Senin, 12 Agustus 2024

WAKTUMU BERHARGA

 



Oleh Mujianto, M.Pd. 


“Tidak akan pernah kembali waktu yang telah berlalu”

(Maqalah)


         Setiap dari kita memiliki waktu yang sama. Yaitu 24 jam dalam satu hari. Semua orang mengetahui hal itu, tapi tidak semua orang bisa menggunakan waktunya dengan baik. 

                Kita kadang tersadar betapa berharganya waktu saat kita dihadapkan pada permasalahan yang sulit. Seperti tugas pekerjaan yang menumpuk, memersiapkan momen ujian, berbagi waktu antara pekerjaan dengan keluarga, apalagi kalau ada yang dirawat di rumah sakit, dll.

       Kajian tentang memanfaatkan waktu sudah sering kita dengar. Allah SWT. pun sudah mengingatkan dalam al-Qur’an surat al-Asr. Apabila waktu tidak digunakan dengan baik, maka seseorang itu akan mengalami kerugian dan celaka nantinya.

  Orang cerdas pasti akan mampu mengatur dan menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Karena bagi mereka waktu bisa mengantarkan ke jalan kesuksesan, jika ia bisa mengendalikan dan mengisinya dengan suatu yang produktif.

 

Bersahabat dengan Waktu

            Layaknya sahabat, waktu sangat kita perhatikan, tidak jauh, selalu dekat dan membantu kita dalam kebaikan. Ada beberapa cara agar kita senantiasa bersahabat dengan waktu. Pertama,  genggam dan ajaklah waktu untuk menemani mencapai tujuan dan impian hidup kita. Setiap kali kita menggunakan waktu dengan efektif, kita melangkah lebih dekat ke arah impian hidup kita. Kedua, waktu adalah sarana pengembangan diri. Dalam 24 jam sehari, kita dapat meningkatkan kompetensi dan nilai kita. Baik dalam karir maupun kehidupan pribadi. Seperti belajar keterampilan baru, membaca buku, kursus dll. Ketiga, menambah kualitas hidup lebih baik. Kualitas hidup seseorang bisa dilihat dari cara mengatur waktu. Waktu untuk keluarga, pekerjaan, rekreasi, juga bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Keempat, menjaga kesehatan. Kesehatan adalah energi untuk mencapai tujuan. Kita bisa menjaganya dengan olahraga rutin, istirahat yang cukup dan tidur yang berkualitas.

            Tulisan singkat ini saya tutup dengan ungkapan yang sudah populer tentang berharganya sebuah waktu dan gambaran seberapa meruginya sebuah keterlambatan.

“Jika kamu ingin tahu betapa berharganya 1 menit waktu, bertanyalah pada seseorang yang hampir tertinggal keberangkatan pesawatnya.”

“Jika kamu ingin tahu betapa berharganya 1 detik waktu, bertanyalah pada seseorang yang selamat dari kecelakaannya.”

“Jika kamu ingin tahu betapa berharganya 1 milidetik waktu, bertanyalah pada seorang atlet yang memenangkan perlombaan larinya.” Semoga bermanfaat. 


Surabaya, 13 Agustus 2024

 

Senin, 22 Juli 2024

Hakikat Kerjasama

 



Oleh: Mujianto, M.Pd.

 

Sering kita melihat suatu kegiatan sukses dilaksanakan, lembaga berhasil menjalankan programnya, ataupun perusahaan semakin maju perkembangannya. Kita pun berasumsi bahwa keberhasilan dan kesuksesan tersebut karena hasil dari kumpulan atau kerjasama banyak pihak atau stakeholder di manajemen tersebut. Apakah ya seperti itu? Jawabannya belum tentu.

Dalam praktiknya kadangkala kesuksesan suatu tim tidak dari banyak unsur. Namun, dari satu atau dua unsur yang nampak berperan lebih, sehingga berpengaruh dalam kesuksesan tim. Namun, demi terkesan bijak, maka disampaikanlah, bahwa keberhasilan itu karena kerjasama banyak pihak.  

Menurut KBBI, kerjasama adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang (lembaga, pemerintah, dan sebagainya) untuk mencapai tujuan bersama.

Menurut Prof. Dr. Rachmat Hidajat, kerjasama merupakan suatu proses saling membantu dan bekerjasama melalui pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.

