Rabu, 06 Mei 2020

Ketika Anak Enggan Sekolah, Sudahkah Kita Memahami Mereka?




Oleh: Mujianto, M.Pd.

Mari sejenak kita menengok fenomena pendidikan di sekolah beberapa tahun yang lalu. Tepatnya di tahun 2006. Seorang anak bernama M. Izza Ahsin Sidqi, kelas 2 SMP di salah satu sekolah favorit di Salatiga. Anak yang kedua orang tuanya guru ini, menyatakan mengundurkan diri dari sekolah lantaran ada gejolak di dalam hatinya. Dia ingin bebas, fokus mengejar cita-citanya menjadi penulis, yang dirasanya tidak akan tercapai kalau dia masih datang bersekolah. Dan paling mengejutkan dia merasa tidak mampu belajar sesuai yang dimaksudkan oleh Kurikulum Pendidikan Indonesia. Kegelisahan dan harapannya tentang sekolah dia tuangkan di dalam salah satu bukunya “Dunia Tanpa Sekolah”

Para ayah dan bunda yang berbahagia, pernahkah anak ayah dan bunda malas atau tidak mau sekolah. Kalau pernah. Bagaimana, sulitkah membujuknya? atau minimal dibuat bingung, mencari apa penyebabnya.

Sekolah merupakan rutinitas yang biasa dijalankan anak setiap hari. Mereka harus bangun pagi, mengikuti pelajaran di sekolah hingga siang bahkan sore hari, lalu masih lagi ditambah PR. Kadang-kadang terjadi suatu masalah yang menyebabkan si anak malas atau menolak ke sekolah. Ada anak yang menolak secara terang-terangan, ada juga yang menolak dengan cara kiasan. Seperti pura-pura sakit.

Tulisan ini berusaha tidak menyinggung tentang adanya bulliying atau anak berat mengerjakan tugas sekolah sebagai penyebab anak tidak mau beramgkat ke sekolah. Tulisan ini berusaha menggugah cara pandang kita memahami makna sekolah, memilih sikap yang benar dan mengawal anak-anak kita menuju kesuksesannya.

Konon Soichiro Honda, pemilik usaha industri otomotif Honda Motor, pernah menyampaikan pendapatnya mengenai sekolah.

“Sekolah terlalu banyak memberi apa yang saya tidak ingin ketahui, tapi justru sangat sedikit memberikan apa yang sungguh-sungguh saya ingin ketahui. Oleh karena itu, saya hanya pergi ke sekolah apabila saya merasa ingin mengetahui sesuatu yang tidak saya temukan di luar sekolah.”

Dalam artikel di kompas, 27 Agustus 2012, saat akan ada rencana diselenggarakannya kurikulum baru, kurikulum 2013, Boediono (Wapres RI ke 11) dengan tegas menyampaikan, sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan. Maka muncullah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum. Akibatnya, terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa “berat”, tetapi tidak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.

Ayah dan bunda yang berbahagia. Setelah membaca pandangan tokoh di atas, apa yang harus kita lakukan? Saya tidak bermaksud mengajak memandang negatif sebuah lembaga sekolah, sembari membayangkan dulu ketika SMP gunanya apa ya saya belajar Sinus-Cosinus-Tangen, mengapa tidak diberikan saat SMA di jurusan IPA atau di perguruan tinggi jurusan matematika atau sejenisnya saja.

Ayah dan bunda harus terus semangat mendorong anak agar terus bersekolah sampai setinggi-tingginya. Yang menjadi catatan adalah yang pertama, kita di rumah menjadi lebih sayang kepada anak, menjadi pendamping yang dengan sadar, mengerti bahwa anak-anak sudah membawa sebagian beban dari sekolah.

Yang kedua, saat pembagian rapor tiba, ayah dan bunda tidak terburu-buru mau marah, panik jika sebagian besar nilai anak tidak semakin bagus, atau ranking yang semakin turun. Karena ayah dan bunda sudah semakin paham karena masa depan anak-anak bukan ditentukan oleh nilai rapor apalagi ranking kelas.  Apakah ayah dan bunda pernah ditanya saat sesi wawancara ketika melamar kerja? Tentu tidak. Yang sering, pertanyaannya adalah tentang kemampuan dan komitmen. 

