Minggu, 11 Agustus 2019

Sacrifice and Love



Oleh: Mujianto

            Dalam suatu kesendirian sebelum tidur saya sering merenung tentang sesuatu hal yang siang hari saya temui. Biasanya saya tulis poin-poinnya di HP, lalu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Seperti halnya saat saya menyimak khutbah idul Adha. Menyimak dengan seksama kisah dan ulasan tentang pengorbanan Nabi Ibrahim mendapat perintah menyembelih Nabi Isma’il.

            Muncul suatu pertanyaan, apakah kita benar-benar memahami apa hikmah di balik peristiwa Idul Adha lebih dari sebuah pengorbanan? Apakah kita pernah merenung bagaimana mungkin Nabi Ibrahim bisa langsung percaya dengan validitas sebuah mimpi, apalagi isi mimpinya adalah untuk menyembelih putra kesayangannya. Bagaimana kalau mimpi itu terjadi pada diri kita. Tentu kebanyakan dari kita akan mencari alasan untuk tidak menghiraukan mimpi tersebut.

            Padahal, kalau kita perhatikan, semakin pandai seseorang maka semakin tinggi tingkat rasionalitasnya. Seperti para penemu, dan para filsuf. Begitu juga dengan Nabi Ibrahim, beliau sering mengedepankan rasionya. Mungkin pernah diceritakan oleh guru agama kita, ketika Nabi Ibrahim berdebat dengan raja Namrud yang mengaku sebagai Tuhan.

Namrud meminta Nabi Ibrahim membuktikan ketuhanan Allah. Nabi Ibrahim menjawab bahwa Allah Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Sang raja kemudian membunuh orang di sampingnya dengan pedang, dan merasa menang karena dia juga bisa mematikan layaknya seorang Tuhan. Nabi Ibrahim pun melanjutkan dengan mengatakan bahwa Allah yang menerbitkan matahari dari arah timur ke barat, dan meminta Namrud menerbitkannya dari arah Barat. Namrud tidak bisa. Sang raja pun kalah dalam perdebatan itu.

Banyak kisah di Al-Qur’an yang menunjukkan ketajaman pikiran Nabi Ibrahim. Seperti di surat al-An’am ayat 74-78. Namun kenapa saat bermimpi mendapatkan perintah menyembelih putranya bisa langsung percaya? Jawabannya adalah karena cinta. Kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah jauh melebihi kecintaan kepada putranya. Ketajaman rasionalitas Nabi Ibrahim tidak menjauhkan dirinya dari kebenaran, justru membawanya dalam kemantapan bahwa keimanannya harus diuji.

Pengorbanan tertinggi Nabi Ibrahim sebelum menyembelih putranya adalah pembenaran atas mimpinya sendiri. Pengorbanan tidak bisa dipisahkan dengan cinta. Mari kita ingat lagi bahwa perintah pertama peristiwa kurban adalah menyembelih Isma’il seorang anak yang lama diidam-idamkan. Bukan menyembelih kambing. Nabi Ibrahim adalah seorang yang kaya raya. Allah sudah tahu kalau Ibrahim sering bersedekah, berkurban ratusan unta dan ribuan kambing. Oleh karena itu Allah menguji cinta dan keimanan Nabi Ibrahim. Bagaimana kalau diuji menyembelih putranya yang tentunya lebih ia cintai dibandingkan kekayaannya.

Isma’il adalah gambaran apa saja yang kita cintai, yang kita banggakan. Seperti jabatan, harta,  popularitas, atau ilmu yang semua  itu atas pemberian Allah dan siap kita persembahkan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya.

Kita pun berusaha dan senantiasa berdoa. Semoga keluarga kita seperti keluarga Nabi Ibrahim. Keluarga yang dinaungi oleh rasa cinta. Sosok ayah yang menebarkan cinta, ibu yang penuh cinta dan anak sholih yang meneguhkan rasa cinta. Cinta kepada Allah harus melebihi cinta pada segala-galanya. Wallahu a’lam.

Rabu, 31 Juli 2019

MENAPAKI USIA 40 TAHUN



Oleh Mujianto, M.Pd.

Setiap kali membaca lowongan kerja, baik dari Whatsapp maupun iklan di surat kabar, tertulis klasifikasi batas usia pelamar, maksimal usia 35 tahun atau kurang dari 40 tahun. Permintaan usia maksimal 40 tahun biasanya untuk posisi yang lebih tinggi. Misalnya, kalau di perusahaan, ada di posisi General Manager, atau dosen di perguruan tinggi.