Melihat dari definisi di atas, dapat diambil kesimpulan, bahwa kerjasama adalah suksesnya dan terjalankannya masing-masing tugas yang sudah terbagi. Istilah lainnya, tupoksi masing-masing anggota tim sudah dikerjakan. Sehingga kalau ada satu, dua bahkan lebih anggota tim yang belum melaksanakan tupoksinya, maka keberhasilan tim itu hakikatnya bukan dari kerjasama, tapi karena ada unsur yang dominan, sehingga keberhasilan tetap menghampiri. Yang lain bisa dikatakan hanya nunut atau penggembira karena tidak berpengaruh bahkan mengurangi keberhasilan.

            Ada ilustrasi sederhana yang mendukung gambaran kesimpulan di atas, yaitu sebuah tim sepak bola. Tim sepak bola sudah tersusun beberapa bagian dengan tugasnya masing-masing. Seperti pelatih dengan kemampuan meracik dan strategi mengolah tim, penyerang dengan naluri mencetak golnya, penjaga gawang dengan kemampuan menjaga gawangnya, begitu juga dengan pemain tengah, pemain belakang dll. Bila kerjasama terjadi, setiap unsur menjalankan tugasnya dengan maksimal. Betapa luar biasanya tim ini.

Namun, tidak bisa dipungkiri keberhasilan tim sepak bola ini akan tetap datang, walau ada unsur yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Seperti pelatihnya tidak hebat, tetapi karena pemainnya cerdas, sehingga di lapangan dapat mengambil tindakan yang tepat. Begitu juga ketika penyerang tidak bisa menjebolkan gawang lawan, tetapi karena penjaga gawang timnya sendiri ini hebat, sehingga tidak kebobolan. Maka kekalahan tim ini pun tidak terjadi.

Sobat, itulah hakikat kerjasama. Dibangun dari kumpulan kerja masing-masing individu yang sungguh-sungguh mengerjakan tugasnya, bukan dimaknai seperti halnya gotong-royong. Dengan demikian, kita harus ambil bagian. Tentunya dengan menjalankan peran kita dengan sebaik mungkin. Kita tidak tega melihat teman kita berjuang sendirian. Kita pun tentu tetap ingin disebut pemain, bukan penonton.

Allah SWT. berfirman di dalam surat at-Taubah ayat 105 “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” Semoga bermanfaat!

Surabaya, 22 Juli 2024

 

Senin, 10 Juni 2024

Benarkah Akhlak Lebih Tinggi dari Ilmu?

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

 

            Banyak quotes atau kata mutiara yang dikemas dalam poster tersebar di medsos yang isinya membandingkan posisi ilmu dan akhlak. Juga nitizen yang ikut menanggapi sebuah unggahan video di medsos dengan ungkapan yang sama tentang perangai seseorang yang dilihatnya tidak baik. Lalu berkomentar, kurang lebih seperti ini, “Akhlak lebih tinggi dari Ilmu.”

Penulis tertarik membuat catatan. Karena perlu dipahami secara mendalam dulu. Apa itu akhlak? Apakah akhlak tidak bagian dari suatu ilmu? Apakah orang yang berakhlak tidak membutuhkan ilmunya ? Lalu, apakah akhlak hanya diartikan sebatas sopan dan santun? Dengan demikian, posisi ilmu ada dimana? Hal ini, menarik sekali untuk dibincangkan.

Akhlak yang sudah kita ketahui, terbagi menjadi dua. Akhlak mahmudah (terpuji), dan akhlak madzmumah (tercela). Akhlak terpuji cakupannya begitu luas, di antaranya meliputi sifat jujur, amanah, adil, dermawan, gigih, bijaksana, rela berkorban, sopan, santun, dll. Menurut Prof. Dr. M. Zainuddin, MA., guru besar bidang Sosiologi Agama UIN Maulana Malik Ibrahim, “Output pendidikan tercermin dari akhlak seseorang. Kata akhlak di sini sering diartikan secara sempit. Orang-orang memahami akhlak sebatas sopan santun. Padahal, akhlak karimah itu mencakup berbagai kebajikan.”