Yang ketiga, mengenal potensi dan bakat anak itu penting. Ketika orang tua sudah memahami potensi dan bakat anak, orang tua tersebut akan semakin mudah mengarahkan anaknya memilih bidang keahlian yang akan ditempuhnya. Di sekolah, orang tua bisa mengikutkan anaknya pada kegiatan ekstrakurikuler atau pengembangan diri. 

Pendidikan adalah proses panjang. Bersekolah adalah bagian dari proses itu. Anak-anak harus didorong antusias dan tetap bahagia berangkat ke sekolah. Selain belajar, anak-anak juga berinteraksi dan bersosialisasi dengan warga sekolah. Jika ada masalah di sekolah, berkomunikasilah dengan gurunya, sambil terus mendampingi mereka menggali potensi dan mengembangkannya dari rumah. Wallahu A’lam.

                                                                                         

 


Dari Mana Seharusnya Pendidikan Anak Dimulai?



Oleh: Mujianto

 

Ada sebuah riwayat, baginda Rasulullah saw. pernah didatangi oleh salah satu umatnya  yang mengelukan tentang perilaku kelima anaknya yang kurang terpuji, dan sulit diatur. Rasulullah pun memberikan jawaban agar anak si orang tua itu bisa berubah menjadi lebih baik. Beliau berkata, “Wahai orang tua yang baik, mulai saat ini ubahlah satu demi satu perilakumu menjadi lebih baik, insyaallah anak-anakmu akan berubah menjadi lebih baik.”

Dalam perspektif Islam, proses pendidikan anak sebenarnya dimulai jauh sebelum si anak diciptakan di dunia ini. Yaitu melalui kualitas dan ikhtiar orang tuanya.

Mari kita mengingat sejenak siapa orang tua Imam Syafi’i. salah satu ulama besar, dan pendiri Mazhab Syafi'i yang merupakan salah satu dari empat mazhab utama dalam Islam. Tentu kita berpikir, seperti apakah orang tuanya, atau bagaimana mereka mempersiapkan diri sebelum menjadi orang tua.

Dikisahkan ada seorang pemuda bernama Idris berjalan meyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang hanyut terbawa air, karena sedang sangat lapar, ia ambil buah itu dan langsung memakannya.

Ketika Idris sudah menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah yang dimakannya itu halal? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya. Idris berhenti makan. Ia menyesal. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima. Sampailah ia di bawah pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin, buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini.

Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah ia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya.

“Saya telah memakan buah delima Anda. Apakah ini halal buat saya? Apakah Anda mengikhlaskannya?” kata Idris. Orang tua itu terdiam sebentar, lalu menatap tajam kepada pemuda itu. “Tidak bisa semudah itu. Kamu harus bekerja di sini menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan tanpa gaji,” kata si bapak kepada Idris.

Demi memelihara perutnya dari makanan yang tidak halal, Idris pun langsung menyanggupinya. Sebulan pun berlalu. Idris kemudian menemui pemilik kebun.

“Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun Anda selama sebulan. Apakah tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?” “Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya. Seorang gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh.”

Idris terdiam. Ia merasa cobaan ini terlalu berat, akan tetapi ia harus memenuhi persyaratan itu. Idris pun dinikahkan dengan gadis yang disebutkan. Pemilik menikahkan sendiri anak gadisnya dengan disaksikan beberapa orang.

Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya. Ternyata, bukan gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh yang ditemui, namun seorang gadis cantik. Idris pun bergegas keluar dan langsung menemui mertuanya, bertanya perihal seorang gadis yang ditemuinya.

Si pemilik kebun menyampaikan bahwa yang ditemui Idris adalah benar-benar istrinya, yaitu putrinya sendiri. Tidak ada orang lain. Si pemilik kebun menjelaskan bahwa ia menyebut putrinya buta karena selalu menjaga pandangan yang dilarang, tuli karena selalu menjaga telinga dari pendengaran yang haram, bisu karena selalu menjaga dari ucapan yang tidak bermanfaat, dan lumpuh karena badannya tidak pernah digerakkan untuk melakukan maksiat.

Sang pemilik kebun tidak rela melepas Idris begitu saja. Seorang pemuda yang jujur dan menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ia jadikan Idris sebagai menantu, yang kelak memberinya cucu bernama Syafi’I, seorang ulama besar, panutan jutaan kaum muslim di dunia.