Hal tersebut membuat penulis ingin memahami, ada apa dengan seseorang yang usianya lebih dari 40 tahun? Mengapa instansi yang membuka lowongan kerja tidak menginginkan usia 40 tahun ke atas? Padahal dari segi pengalaman mereka lebih banyak. Dari segi pengetahuan pun mereka lebih mapan. Sebelum kita berselancar jauh, membahas misteri usia 40 tahun, mari kita simak ulasan dari seorang milyader sukses, yang sebelumnya jatuh bangun membesarkan bisnis dan kehidupannya.

Jack Ma pernah bercerita kepada anak-anak muda di Korea Selatan  dalam acara yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi di sana, tentang pandangan hidupnya. Jack Ma menjelaskan mengenai garis waktu yang akan kita lalui dalam kehidupan ketika menginjak usia 20 tahun hingga 60 tahun.

Jack Ma menuturkan, bahwa sebelum kita menginjak usia 20 tahun, jadilah murid yang baik. Banyaklah belajar untuk mendapatkan ilmu dan pelajaran hidup. Sebelum kita menginjak usia 30 tahun, ikutlah seseorang. Masuklah ke sebuah perusahaan atau instansi. Perusahaan besar bagus untuk kita mempelajari proses. Kita adalah bagian dari mesin besar itu. Sedangkan bekerja di perusahaan kecil, kita dapat belajar tentang passion dan semangat, kita juga belajar tentang mimpi dan harapan.

Jadi menurut Jack Ma sebelum usia 30 tahun, intinya bukan perusahaan mana yang kita tuju, tapi pimpinan mana yang kita ikuti. Pimpinan yang baik akan mengajari kita dengan cara yang berbeda. Kita bisa belajar cara berpikir dan keteladanannya.

Antara usia 30 sampai 40 tahun, kita perlu benar-benar memikirkan dan memutuskan, apakah kita ingin bekerja sendiri atau melanjutkan pekerjaan.

Antara usia 40 sampai 50 tahun, kita sudah harus melakukan hal yang sudah kita kuasai, mengasah dan mengembangkan bidang pekerjaan kita. Pada usia ini kita berusaha mengurangi memulai hal-hal baru yang belum kita kuasai. Umumnya, itu sudah terlambat. Kita bisa saja sukses tapi tingkat pengorbanannya harus tinggi.

Pada usia 50 sampai 60 tahun, percayakan pekerjaan pada anak muda. Mereka bekerja jauh lebih baik dari kita. Jadi andalkan mereka, berinvestasilah pada mereka. Dukung dan pastikan mereka bekerja dengan baik.

Ketika kita sudah di atas usia 60 tahun, perbanyaklah waktu bersama keluarga.

Dari ulasan Jack Ma di atas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa usia 40-50 tahun cenderung sulit diberi beban atau tugas baru di luar kemampuan yang dikuasai. Pegawai dengan usia 40-50 tahun tetap bisa berkomitmen dan bekerja dengan tim, namun biasanya ketika ada seseorang karyawan lain yang lebih muda usianya mempunyai ide baru, baginya bisa jadi adalah sesuatu yang ‘aneh’, muncul kewaspadaan. Pertimbangannya, kalau ide itu terlaksana apa tidak mengganggu kenyamanan yang sudah didapat selama ini. inilah sesuatu yang negatif, yang sering terjadi.

Usia 40 Tahun dalam Perspektif Islam

Saat usia  40 tahun inilah kondisi manusia telah benar-benar matang lahir dan batin. Nabi Muhammad Saw. diangkat oleh Allah Swt. sebagai Nabi dan Rasul dalam usia 40 tahun. Itulah salah satu rahasia Allah Swt. mengangkat nabi Muhammad Saw. sebagai nabi dan rasul dalam usia 40 tahun.

Allah Swt di dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaf  ayat 15 sudah memberi perhatian khusus pada usia 40 tahun yaitu, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

Menurut sebagian besar para ahli tafsir, usia 40 tahun disebut tersendiri pada ayat ini, karena pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupannya, baik dari segi fisik, intelektual, emosional, karya, maupun spiritualnya.

Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan beralih menapaki usia dewasa penuh. Apa yang dialami pada usia ini sifatnya stabil, dan mapan berpendirian. Perilaku di usia ini akan menjadi ukuran manusia pada usia-usia berikutnya.

Bila seseorang tidak berubah sifatnya setelah berumur 40 tahun, maka orang tersebut biasanya tidak akan berubah sifatnya untuk selamanya, hingga ajal datang menanti. Jadi sudah sangat sulit berubah.