Akhlak Tidak Sebatas Sopan dan Santun

            Pasti kita semua punya sosok idola. Kita mengidolakan sosok tersebut salah satunya karena kesantunan dan kesopanannya. Bisa sosok kepala daerah, seorang ustaz atau bahkan artis. Kita sering melihat di layar kaca atau secara langsung dalam suatu kesempatan. Mungkin ada yang sangat berlebihan mengagumi idolanya, hingga mengabaikan bahkan menjatuhkan sosok lain karena dianggap “tidak lebih” dari sosok idolanya.  

Namun, beberapa waktu kemudian, kita pun dibuat tercengang. Yang kita idolakan itu, yang tampak santun itu, yang lembut tutur katannya itu, ternyata masuk jeruji besi, ada yang terbukti korupsi, kekerasan, menipu banyak orang dsb. Kita pun dibuat kecewa. Tidak mengira. Ternyata kesantunannya selama ini, hanya sebagai kedok atas kejahatan dan kepentingannya pribadi. Kita pun melihat sang idola di layar kaca masih tampak santun, wajah menunduk dengan tangan terborgol dan memakai baju tahanan.

Pertanyaannya, sebagai intropeksi, bolehkah kita menyalahkan diri sendiri sebagai muhasabah? Jawabannya sangat boleh. Bahkan harus. Karena dengan pemahaman sempit kita tentang makna sebuah akhlak, kita merendahkan atau su’udzon kepada sosok-sosok lain yang tidak sebanding dengan idola kita itu.

Akhlak Melekat pada Tanggung Jawab

Akhlak melekat pada tanggung jawab seseorang. Mungkin dari kita pernah dinasihati dengan suara tegas atau bahkan “dipukul” oleh ayah kita, karena tidak salat. Apakah kita menganggap ayah kita tidak berakhlak? Tentu, kita tidak berani menganggap seperti itu. Karena memang ilmu dan tanggung jawabnnya seperti itu. Orang tua menasihati anaknya dengan nada tegas karena sebelumnya dengan nada lirih tidak digubris. Dan orang tua boleh “memukul” anaknya yang tidak salat ketika tiba usia 10 tahun.

Setiap individu manusia yang masih hidup di dunia mempunyai peran dan tanggung jawab masing-masing. Allah Swt. menyebut kita semua adalah khalifah fil-ard. (pemimpin di muka bumi). Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Maka dari itu setiap pemimpin dalam menjalankan perannya harus berdasarkan ilmu. Dengan ilmu itu, kita akan berhasil dalam menjalankan peran kita dan siap mempertanggunjawabkan di hadapan Allah Swt.

Barometer seseorang dikatakan berakhlak bisa dilihat dari kesungguhan dalam menjalankan tanggung jawabnya, karena orang sukses yang sebenarnya dalam menjalankan perannya pasti dibarengi dengan ilmu. Dan di dalam ilmu itu ada bagian mengajarkan tatanan akhlak yang baik.

Kita ambil salah satu contoh, yaitu peran guru. Siapa pun yang menjalankan peran guru, jika mau sukses yang sebenarnya harus tahu ilmunya. Dan di dalam ilmu itu pasti ada bagian yang mengatur tentang unsur akhlaknya. Di kampus calon sarjana guru akan mempelajari mata kuliah dasar-dasar pendidikan, teori belajar, filsafat pendidikan, bimbingan konseling, hingga psikologi pendidikan. Yang di jurusan tarbiyah ada tambahan ilmu akhlak,dan metode pendidikan agama Islam. Di kalangan santri ada kitab yang sudah masyhur salah satunya yaitu Ta’limul muta’allim yang memberikan panduan bagi guru dan murid agar sukses dalam menjalankan perannya.

Tidak hanya peran guru, semua peran profesi, atau tanggung jawab dengan tujuan baik pasti mengedepankan cara dan akhlak yang baik. dan semua harus dicari ilmunya. Akhlak tidak bisa dipisahkan dari ilmu. Ilmu dan akhlak selalu beriringan. Akhlak yang baik bersumber dari ilmu yang baik. Sabda Rasulullullah Saw. yang selalu terngiang. Barang siapa mencari dunia maka dengan ilmu, barang siapa mencari akhirat maka dengan ilmu. Dan barang siapa mencari keduanya, maka dengan ilmu pula.

