketika kehidupan dunia
benar-benar berakhir, kita akan menyadari bahwa banyak kesibukan yang dahulu
kita anggap penting ternyata tidak sepenting yang kita kira.
Mari kita buka al-Qur’an. Membacanya walau hanya beberapa ayat. Karena boleh jadi, ayat yang kita baca akan menjadi cahaya yang
menerangi perjalanan kita ketika kelak tidak ada lagi yang dapat kita andalkan
selain rahmat Allah Swt. dan amal yang kita bawa menghadap-Nya. Semoga
bermanfaat. Wallahu a’lam bis-sawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar