Rabu, 21 Mei 2025

KEMATANGAN EMOSI

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

 

“Dan sesungguhnya, Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”

(QS. An Najm : 43)

 

Emosi adalah inti dari pengalaman manusia yang paling mendasar, berperan sebagai jembatan antara pikiran, tubuh, dan lingkungan sosial. Setiap emosi mengandung informasi penting yang membantu individu menafsirkan situasi dan membuat keputusan yang adaptif. Misalnya, rasa cemas bisa menjadi sinyal akan adanya ancaman yang perlu diantisipasi, sementara rasa bahagia bisa menjadi petanda Tindakan seseorang diterima oleh orang di sekitarnya atau ia sedang menerima sesuatu yang disenangi.

Emosi bukanlah sesuatu yang statis atau tunggal, ia sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup, budaya, dan konteks sosial. Cara seseorang mengekspresikan atau mengelola emosi sering kali mencerminkan nilai-nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya.

 

Kematangan Emosi Tidak Berbanding Lurus dengan Tingkatan Usia

Kematangan emosi sering kali dikaitkan dengan usia. Semakin tua seseorang, semakin bijak ia dianggap. Namun kenyataannya, usia tidak selalu berjalan seiring dengan kedewasaan emosional. Ada orang muda yang mampu bersikap tenang dan dewasa menghadapi konflik, sementara ada pula yang sudah berumur namun masih reaktif dan egois. Ini membuktikan bahwa kematangan emosi bisa dicapai lebih cepat, asalkan seseorang secara sadar mau belajar dan mengembangkan dirinya.

Menurut Elizabeth Bergner Hurlock dalam buku Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, kematangan emosi adalah hasil dari proses perkembangan yang ditandai dengan kemampuan untuk bertindak secara realistis, stabil secara emosional, serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan secara fleksibel.

Kunci utama dalam mempercepat kematangan emosi adalah kesadaran diri (self-awareness). Seseorang yang mau mengenali pola pikir dan perasaan pribadinya lebih terbuka terhadap refleksi dan perubahan. Ini bisa dimulai dari hal sederhana seperti mencatat emosi harian, menyadari reaksi terhadap stres, hingga bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang bisa saya pelajari dari situasi ini?” Kesadaran ini membuat seseorang lebih mampu mengelola emosinya secara dewasa, meskipun usianya masih muda.

Kematangan emosi bukan hasil dari jumlah berapa kali ulang tahun yang dirayakan, tapi dari kesediaan untuk terus belajar, berintrospeksi, dan membuka diri terhadap pengalaman hidup. Kita tidak harus menunggu tua untuk menjadi dewasa secara emosional.

Lingkungan juga berperan penting. Mereka yang tumbuh dalam keluarga atau komunitas yang mendukung komunikasi terbuka, menghargai perbedaan, dan memberi ruang untuk belajar dari kesalahan, cenderung lebih cepat berkembang secara emosional. Di sisi lain, pengalaman sulit seperti menghadapi kegagalan, konflik, atau kehilangan, bila direspon dengan sikap terbuka dan reflektif, juga bisa menjadi pemicu percepatan kematangan emosi. Pengalaman-pengalaman ini memperkaya sudut pandang dan melatih ketahanan batin.

 

Melihat Masalah dari Sudut Pandang yang Beragam

Anak muda yang mudah berempati dan terbiasa melihat dunia dari sudut pandang orang lain akan lebih mudah mengembangkan sensitivitas sosial. Ini memperkaya interaksi dan menjauhkan dari sikap egois. Latihan empati bisa dilakukan melalui membaca, berdiskusi, terlibat dalam kegiatan sosial, atau sekadar mendengarkan tanpa menghakimi. Semakin luas pengalaman sosial yang dimiliki, semakin cepat pula seseorang bisa tumbuh menjadi pribadi yang matang secara emosional.

Membangun kematangan emosi juga menuntut kemampuan untuk mengelola masalah yng datang dan menunda kepuasan. Dalam era digital yang serba instan, kemampuan ini menjadi sebuah kelebihan tersendiri. Melatih disiplin diri, seperti menahan emosi saat marah atau memilih kata-kata dengan hati-hati saat berdiskusi, seseorang mulai membentuk kontrol diri yang kuat. Inilah fondasi dari kedewasaan emosional: bertindak bukan karena emosi sesaat, tapi karena kesadaran nilai dan tujuan jangka panjang.

Siapa pun, secepat mungkin bisa tumbuh lebih dewasa dan matang secara emosional. Melangkah lebih tenang, bijak, dan terkendali, demi membangun hubungan yang lebih sehat dan hidup yang lebih bermakna. Wallahu a’lam

Kamis, 08 Mei 2025

MEMANGKAS KETERBATASAN


Oleh Mujianto, M.Pd.


"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar." (Q.S. Al-Baqarah: 155)

 

Kita pasti pernah merasakan situasi seperti ini, merasa rendah diri karena tidak mempunyai amalan hebat ataupun sebuah karya yang bermanfaat untuk sebuah wasilah menuju impian yang begitu tinggi seperti surga.

Kita pun takjub dan minder melihat orang-orang yang menyumbangkan hartanya dalam jumlah besar, ada yang sudah menyelesaikan hafalan 30 juz al-Qur’an, ada yang telah mempelajari dan hafal ratusan bahkan ribuan hadis, lalu ada yang terlampau baik dengan akhlak dan ilmunya, juga ada yang bertaruh nyawa bersungguh-sungguh berjuang dengan jabatan yang diamanahkan kepadanya. Semua terasa mustahil bagi kita untuk bisa menirunya.

Perjalanan menuju surga bukanlah jalan yang mulus dan bebas hambatan. Ia dipenuhi ujian, dan rintangan. Karakter sebagian manusia dominan akan rasa minder karena merasa banyak keterbatasan pada dirinya. Keterbatasan ini bisa berupa kelemahan diri, kesalahan masa lalu, atau keterbatasan ilmu. Namun, Islam tidak pernah menuntut kesempurnaan, yang dituntut adalah kesungguhan. Maka memangkas keterbatasan bukan berarti menghapuskan semua kekurangan, tetapi mengelolanya agar tidak menjadi alasan untuk menyerah. Keterbatasan justru bisa menjadi ladang pahala ketika dihadapi dengan kesabaran dan tawakal kepada Allah.

Memangkas keterbatasan juga berarti menjadikan kelemahan sebagai peluang untuk mendekat kepada Allah. Ketika merasa tidak mampu, saat itulah hati diajak untuk bersandar penuh kepada-Nya. Allah tidak melihat hasil semata, tapi perjuangan dan keikhlasan dalam proses. Seseorang yang berjalan dengan terseok-seok namun tetap istiqamah, lebih mulia dari mereka yang berhenti meski pernah berlari kencang. Oleh karena itu, tidak perlu menunggu sempurna untuk melangkah menuju surga. Bahkan dalam keterbatasan, Allah telah menyiapkan rahmat dan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang terus berusaha.

Mari kita perhatikan hadis Nabi. “Dari Jabir berkata: Aku mendengar nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak juga aku kecuali karena rahmat dari Allah.” (HR. Muslim).

Surga bukanlah milik mereka yang tidak pernah jatuh, tapi milik mereka yang terus bangkit dan memperbaiki diri. Semangat menuju surga adalah bentuk cinta kepada Allah dan rindu akan kehidupan abadi yang dijanjikan-Nya. Dengan niat yang benar, usaha yang terus diperbarui, dan doa yang tidak putus, setiap langkah kecil akan menjadi saksi besar di hadapan-Nya kelak. Wallahu a’lam.

                        Surabaya, 8 Mei 2025

 

Rabu, 07 Mei 2025

HARTA YANG PALING BERHARGA

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Berbicara tentang harta, sebagian besar orang tertuju pada uang dan aset yang dimiliki. Seperti tanah, bangunan, kendaraan ataupun perhiasan.

Kebanyakan orang berlomba-lomba mencari pekerjaan yang baik dengan gaji yang tinggi, lalu punya ini dan itu, selain agar dikatakan berhasil, juga sebagai bentuk garansi kesuksesan yang diperjuangkan. Hal itu tidak salah, namun jika membuat seseorang menjadikan dunia sebagai poros kehidupan dan harta sebagai faktor kesuksesan yang sesungguhnya tentu itu keliru.

Miskin belum tentu menemui kesengsaraan, kaya pun belum tentu mendapatkan kebahagiaan. Inilah salah satu kenyataan yang sering diabaikan.  

Pemaknaan yang lebih mendalam tentang harta menunjukkan bahwa nilai sejatinya tidak selalu terletak pada hal-hal yang bisa dihitung atau disentuh. Harta sejati bisa berupa waktu, kesehatan, ilmu, keluarga atau hubungan yang bermakna tanpa tendensi dengan orang di sekitar kita.

Dalam kehidupan yang kompetitif ini, banyak orang menyadari bahwa kebahagiaan sejati justru berasal dari hal-hal yang tidak dapat dibeli. Ketika seseorang kehilangan kesehatan atau waktu bersama keluarga, barulah ia menyadari betapa berharganya hal-hal tersebut dibandingkan dengan kekayaan materi.

Dalam konteks spiritual, harta yang berharga adalah kedekatan seseorang dengan Tuhan dan kedamaian batin yang lahir dari kehidupan yang lurus. Banyak ajaran agama menekankan bahwa kekayaan duniawi bersifat fana, sementara amal baik, keikhlasan, dan keimanan adalah bekal sejati yang akan bertahan hingga akhirat. Maka dari itu, pemahaman tentang harta yang berharga membutuhkan refleksi yang jujur, apakah kita mengejar sesuatu yang benar-benar abadi, atau hanya terpaku pada kesenangan sesaat? Dengan memahami hal ini, manusia tidak akan salah dalam melangkah dalam mengisi hari-hari kehidupannya.

Salah satu penyesalan terbesar ketika manusia berada di alam kubur adalah ia baru menyadari bahwa ia tidak membawa apa-apa, tanpa membawa bekal. Harta yang ia usahakan dengan banting tulang tidak berdampak apa-apa untuk kehidupan setelah di dunia.. Yang salah bukan hartanya tetapi orientasi dan penggunaannya. Harta hanya dimaknai sebagai pemuas dahaga dunianya saja, tidak bernilai akhirat.

Pada sudut pandang sebagai orang tua, perlu disadari bahwa aset yang ia butuhkan adalah anak yang salih. Anak yang bekal ilmu agamanya memadai dan akan terus mendoakan orang tuanya. Dengan kesadaran ini, orang tua yang bijak tidak akan terlampau marah dan kecewa jika anak tak berhasil dalam karirnya, atau tidak disebut orang kaya di kampungnya.

Anak salih adalah harta, kesehatan adalah harta, dan waktu yang tersisa ini adalah harta. Janganlah bersedih, berbahagialah selalu untuk menyongsong kehidupan berikutnya!

                        Surabaya, 7 Mei 2025

 

Minggu, 04 Mei 2025

NEPOTISME

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

"Semua kebijakan dapat diukur dengan keadilan."

(Aristoteles)

 

Siapapun orangnya saat punya jabatan, kedudukan tertentu atau kehidupan yang lebih baik pasti punya naluri ingin membantu atau menata kehidupan sanak keluarganya. Seperti memberi pekerjaan, menempatkan posisi yang strategis atau minimal memberi informasi atau arahan tertentu yang bermanfaat.   

Namun, kita juga tidak ingin membahagaikan sanak keluarga kita itu dengan cara yang tidak baik. Seperti tanpa melalui proses yang semestinya atau menabrak sebuah peraturan karena sedang punya pengaruh penting. Jangan sampai terjadi, saat kita memberikan sesuatu kepada keluarga ada hak orang lain yang terambil. Betapa sedihnya orang lain itu. Ia tidak terpilih bukan karena ia tidak cakap atau tidak lolos prosesnya tetapi karena ia tidak punya keluarga (orang dalam) di sana yang bisa memilihnya. Kita pun termasuk orang yang sudah melakukan perbuatan nepotisme, suatu perbuatan yang dilarang oleh agama.

Pada kondisi seperti ini kita sedang diuji dengan jabatan dan kedudukan, sehingga harus ada kekuatan untuk menahan diri walau kita sedang mempunyai jabatan yang dirasa dengan posisi itu mudah sekali untuk menempatkan atau mengangkat keluarga kita pada posisi tertentu.