Tulisan sederhana ini hanya untuk mengurai wawasan dan membawa pesan kepada diri pribadi. Pesan pertama, semoga penulis tidak mudah berburuk sangka mengatakan seseorang kurang berakhlak dsb. hanya melihat tampilan luarnya saja. Ketika kita mendengar orang berkata kotor pada dasarnya ia kurang ilmu. Seperti anak kecil lewat di depan orang tua tanpa membungkuk. Apakah anak itu tidak berakhlak? Mungkin lebih tepatnya, bisa kita katakan, anak itu belum tahu ilmunya. Pesan kedua, menuntut ilmu tidak boleh berhenti hingga akhir hayat. Baginda Nabi Saw berpesan dalam hadisnya, yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.” 

Ilmu dan akhlak berjalan beriringan. Keduanya adalah bekal utama khalifah fil-ard yang rahmatan lil ‘aalamiin. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat!

                                                                                                Waru, 11 Juni 2024


Selasa, 19 Desember 2023

SEBAIK-BAIK MASA DEPAN

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Sudah satu tahun saya membina majelis belajar al-Qur’an di suatu perumahan yang pesertanya adalah para pensiunan. Ada yang dulunya kepala cabang bank, fisioterapis, dosen, nahkoda kapal dan pengusaha. Yang menarik dan membuat saya bertanya. Apa motivasi mereka belajar al-Qur’an? Mereka menjawab, ingin mempunyai bekal menghadap Sang Khaliq, dan mereka seperti merasa ada penyesalan karena selama ini hanya sibuk dengan urusan dunia.

Saya merasa beruntung, selain mengajarkan al-Qur’an saya juga mendapatkan momen untuk bisa belajar dari beliau-beliau. Belajar tentang kehidupan secara luas. Mereka rata-rata usia 70 tahun ke atas. Saya mendengar dan melihat sendiri aset yang mereka punyai, serta cerita kesuksesan yang sudah diraih diprofesinya masing-masing. Tentu, mereka sudah mengalami jatuh-bangun, dan merasakan manis-pahitnya kehidupan. Ada yang bercerita di sela-sela belajar, merasa hidupnya saat itu siang malam digunakan hanya untuk urusan harta dunia. Dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan al-Qur’an.

Tugas saya tidak mudah, tidak hanya terpaku pada mengajarkan membaca al-Qur’an saja, tetapi bagaimana terus bisa menjaga semangat mereka, agar tidak putus karena sulitnya belajar al-Qur'an di usia senja. Memang, al-Qur’an adalah salah satu bekal terbaik menghadap Sang Khaliq. Ahlul Qur’an adalah keluarga Allah. Ketika seseorang menjadi keluarga Allah, maka akan dijaga oleh Allah dan kebutuhannya akan terpenuhi. Ahlul Qur’an adalah orang yang senantiasa berinteraksi dan mengamalkan isi al-Qur’an. Salah satu bentuk interaksi dengan al-Qur’an adalah orang yang belajar dan senantiasa membaca al-Qur’an.

Saya pribadi, mendapatkan pelajaran berharga, dan menjadi sebuah pengingat yang selalu melekat, bahwa sebaik-baik tujuan adalah Allah SWT., dan sebaik-baik masa depan adalah surga. Selama kita menjadikan Allah SWT. sebagai tujuan, maka kita sedang berada di jalan yang tepat.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imron: 185)

Mengutip dari dawuh gus Baha, "Dunia itu penting. Lebih penting daripada akhirat." Maksudnya adalah kehidupan kita di akhirat adalah efek dari kehidupan kita di dunia. Jangan sampai kita gagal hidup di dunia dengan tidak membawa bekal dan prestasi ibadah untuk kehidupan akhirat yang kekal. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat!

                                                          Semolowaru, 20 Desember 2023

 

 

 

 


Jumat, 25 November 2022

Puisi Cinta untuk Muridku di Hari Guru


 

                             Oleh Mujianto, M.Pd.