Cerita di atas mengingatkan kita bahwa waktu mendidik anak yang tepat ternyata sudah harus dipersiapkan sejak awal, bahkan sebelum melangsungkan pernikahan. Cerita di atas juga memberikan penguatan kepada kita pada peribahasa, bahwa “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Walaupun orang tua nantinya tidak menjadi unsur tunggal sebagai penentu masa depan anak, karena ada unsur pendidikan yang merupakan proses panjang, proses seumur hidup.

Dalam pandangan psikologi pendidikan, diketahui bahwa sebagian besar perilaku anak adalah mirroring atau cerminan dari perilaku orang tuanya. Maka bisa kita ambil strateginya, bahwa mendidik yang efektif  haruslah dengan contoh atau teladan. Anak akan meniru apa yang ia lihat bukan apa yang ia dengar. Sangat tidak efektif sekali, seorang ayah menyuruh anaknya salat berjamah di masjid, sedangkan ia masih di rumah. Seorang ibu menyuruh putrinya agar tidak berlebihan bermain medsos, tetapi ia sendiri tidak pernah lepas dari HP-nya.

Sebagai penutup tulisan ini, mungkin perlu kita baca kutipan dalam batu nisan Westminster Abbey, sang genius, arsitek istana Kerajaan Inggris. Sebagai pesan terakhirnya. Beginilah isinya:

‘Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi mengubah dunia. Lalu seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah, maka cita-cita itu pun agak kupersempit, lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku. Namun tampaknya hasrat itu pun tiada hasilnya. Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang-orang yang paling dekat denganku. Tetapi, celakanya mereka pun tidak mau diubah. Dan kini sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari; andai saja yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku, kemudian siapa tahu aku bahkan bisa mengubah dunia.’  Semoga bermanfaat.

                                                                                                            





Senin, 21 Oktober 2019

Santri dalam Bingkai Sejarah dan Tantangan di Era Digital



Oleh: Mujianto


Penghargaan pemerintah terhadap eksintensi santri tampaknya terus dilakukan. Setelah penetapan  22 oktober dalam keputusan presiden nomor 22 tahun 2015, sebagai Hari Santri Nasional, beberapa minggu yang lalu ditetapkan pula Undang-Undang Pesantren. Hal ini membuat santri dan institusi pesantren menjadi naik kelas serta dipandang setara dengan lembaga pendidikan formal lainnya

Memang, kemerdekaan Republik Indonesia tidak lepas dari perjuangan kaum santri dan kiai. Sejarah membuktikan, tanpa negara memanggil pun para santri yang dikenal dengan kaum sarungan telah terpanggil bersama dengan pejuang lainnya bahu-membahu bercucuran keringat, darah, air mata, dan doa merebut kembali kedaulatan negara Republik Indonesia dari penjajah.

Hari Santri merupakan sebuah hari untuk memperingati peran besar kaum kiai dan santri dalam perjuangannya melawan penjajah, yang bertepatan dengan resolusi jihad dari mbah KH. Hasyim pada tanggal 22 Oktober 1945. Yang sebelumnya Presiden Jokowi berpendapat pada tanggal 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional.

Mereka yang ikut berjuang dan mempunyai peran dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, antara lain KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan salah satu tokoh pendiri Nahdatul Ulama, KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al Irsyad, dan Abdul Rahman dari Matlaul Anwar.

Belum lagi para perwira atau prajurit Pembela Tanah Air yang ternyata banyak berasal dari kalangan santri. Santri yang kerap dikenal berkutat seputar urusan agama, ternyata mau ikut berperang, berjuang bersama-sama melawan penjajah. Sehingga perjuangan para santri harus diperingati menjadi salah satu Hari Besar di Indonesia, walaupun tidak menjadi hari libur.

 

Tantangan Bagi Santri

Santri kadang dalam mindset  banyak orang adalah anti teknologi, gagap informasi dan ketinggalan zaman. Santri harus bisa membuktikan, bahwa pandangan seperti itu tidaklah benar. Santri zaman sekarang cakap berinternet, dan luas dalam berwawasan, namun tetap dalam koridor seorang santri, yaitu santun dan berakhlakul karimah.

 Di era digital saat ini banyak orang terprovokasi oleh informasi yang masih belum bisa dibuktikan kebenarannya. Siapapun kalau tidak berhati-hati mengakses informasi internet bisa saja termakan oleh informasi hoax, akhirnya berdebat sengit dan berujung saling membenci dengan orang yang tidak sepaham dengannya.

 Seorang santri selain harus bisa membaca kritis sebagai bagian dari literasi, juga  harus bisa memanfaatkan media digital untuk mempublikasikan dakwah-dakwah positif.

 Kita bersyukur sudah bermunculan konten kajian-kajian keislaman dari santri dan kiai di youtube, facebook dan instagram yang semuanya itu bisa menjadi penghadang bagi ajaran dan aliran-aliran yang sudah dilarang di negeri ini.

 Sebagai penutup tulisan sederhana ini, mari kita belajar dari makna kata ‘santri’, yang sudah populer di kalangan santri dan pesantren. Kata ‘santri’ ditulis dalam bahasa Arab terdiri dari lima huruf yaitu sin, nun, ta, ra, dan ya. Huruf  yang pertama adalah huruf  Sin singkatan dari Safiqul khairi (pelopor kebaikan). Dimanapun berada santri harus bisa menjadi pelopor dalam kebaikan.

Huruf  yang kedua adalah Nun singkatan dari Nasibul ulama (penerus ulama). Seorang santri memiliki ikatan emosional dengan kiai sangat mengkristal. Seorang kiai ingin ada kaderisasi yang bisa meneruskan perjuangannya. Huruf yang ketiga adalah huruf Ta’, singkatan dari Tarikul Ma’ashi (meninggalkan maksiat). Kaum santri senantiasa menjauhi kemaksiatan. Huruf yang keempat adalah Ra’, singkatan dari Radhiyallahu  (Ridha Allah). Kaum santri menomorsatukan kebaikan dalam rangka mencari ridha Allah Swt.

Huruf yang terakhir adalah Ya’, akronim dari Yaqin  (yakin atau optimis). Santri harus selalu optimis menjalani hidup dan mengharap keselamatan di dunia, lebih-lebih di akhirat. Wallahu a’lam. Bersama Santri Damailah Negeri! Semoga bermanfaat!


Senin, 21 Oktober 2019

 


Minggu, 11 Agustus 2019

Sacrifice and Love



Oleh: Mujianto

            Dalam suatu kesendirian sebelum tidur saya sering merenung tentang sesuatu hal yang siang hari saya temui. Biasanya saya tulis poin-poinnya di HP, lalu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Seperti halnya saat saya menyimak khutbah idul Adha. Menyimak dengan seksama kisah dan ulasan tentang pengorbanan Nabi Ibrahim mendapat perintah menyembelih Nabi Isma’il.

            Muncul suatu pertanyaan, apakah kita benar-benar memahami apa hikmah di balik peristiwa Idul Adha lebih dari sebuah pengorbanan? Apakah kita pernah merenung bagaimana mungkin Nabi Ibrahim bisa langsung percaya dengan validitas sebuah mimpi, apalagi isi mimpinya adalah untuk menyembelih putra kesayangannya. Bagaimana kalau mimpi itu terjadi pada diri kita. Tentu kebanyakan dari kita akan mencari alasan untuk tidak menghiraukan mimpi tersebut.

            Padahal, kalau kita perhatikan, semakin pandai seseorang maka semakin tinggi tingkat rasionalitasnya. Seperti para penemu, dan para filsuf. Begitu juga dengan Nabi Ibrahim, beliau sering mengedepankan rasionya. Mungkin pernah diceritakan oleh guru agama kita, ketika Nabi Ibrahim berdebat dengan raja Namrud yang mengaku sebagai Tuhan.

Namrud meminta Nabi Ibrahim membuktikan ketuhanan Allah. Nabi Ibrahim menjawab bahwa Allah Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Sang raja kemudian membunuh orang di sampingnya dengan pedang, dan merasa menang karena dia juga bisa mematikan layaknya seorang Tuhan. Nabi Ibrahim pun melanjutkan dengan mengatakan bahwa Allah yang menerbitkan matahari dari arah timur ke barat, dan meminta Namrud menerbitkannya dari arah Barat. Namrud tidak bisa. Sang raja pun kalah dalam perdebatan itu.

Banyak kisah di Al-Qur’an yang menunjukkan ketajaman pikiran Nabi Ibrahim. Seperti di surat al-An’am ayat 74-78. Namun kenapa saat bermimpi mendapatkan perintah menyembelih putranya bisa langsung percaya? Jawabannya adalah karena cinta. Kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah jauh melebihi kecintaan kepada putranya. Ketajaman rasionalitas Nabi Ibrahim tidak menjauhkan dirinya dari kebenaran, justru membawanya dalam kemantapan bahwa keimanannya harus diuji.

Pengorbanan tertinggi Nabi Ibrahim sebelum menyembelih putranya adalah pembenaran atas mimpinya sendiri. Pengorbanan tidak bisa dipisahkan dengan cinta. Mari kita ingat lagi bahwa perintah pertama peristiwa kurban adalah menyembelih Isma’il seorang anak yang lama diidam-idamkan. Bukan menyembelih kambing. Nabi Ibrahim adalah seorang yang kaya raya. Allah sudah tahu kalau Ibrahim sering bersedekah, berkurban ratusan unta dan ribuan kambing. Oleh karena itu Allah menguji cinta dan keimanan Nabi Ibrahim. Bagaimana kalau diuji menyembelih putranya yang tentunya lebih ia cintai dibandingkan kekayaannya.

Isma’il adalah gambaran apa saja yang kita cintai, yang kita banggakan. Seperti jabatan, harta,  popularitas, atau ilmu yang semua  itu atas pemberian Allah dan siap kita persembahkan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya.

Kita pun berusaha dan senantiasa berdoa. Semoga keluarga kita seperti keluarga Nabi Ibrahim. Keluarga yang dinaungi oleh rasa cinta. Sosok ayah yang menebarkan cinta, ibu yang penuh cinta dan anak sholih yang meneguhkan rasa cinta. Cinta kepada Allah harus melebihi cinta pada segala-galanya. Wallahu a’lam.

Rabu, 31 Juli 2019

MENAPAKI USIA 40 TAHUN



Oleh Mujianto, M.Pd.

Setiap kali membaca lowongan kerja, baik dari Whatsapp maupun iklan di surat kabar, tertulis klasifikasi batas usia pelamar, maksimal usia 35 tahun atau kurang dari 40 tahun. Permintaan usia maksimal 40 tahun biasanya untuk posisi yang lebih tinggi. Misalnya, kalau di perusahaan, ada di posisi General Manager, atau dosen di perguruan tinggi.

Hal tersebut membuat penulis ingin memahami, ada apa dengan seseorang yang usianya lebih dari 40 tahun? Mengapa instansi yang membuka lowongan kerja tidak menginginkan usia 40 tahun ke atas? Padahal dari segi pengalaman mereka lebih banyak. Dari segi pengetahuan pun mereka lebih mapan. Sebelum kita berselancar jauh, membahas misteri usia 40 tahun, mari kita simak ulasan dari seorang milyader sukses, yang sebelumnya jatuh bangun membesarkan bisnis dan kehidupannya.

Jack Ma pernah bercerita kepada anak-anak muda di Korea Selatan  dalam acara yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi di sana, tentang pandangan hidupnya. Jack Ma menjelaskan mengenai garis waktu yang akan kita lalui dalam kehidupan ketika menginjak usia 20 tahun hingga 60 tahun.

Jack Ma menuturkan, bahwa sebelum kita menginjak usia 20 tahun, jadilah murid yang baik. Banyaklah belajar untuk mendapatkan ilmu dan pelajaran hidup. Sebelum kita menginjak usia 30 tahun, ikutlah seseorang. Masuklah ke sebuah perusahaan atau instansi. Perusahaan besar bagus untuk kita mempelajari proses. Kita adalah bagian dari mesin besar itu. Sedangkan bekerja di perusahaan kecil, kita dapat belajar tentang passion dan semangat, kita juga belajar tentang mimpi dan harapan.

Jadi menurut Jack Ma sebelum usia 30 tahun, intinya bukan perusahaan mana yang kita tuju, tapi pimpinan mana yang kita ikuti. Pimpinan yang baik akan mengajari kita dengan cara yang berbeda. Kita bisa belajar cara berpikir dan keteladanannya.

Antara usia 30 sampai 40 tahun, kita perlu benar-benar memikirkan dan memutuskan, apakah kita ingin bekerja sendiri atau melanjutkan pekerjaan.

Antara usia 40 sampai 50 tahun, kita sudah harus melakukan hal yang sudah kita kuasai, mengasah dan mengembangkan bidang pekerjaan kita. Pada usia ini kita berusaha mengurangi memulai hal-hal baru yang belum kita kuasai. Umumnya, itu sudah terlambat. Kita bisa saja sukses tapi tingkat pengorbanannya harus tinggi.