Menurut KBBI, nepotisme adalah kecenderungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan, pangkat di lingkungan pemerintah: tindakan memilih kerabat atau sanak saudara sendiri untuk memegang pemerintahan.

            Rasulullah pernah menyinggung terkait Nepotisme dalam Hadis sahih riwayat al - Bukhari (1987: no 3508): "Dari Husaid bin Hudairi r.a., seorang sahabat dari kaum Anshar berkata kepada Rasululllah SAW : Tidaklah engkau angkat aku sebagai amil sebagaimana si fulan?” Rasul menjawab : "Kalian akan menjumpai sepeninggalku tindakan mengutamakan kepentingan sendiri (sikap nepotisme), maka sabarlah kalian sampai bertemu denganku di telaga al-Kautsar (di hari kiamat).” 

 

Bertentangan dengan Prinsip Keadilan

             Islam sangat menekankan pentingnya berlaku adil dalam semua aspek kehidupan. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia, supaya kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa: 58).

Nepotisme mengabaikan nilai keadilan karena memberikan kesempatan berdasarkan hubungan, bukan kompetensi atau kemampuan. Nepotisme bisa menyerang siapa saja, tanpa menunggu seseorang mempunyai kedudukan dan jabatan yang tinggi. Semua mempunyai peran dan tanggung jawab masing-masing. Pilihan jalan terbaik ada di depan mata. Jalan menuju rida-Nya. Wallahu a’lam

 Senin, 5 Mei 2025

 

 

Senin, 10 Maret 2025

RASA SAKIT ITU



 Oleh Mujianto, M.Pd.

 

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (Asy-Syu'ara': 80)

 

Pada suatu waktu saya diuji oleh Allah sakit. Sakit kencing batu. Saat batu itu menutup pangkal saluran air kencing, sakitnya luar biasa. Air kencing itu yang seharusnya keluar tak setetes pun bisa. Rasa sakitnya sampai ke seluruh tubuh. Segera saya berangkat didampingi istri ke rumah sakit. Saya ikuti proses penyembuhannya, dari USG hingga tindakan operasi.

Pada saat saya merasakan sakit itu, saya mendapatkan kenyataan bahwa sungguh manusia sangat lemah, tidak berdaya. Saya membutuhkan pertolongan Allah segera. Ingin saat itu juga karena tidak kuat merasakan sakit yang luar biasa.

Sungguh sakit yang Allah berikan tidak lain untuk mengingatkan hakikat kelemahan manusia. Bahwa manusia harus selalu bergantung kepada Allah. Bahwa sebaik-baik hamba adalah yang paling banyak bergantung kepada Allah.

 

Sakit dan Pendidikan Karakter

Siapapun pernah merasakan sakit. Walau dengan kadar yang berbeda. Sakit merupakan bagian dari takdir kehidupan yang diatur oleh Allah SWT. Dalam Islam, sakit bukan sekadar kondisi fisik yang menyiksa, tetapi juga ujian dan kesempatan bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai bentuk pendidikan dan pembentukan karakter yang Islami.

Datangnya penyakit adalah salah satu tanda supaya seorang hamba semakin memperkokoh ketergantungannya kepada Allah.  Bila ini yang disadari setiap orang yang sakit, maka tidak ada di muka bumi ini orang berani melawan Allah. Untuk mereka yang tidak sedang sakit,  minimal melihat orang-orang yang sakit. Semuanya mengingatkan akan makna ini. Makna di mana seseorang benar-benar merasa dan yakin bahwa hanya Allah-lah Maha Penyembuh.

Sakit bisa menjadi penebus dosa, sarana pengingat akan nikmat sehat,  bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

 

Sakit Sebagai Sebuah Anugerah

“Sakit Sebagai Sebuah Anugerah” pernyataan ini bagi sebagian orang mungkin belum bisa diterima, karena memandang sakit adalah sesuatu yang tidak enak dan menyusahkan. Namun, kalau kita perhatikan banyak orang yang berubah hidupnya baik kualitas fisik, semangat hidup dan keimanannya semakin baik. Semakin baik karena dengan rasa sakit itu ia diingatkan dengan pola hidup yang sehat, merasa diuji dan akhirnya meningkat kesabaran dan tawakalnya kepada Allah SWT.