Detak jarum jam kian terasa
Diri ini hadir sejak mentari menyapa
ah... itu kadang menjadi tabir
Yang kami buat sendiri

Muridku, percayalah, pendidikan bukan soal selesainya bertemu dirimu
Keringat ini berkah kehidupan
Kemanfaatanmu adalah harapan

Muridku, diri ini sadar
Ilmu terus berkembang
Kemajuan selalu mengejar
Karena kenyamanan, diri ini sering takut pada perubahan

Muridku, maafkan gurumu
Kadang diri ini lebih cekatan, dan tertantang
Saat bertemu dengan makhluk pemberkasan
Merangkul selimut kehangatan

Di hari ini, memang sebagian guru sedang bahagia
Ada buah tangan
Ucapan selamat pun datang bergantian
Bagai superhero menyelesaikan misi peperangan
Namun, bukan itu yang guru rindukan

Muridku, ada hal yang selalu diri ini panjatkan
Nanti, lima belas atau dua puluh tahun yang akan datang
Gurumu ini ingin melihat dirimu lebih matang, sukses, bahagia terbalut akhlak kemuliaan

Muridku, Jadilah engkau permata
Kelak menjadi pemberat di Yaumul Mizan
Di sana, dirimu menyambut, memeluk kami, seraya berbisik, "Guru, terima uluran tangan kami, tempatmu di sini, masuklah ke surga bersama kami."

Selamat Hari Guru
Semolowaru, 25 November 2022

Kamis, 20 Mei 2021

Setelah Ramadan, dan Idul Fitri, Apa yang Kita Lakukan?

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Sengaja saya memakai judul di atas, agar semakin terngiang di kepala. Ada tugas besar bahwa makna Ramadan dan Idul Fitri harus membekas pada diri kita, dan orang-orang di sekitar kita pun ikut bahagia karena merasakan perubahan kita semakin lebih baik.

Sebelum Ramadan datang, kita selalu menantinya dengan penuh kerinduan. Setelah ia pergi meninggalkan, kita tetap melestarikan kebaikan dan ibadah di luar Ramadan. Jangan lagi memaknai Ramadan sekadar bulan menahan lapar dan haus. Pengertian itu sudah lewat. Itu makna dulu ketika kita masih belajar berpuasa. Orang dengan usia dua puluh atau bahkan lima puluh tahun saat ini, tentu sudah mampu memaknai Ramadan lebih dari itu.

Kesempatan bertemu bulan Ramadan adalah rezeki yang tidak terhingga. Apabila kita beramal dengan baik selama Ramadan, marilah kita pertahankan dan tingkatkan setelahnya. Namun, jika kita termasuk orang-orang yang lalai dalam kewajiban dan menjauhi larangan selama Ramadan, mari segerakan diri kita bersimpuh, memohon ampun, sebelum menyesal. Seperti penyesalan seseorang yang di depannya diperlihatkan azab, dan ia mengatakan: “Seandaianya aku dapat kembali ke dunia, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Az-Zumar: 58).

Melestarikan Spirit Idul Fitri

            Banyak versi terjemahan kata Idul Fitri (id dan al-Fithr) di dalam masyarakat. Menurut kamus bahasa Arab, kata Idul Fitri (‘id al-fithr) berarti kembali berbuka setelah sebulan penuh berpuasa di siang hari bulan Ramadan. Bisa juga berarti ‘id al-fithrah, kembali ke sifat bawaan ketika lahir. Yaitu bersih, dan suci setelah sebulan penuh ditempa berbagai amalan Ramadan.

            Dari pengertian di atas, kita berharap termasuk orang yang beridul fitri. Kita kembali ke fithrah, jati diri yang paling murni. Selanjutnya muncul pertanyaan, siapakah orang yang beridul fitri itu? Yaitu mereka yang telah melakukan berbagai upaya pembersian dan penyucian diri melalui amaliah-amaliah di momen Ramadan.

            Ramadan baginya menjadi mega training spiritual. Selain menimbulkan semangat perubahan diri, juga memiliki energi spiritual baru yang mampu memproteksi diri dari berbagai penyakit hati, dan dosa-dosa yang biasa terkoleksi.

            Dampak dari orang yang kembali fitrah, terlihat dari orang-orang sekitar yang ikut merasakan perubahannya. Sebuah contoh, Seorang pimpinan perusahaan atau lembaga yang sebelumnya dirasakan oleh bawahan, karyawan, satpam, hingga OB-nya mudah marah, sombong, dan angkuh sehingga membuat orang tidak betah, kini berubah menjadi murah senyum, rendah hati, dan ramah, sehingga bisa dijadikan teladan dalam bekerja. Suasana batin di tempat kerja pun berubah, karena semua merasa bahagia dan mampu bekerja sesuai tanggung jawab masing-masing, tanpa tendensi.