Pada usia 50 sampai 60 tahun, percayakan pekerjaan pada anak muda. Mereka bekerja jauh lebih baik dari kita. Jadi andalkan mereka, berinvestasilah pada mereka. Dukung dan pastikan mereka bekerja dengan baik.

Ketika kita sudah di atas usia 60 tahun, perbanyaklah waktu bersama keluarga.

Dari ulasan Jack Ma di atas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa usia 40-50 tahun cenderung sulit diberi beban atau tugas baru di luar kemampuan yang dikuasai. Pegawai dengan usia 40-50 tahun tetap bisa berkomitmen dan bekerja dengan tim, namun biasanya ketika ada seseorang karyawan lain yang lebih muda usianya mempunyai ide baru, baginya bisa jadi adalah sesuatu yang ‘aneh’, muncul kewaspadaan. Pertimbangannya, kalau ide itu terlaksana apa tidak mengganggu kenyamanan yang sudah didapat selama ini. inilah sesuatu yang negatif, yang sering terjadi.

Usia 40 Tahun dalam Perspektif Islam

Saat usia  40 tahun inilah kondisi manusia telah benar-benar matang lahir dan batin. Nabi Muhammad Saw. diangkat oleh Allah Swt. sebagai Nabi dan Rasul dalam usia 40 tahun. Itulah salah satu rahasia Allah Swt. mengangkat nabi Muhammad Saw. sebagai nabi dan rasul dalam usia 40 tahun.

Allah Swt di dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaf  ayat 15 sudah memberi perhatian khusus pada usia 40 tahun yaitu, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

Menurut sebagian besar para ahli tafsir, usia 40 tahun disebut tersendiri pada ayat ini, karena pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupannya, baik dari segi fisik, intelektual, emosional, karya, maupun spiritualnya.

Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan beralih menapaki usia dewasa penuh. Apa yang dialami pada usia ini sifatnya stabil, dan mapan berpendirian. Perilaku di usia ini akan menjadi ukuran manusia pada usia-usia berikutnya.

Bila seseorang tidak berubah sifatnya setelah berumur 40 tahun, maka orang tersebut biasanya tidak akan berubah sifatnya untuk selamanya, hingga ajal datang menanti. Jadi sudah sangat sulit berubah.

Selaras dengan apa yang disampaikan Imam Al Ghazali dalam  kitabnya Ayyuhal Walad: “Barangsiapa yang telah melampui usia 40 tahun sedangkan kebaikannya tidak dapat mengalahkan kejahatannya, maka hendaklah dia mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam neraka.”

Sobat, usia 40 tahun kita jadikan sebagai warning untuk bersegera mengubah perilaku kita yang negatif menjadi sesuatu yang positif dan produktif. Nasib baik dan buruk kita, bukan bergantung pada orang lain tapi bergantung pada diri kita sendiri.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Ali-Imran ayat 133, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa."

 



Rabu, 17 Juli 2019

Persaingan Sekolah dalam Bingkai Kemajuan



Oleh: Mujianto

Persaingan antar sekolah menjadikan para pemangku kebijakan seperti Kepala Sekolah harus 'bekerja' ekstra. Dalam hal apa? Tentunya dalam hal ide, dan program.

Walaupun guru yang nantinya akan berperan banyak, namun pada hakikatnya dalam lingkup lembaga atau sekolah, guru adalah pelaksana dari ide, dan program tersebut. Ada juga sekolah yang gurunya diajak berpikir untuk mengeluarkan idenya, seperti lewat rapat atau yang lainnya, namun kebijakan dan golnya sering kali tetapa ada pada pimpinan.

Prestasi yang mau diraih tiap sekolah tentunya hampir sama. Ada prestasi akademik, seperti nilai UN/USBN. Ada prestasi non akademik, seperti menjuarai lomba, unggul akhlak dll. sehingga prestasi-prestasi tersebut terakumulasi dan menyebabkan jumlah peserta didik baru semakin meningkat yang tidak hanya dari segi kuantitas, tetapi dari segi kualitasnya juga.

Bagaimana semua itu bisa diraih?

Sekolah lewat pemangku kebijakannya harus memahami betul karakter sekolahnya. Lewat pemahaman yang mendalam itu, didapati mana kelebihan dan kekurangan dari lembaganya tersebut, baru kemudian bisa memberi solusi, bergerak dari arah mana dulu, dengan melihat skala prioritas.