Islam sejatinya memandang sakit sebagai anugerah. Anugerah yang terkemas dalam bentuk ujian yang harus dihadapi dengan sabar, tawakkal, dan usaha untuk mencari kesembuhan.

Sakit merupakan cara Allah mengingatkan terhadap keterbatasan manusia. Ini mengajarkan manusia akan kelemahannya dan Allah sebagai tempat bergantung. Sakit juga menanamkan nilai bahwa dunia bukan tempat abadi, dan kehidupan akhirat yang sempurna adalah tujuan akhir manusia.

“Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kami kalian akan kembali." (QS. Al-Anbiya: 35)

Sakit menjadi sebuah anugerah bagi seorang muslim jika dia bersabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim). Semoga bermanfaat!


Semolowaru, 11 Maret 2025

Minggu, 09 Maret 2025

KEBERUNTUNGAN

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

 

"Bangunlah di pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat keberkahan dan keberuntungan." (HR. At-Thabrani)

 

Hidup kita sering kali dipenuhi keberuntungan. Berbagai peristiwa terjadi tanpa bisa diramalkan. Hal-hal tak terduga memberikan kejutan bahagia. Kita pun kadang bertanya, kok bisa terjadi, apa makna kejadian ini? Contoh sederhana, saat tiba-tiba hujan jatuh begitu derasnya tepat saat kita sudah sampai di rumah atau kita mendapatkan rezeki ketika amat membutuhkannya. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keberuntungan dapat diartikan sebagai nasib baik, mujur, atau bahagia. Keberuntungan juga dapat diartikan sebagai hasil dari kesempatan. 

Beruntung bagi sebagian orang bisa dikatakan hoki. Namun, Sebagian yang lain, khususnya orang Tionghoa memahami hoki memiliki makna yang "lebih" dari sekadar beruntung. Dalam pemahaman mereka, beruntung itu hanya sekadar kebetulan. Berada pada tempat yang tepat, di waktu yang tepat saja. Tidak lebih, tidak kurang. Tetapi Hoki itu adalah keberkahan. Tidak semua orang bisa mendapatkannya. Harus melalui beberapa syarat dan prasyarat yang tidak mudah. Menjadi orang pilihan di antara sekian banyak manusia di muka bumi ini.

 

Jangan Menunggu Keberuntungan Datang

"Jangan menunggu keberuntungan datang" adalah pesan untuk tidak pasif menunggu, melainkan aktif menciptakan peluang. Dengan mengambil inisiatif, bekerja keras, dan berani bertindak, kita dapat mencapai hasil yang lebih baik. Sejumlah orang meyakini keberuntungan adalah sebuah kebetulan.

Sebagian orang menisbatkan keberhasilan atau kegagalan dirinya dan orang lain dengan ungkapan “keberuntungan”. Ketika sukses, seseorang akan mengatakan,”Saya sangat beruntung”. Dan ketika gagal ia berkata, “Sungguh saya kini sedang apes.”

Keberuntungan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang terjadi secara acak atau tanpa usaha. Namun, di balik banyak kisah sukses dan pencapaian luar biasa, orang-orang yang sering disebut "beruntung" sebenarnya telah menghabiskan waktu dan usaha untuk mempersiapkan diri mereka sehingga keberuntungan itu datang kepadanya.

Keberuntungan bisa kita ciptakan dengan selalu melakukan usaha yang positif secara proaktif dan mengembangkan berbagai gagasan. Tidak akan ada hasil tanpa perjuangan. Tidak akan ada keluaran tanpa masukan dan proses. Tidak ada keberuntungan tanpa kerja keras dan pengembangan gagasan yang bisa menciptakan atau mempercepat terjadinya kemajuan dan pencapaian tertentu.

Dengan cara ini, kita akan mendapati bahwa "keberuntungan" akan menjadi teman sejati dalam perjalanan kita menuju pencapaian yang luar biasa. Wallahu a’lam.

                             Semolowaru, 10 Maret 2025

Selasa, 18 Februari 2025

Menjadi Orang Baik dan Berkinerja

 

Oleh Mujianto, M.Pd.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, baik mempunyai arti patut, elok dan teratur (rapi, tidak ada cela, apik dan sebagainya). Kata baik menunjukkan sesuatu tentang kelakuan. Makna orang baik menurut istilahnya adalah orang yang berbuat baik, jujur, ikhlas, sabar, pintar, pekerja keras, bertanggung jawab, dan peduli sesama. 