            Kalau Idul Fitri kita sebut sebagai hari raya kemenangan, sedangkan kita tidak tampak perubahan sebagai mana fitrah sejati manusia, maka kemenangan itu tidak akan ada. Kita tetap dalam kekalahan. Ibarat pejuang yang telah menang melawan penjajah, maka tampak perubahan kehidupan yang aman dan lebih sejahtera. Tugas selanjutnya adalah mempertahankan kemenangan itu.

Inilah yang disebut Ramadan berkah, Ramadan mabrur, seraya membuka pintu kemenangan sambil berucap dengan untaian doa dan maaf setulus hati, minal a’idin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Wallahu a’lam.

Sabtu, 01 Mei 2021

Ramadan, Keluarga, dan Takwa

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

            Ramadan kali ini masih sama seperti tahun lalu. Kemeriahan masih ragu-ragu ditampakkan. Walaupun seperti itu, di tengah pandemi Covid-19 yang masih menghantui, keceriaan dan semangat mengisi bulan Ramadan tidak boleh pudar. Ya, ibadah Ramadan di rumah saja bersama keluarga.

            Ramadan adalah momentum yang luar biasa. Bulan ibadah dan perubahan diri menjadi lebih baik. Bulan yang mengajarkan umat Islam untuk memperbaiki hubungannya dengan Tuhan Sang Pencipta dan hubungan sesama manusia. Manusia diajarkan semakin dekat dengan Allah SWT. dan menumbuhkan empati serta kepekaan sosial di dalam kehidupan bermasyarakat.

            Namun, yang menjadi pertanyaan. Di tengah pandemi saat ini, mampukah rumah menjadi sarana agar hikmah Ramadan bisa tercapai? Mampukah keluarga di rumah menjadi penuntun membentuk pribadi yang bertakwa?

            Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Yang pertama, memaknai keluarga benar-benar sebagai institusi pendidikan. Dahulu dan sampai sekarang keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama dalam mengembangkan kepribadian anak.

Pada Ramadan ini, kesempatan untuk berkumpul bersama lebih besar. Anggota keluarga menjalankan ibadah bersama di rumah. Setiap anggota keluarga mengambil peran untuk kesuksesan dan mencapai tujuan bersama. Sang ayah belajar menjadi imam salat yang baik, begitu juga dengan anggota keluarga yang lain belajar menjadi makmum yang baik. Kegiatan ibadah di bulan Ramadan begitu mudah dijalankan karena anggota saling mendukung dan menguatkan.

Sejalan dengan firman Allah SWT. pada surah at-Tahrim ayat 6 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …” Ayat ini menjadi motivasi khususnya bagi sang ayah agar mengajari dan mendidik anggota keluarganya menuju pemahaman Islam yang benar.

Yang kedua, memaknai keluarga sebagai medan rekreasi. Keluarga sebagai tempat refreshing bagi anggotanya untuk memperoleh afeksi, ketenangan, dan kegembiraan. Ibadah Ramadan bersama keluarga, tidak hanya memberikan kesegaran jasmani, dan kejernihan hati, tapi juga mengembalikan nilai keharmonisan keluarga. Selama Ramadan anggota keluarga bisa melakukan kegiatan sesuai hobinya. Anak-anak bisa diajak ke pengalaman baru. Seperti, menyiapkan makan sahur atau berbuka bersama.

Yang ketiga, memaknai keluarga sebagai sumber komitmen. Ramadan di rumah saja memunculkan komitmen baru. Anggota keluarga beriktikad akan lebih baik dari waktu-waktu yang lalu. Berusaha istikamah bahkan meningkatkannya. Kedatangan bulan penuh berkah ini benar-benar menjadi kesempatan besar untuk meraih ketakwaan kepada Allah SWT. Jika Ramadan sebelum pandemi pengaruh lingkungan begitu besar terhadap motivasi dalam beribadah, kali ini tidak. Semangat itu lebih kuat karena tumbuh dari diri sendiri dan keluarga.

Ramadan tahun ini jangan hanya dipandang tidak biasa. Sebagai insan yang baik, akan memahami bahwa tidak ada sesuatu peristiwa yang bersifat kebetulan. Ada makna dan hikmah tersembunyi yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Bergantung kita mampu atau tidak menggapainya. Yuk, menjalankan puasa Ramadan dengan tetap ceria walau di rumah aja!