Amati-Tiru-Modifikasi

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, demi kamajuan sekolah kita harus merendahkan hati untuk bisa belajar dan mengakui keunggulan dari sekolah lain yang lebih baik. Kita tidak bisa acuh dengan bersandar pada ego dan kemampuan yang kita miliki. Ada sekolah yang setiap tahun menjadi langganan peringkat terbaik nilai UN (USBN/UNBK) di kecamatan. 

Ada juga sekolah yang nilai UN-nya biasa saja tetapi prestasi non akademik dan kuota PPDB setiap tahunnya selalu terpenuhi. Bahkan ada juga sekolah yang tiga hal di atas bisa diraih. Peringkat terbaik UN, prestasi non akademik menonjol dan PPDB terpenuhi.

Kebanyakan sekolah yang sudah maju tidak banyak berbenah dari segi teknis, maksudnya dari segi manajemen sekolah dan komitmen guru. Sepanjang pengamatan penulis,  sekolah maju mempunyai manajemen dan organisasi yang sudah bagus. Kepala sekolah, tenaga pendidik, dan kependidikan tahu tupoksinya masing-masing. Bahkan unsur-unsur tersebut semuanya bersaing dalam prestasi. Tentunya bersaing secara sehat.

Sekolah maju tidak lagi sibuk mengurusi guru terlambat, guru tidak melaksanakan tugas dll. Semua sudah tertata lewat tata tertib yang jelas dan tegas. Guru yang tidak bisa memenuhi tata tertib, sudah pasti akan terseleksi oleh alam (tata tertib). Mengundurkan diri atau tiba waktunya dikeluarkan oleh sekolah. Tidak ada lagi guru iri karena melihat temannya terlambat tapi tidak diberi sanksi, dan tidak ada lagi guru sibuk mengobrol tentang Kepala Sekolah yang terlihat santai-santai saja karena tidak ada tugas mengajar. 

Ada juga sekolah yang terlihat maju tetapi penuh dengan dilema. Sekolah ini mempunyai tata tertib yang tertata rapi, tetapi tidak pernah terlaksana, karena memang tidak ada tindak lanjut yang tegas. Mungkin, harapannya guru yang tidak disiplin itu sadar dengan sendirinya menjalankan peraturan walau tidak diproses. Faktanya kesadaran itu tidak akan pernah terjadi.

Mengamati perkembangan SDM sangatlah penting. Sudah tidak perlukah sekolah itu ada ketegasan tata tertib?. Kalau masih perlu ya tata tertib harus benar-benar dilaksanakan. Bagaimanapun di era milenial atau sekarang disebut era Revolusi Industri 4.0 tentunya peraturan sangatlah penting.

Kembali ke sub judul, metode sederhana ATM sudah banyak dilakukan. Kalau belum bisa menciptakan hal yang baru, bahkan belum bisa memodifikasi ide orang lain, meniru menjadi alternatif pilihan. Meniru tidak membuat diri kita rendah, karena meniru pun butuh ilmu dan proses yang serius. Meniru banyak dilakukan oleh sekolah yang sudah maju untuk lebih maju lagi. Meniru bisa dengan studi banding, kerjasama program atau kurikulum, pertukaran pelajar, dll.

Apa sebenarnya tujuan utama atau branding sekolah kita sehingga layak disebut berkualitas? Bagus nilai rata-rata UN kah? PPDB melebihi kuota kah? atau semua yang baik-baik, yang hebat-hebat menjadi tujuan kita? Kalau semuanya, maka kita harus segera bergerak. Prestasi UN bisa meniru program sekolah A, prestasi non akademik bisa meniru program sekolah B, dan seterusnya, tinggal kita menyesuaikan dengan kondisi sekolah kita.

Melalui tulisan sederhana ini, pertanyaan ‘sulit atau mudahkah memajukan sekolah itu?’ sungguh sangat bisa dijawab. Tentunya dengan mengedepankan akal sehat dan semangat kebersamaan dari semua pihak pertanyaan itu bisa dijawab mudah. Namun sebaliknya pertanyaan itu jawabannya bisa menjadi sulit bila yang bergerak maju hanya beberapa pihak.