            Dalam Islam, menilai seseorang sebagai orang baik tidak bisa hanya berdasarkan satu kriteria, seperti shalat, sopan santun, atau tidak korupsi. Sering kita memahami secara sempit tentang orang baik tampak hanya pada sopan dan santunnya. Padahal makna inti dari Hablun Minannas adalah terlaksananya peran dan tanggung jawab yang diemban seseorang dalam masyarakat.

Apabila peran dan tanggung jawabnya belum dijalankan maka sejatinya hablun minannas-nya masih sangat kurang. Sebagai contoh sederhana, seseorang diamanati sebagai ketua RT., setiap ketemu warga ia menunduk dan berperangai sopan, ucapannya pun santun. Namun, peran dan tanggung jawab sebagai ketua RT. tidak ia jalankan, program-program RT. yang sudah direncanakan terbengkalai, bantuan dari pemerintah tidak tersalurkan kepada warga yang semestinya, warganya tidak terurus dsb. Dalam konteks ini, ia belum bisa dikatakan orang baik atau ibadah sosialnya baik.

Begitu juga dengan peran seseorang di manapun ia berada bahwa bentuk ibadah sosial kita adalah terlaksananya amanah dan tanggung jawab itu, bukan terpaut pada desain sikap yang dibungkus dengan kesopanan dan kesantunan, walaupun hal itu tetap dibutuhkan dalam bermasyarakat.

Dalam konteks pekerjaan, orang baik adalah orang yang berintegritas, menjalankan dengan maksimal  tugasnya, profesional, jujur, disiplin, dan dapat bekerja sama satu sama lain.

 

Bekerja dengan Baik Adalah Suatu Keharusan

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil dan siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarga maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza Wajalla (H.R. Ahmad).

Orang baik tentu memahami dan mempunyai landasan dalam bekerja bahwa Islam menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki dari Allah guna menutupi kebutuhan hidupnya. Bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halalan thayiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah yang nilainya sejajar dengan melaksanakan rukun Islam. Dengan demikian bekerja adalah ibadah dan menjadi kebutuhan setiap umat manusia. Bekerja dengan baik adalah suatu keharusan dalam Islam.

Kalau kita teliti secara mendalam perusahaan, organisasi, hingga lembaga pendidikan yang sudah maju pesat atau sudah berhasil melampaui targetnya, tentu mempunyai keyakinan yang hampir sama bahwa orang-orang yang ada di dalamnya tidak cukup bermodalkan menjadi orang baik tetapi berkinerja. Kinerja menurut KBBI adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, atau kemampuan kerja (tentang peralatan).

Kinerja adalah melakukan suatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan. Berkinerja berarti mengukur tingkat keberhasilan seseorang dalam menjalankan tugas serta kemampuan untuk mencapai target yang sudah ditetapkan. Orang yang berkinerja berarti secara konsisten menjalankan siklus manajemen yang dimulai dari perencanaan, penetapan, pelaksanaan, pengendalian, monitoring dan evaluasi.

Ketika karakter baik dan berkinerja ini dipadukan maka akan nampak hasil yang luar biasa. Betapa solid dan hebatnya tim ini. Keberhasilan dan keberuntungan akan datang.

Menurut salah satu filsuf muslim, Al Farabi "Ketika kebijaksanaan memimpin, keberuntungan akan mengikuti." Kutipan ini menggambarkan keyakinan Al-Farabi akan pentingnya kebijaksanaan dalam mencapai kesuksesan. Karakter baik dan berkinerja adalah sebuah kebijaksanaan.

Orang baik setiap langkah akan menghasilkan aura kebijaksanaan, begitu juga dengan berkinerja menggambarkan sebuah kebijaksanaan, bahwa keberhasilan tidak datang secara instan tetapi ada perjalanannya, ada usaha, kerja keras, perencanaan, pelaksanaan, gagal, terjatuh, muhasabah, lalu bangkit hingga keberhasilan dan keberuntungan akan datang menghampiri.  Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat!

                                                                                    Semolowaru, 19 Februari 2025