Akhirnya proses harus terus berjalan, agar sekolah kita, sekolah Anda, sekolah saya tidak tergerus oleh perkembangan jaman. Kita yang berposisi sebagai guru, atau yang lagi dipercaya menjadi Kepala Sekolah bisa bersaing dan bersanding dengan mereka yang sudah lebih dulu berproses dalam kemajuan. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat!

Minggu, 02 September 2018

Energi Spiritual

Oleh Mujianto

 

            Dua minggu yang lalu tepatnya di tanggal 18 Agustus 2018, saya berkesempatan menemani istri mengikuti family gathering di sekolahnya. Kegiatan yang membolehkan mengajak anggota keluarganya ikut. Acaranya cukup padat. Ada kunjungan ke tempat wisata dan outbound-nya. Kegiatan outbound mampu memberi hiburan tersendiri, sekaligus meningkatkan kekompakkan guru, hingga menambah rasa kekeluargaan.

   Namun, bagi saya ada yang lebih berkesan dan membekas sampai saat ini. Yaitu sambutan yang disampaikan salah satu peserta, suami salah satu guru yang juga mantan guru dan sekarang menjadi pengurus yayasan di sekolah itu.

    Beliau yang sekarang bekerja sebagai supervisor di salah satu rumah sakit swasta di Sidoarjo itu, menyampaikan tentang suksesnya program rumah sakit yaitu gerakan membaca sholawat 5000 kali rutin setiap hari bagi pengurus, dan karyawan di rumah sakit tersebut. Dibilang sukses karena omset rumah sakit semakin besar. Jumlah pasien yang berobat naik signifikan hingga 300 persen.

            Menurut beliau, gerakan amalan itu adalah bagian dari ikhtiar doa bersama yang bertujuan agar rumah sakitnya semakin dipercaya. Bukan mendoakan agar banyak orang yang sakit, tetapi agar orang yang sakit itu berobatnya ke rumah sakit tersebut. Tidak kemana-mana. Dan nantinya kalau omset rumah sakit semakin besar maka semakin besar pula kesejahteraan yang akan diperoleh para karyawan.

  Beliau pun melanjutkan ulasannya. “Bagi kami, rumah sakit sudah menyiapkan SDM yang bagus, fasilitas juga lengkap tetapi kenapa tidak ada peningkatan jumlah pasien yang signifikan? Berarti ada yang kurang yaitu ikhtiar batin, maka dari itu energi spiritual yang harus ditingkatkan. Pengurus dan karyawan termasuk dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya hingga satpam mempunyai tanggungjawab baru yaitu menyelesaikan bacaan lima ribu sholawat setiap harinya. di sana akan terlihat banyak karyawan yang memegang tasbih elektrik."

Tulisan sederhana ini hanya pengingat saja, bukan wejangan yang mengulas secara panjang lebar apa itu energi spritual, yang sebagian besar dari kita sudah mengetahuinya.

Karena beliau menyampaikan itu semua di hadapan kepala sekolah, guru dan karyawan, tentunya beliau punya maksud agar sekolah bisa menirunya, sebagai ikhtiar mencari murid baru.  Bentuknya tidak harus sama, bisa dengan materi amalan yang lain, seperti istighotsah rutin, menghatamkan al-Qur’an satu minggu sekali, atau yang lainnya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa semakin dekat dengan Allah SWT, dan semua yang terjadi adalah atas kehendak-Nya.

Semakin dekatnya kita kepada Allah, akan membuat harapan dan keinginan kita akan segera terwujud. Sebagaimana hubungan kita dengan seseorang di dunia ini. Lebih dekatnya hubungan kita dengan seseorang, tentu kita yang akan lebih diperhatikan dibandingkan yang lain, yang kurang dekat dengan seseorang itu.  

Selanjutnya agar amalan itu tidak sia-sia, haruslah dilakukan dengan istikamah. Seorang hamba yang melazimkan sikap istikamah dalam melakukan amal salih maka dia kan dekat dengan Allah dan akan menjadi hamba yang dicintai-Nya.

Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Allah berfirman : “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang aku cintai daripada kewajiban yang aku bebankan kepadanya. Dan senantiasa (terus-menerus istiqamah) hamba-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya”.

Energi spiritual harusnya lebih diutamakan, karena dengan energi itu kita ingin ada campur tangan Allah dalam ikhtiar kita, bahkan sebelum kita berikhtiar. Kita berharap sejak awal, kita tidak salah dalam melangkah. Wallahu a’lam.  (2 September 2018)