Selaras dengan apa yang disampaikan Imam Al Ghazali dalam  kitabnya Ayyuhal Walad: “Barangsiapa yang telah melampui usia 40 tahun sedangkan kebaikannya tidak dapat mengalahkan kejahatannya, maka hendaklah dia mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam neraka.”

Sobat, usia 40 tahun kita jadikan sebagai warning untuk bersegera mengubah perilaku kita yang negatif menjadi sesuatu yang positif dan produktif. Nasib baik dan buruk kita, bukan bergantung pada orang lain tapi bergantung pada diri kita sendiri.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Ali-Imran ayat 133, Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa."

 



Rabu, 17 Juli 2019

Persaingan Sekolah dalam Bingkai Kemajuan



Oleh: Mujianto

Persaingan antar sekolah menjadikan para pemangku kebijakan seperti Kepala Sekolah harus 'bekerja' ekstra. Dalam hal apa? Tentunya dalam hal ide, dan program.

Walaupun guru yang nantinya akan berperan banyak, namun pada hakikatnya dalam lingkup lembaga atau sekolah, guru adalah pelaksana dari ide, dan program tersebut. Ada juga sekolah yang gurunya diajak berpikir untuk mengeluarkan idenya, seperti lewat rapat atau yang lainnya, namun kebijakan dan golnya sering kali tetapa ada pada pimpinan.

Prestasi yang mau diraih tiap sekolah tentunya hampir sama. Ada prestasi akademik, seperti nilai UN/USBN. Ada prestasi non akademik, seperti menjuarai lomba, unggul akhlak dll. sehingga prestasi-prestasi tersebut terakumulasi dan menyebabkan jumlah peserta didik baru semakin meningkat yang tidak hanya dari segi kuantitas, tetapi dari segi kualitasnya juga.

Bagaimana semua itu bisa diraih?

Sekolah lewat pemangku kebijakannya harus memahami betul karakter sekolahnya. Lewat pemahaman yang mendalam itu, didapati mana kelebihan dan kekurangan dari lembaganya tersebut, baru kemudian bisa memberi solusi, bergerak dari arah mana dulu, dengan melihat skala prioritas.

Amati-Tiru-Modifikasi

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, demi kamajuan sekolah kita harus merendahkan hati untuk bisa belajar dan mengakui keunggulan dari sekolah lain yang lebih baik. Kita tidak bisa acuh dengan bersandar pada ego dan kemampuan yang kita miliki. Ada sekolah yang setiap tahun menjadi langganan peringkat terbaik nilai UN (USBN/UNBK) di kecamatan. 

Ada juga sekolah yang nilai UN-nya biasa saja tetapi prestasi non akademik dan kuota PPDB setiap tahunnya selalu terpenuhi. Bahkan ada juga sekolah yang tiga hal di atas bisa diraih. Peringkat terbaik UN, prestasi non akademik menonjol dan PPDB terpenuhi.

Kebanyakan sekolah yang sudah maju tidak banyak berbenah dari segi teknis, maksudnya dari segi manajemen sekolah dan komitmen guru. Sepanjang pengamatan penulis,  sekolah maju mempunyai manajemen dan organisasi yang sudah bagus. Kepala sekolah, tenaga pendidik, dan kependidikan tahu tupoksinya masing-masing. Bahkan unsur-unsur tersebut semuanya bersaing dalam prestasi. Tentunya bersaing secara sehat.

Sekolah maju tidak lagi sibuk mengurusi guru terlambat, guru tidak melaksanakan tugas dll. Semua sudah tertata lewat tata tertib yang jelas dan tegas. Guru yang tidak bisa memenuhi tata tertib, sudah pasti akan terseleksi oleh alam (tata tertib). Mengundurkan diri atau tiba waktunya dikeluarkan oleh sekolah. Tidak ada lagi guru iri karena melihat temannya terlambat tapi tidak diberi sanksi, dan tidak ada lagi guru sibuk mengobrol tentang Kepala Sekolah yang terlihat santai-santai saja karena tidak ada tugas mengajar. 

Ada juga sekolah yang terlihat maju tetapi penuh dengan dilema. Sekolah ini mempunyai tata tertib yang tertata rapi, tetapi tidak pernah terlaksana, karena memang tidak ada tindak lanjut yang tegas. Mungkin, harapannya guru yang tidak disiplin itu sadar dengan sendirinya menjalankan peraturan walau tidak diproses. Faktanya kesadaran itu tidak akan pernah terjadi.

Mengamati perkembangan SDM sangatlah penting. Sudah tidak perlukah sekolah itu ada ketegasan tata tertib?. Kalau masih perlu ya tata tertib harus benar-benar dilaksanakan. Bagaimanapun di era milenial atau sekarang disebut era Revolusi Industri 4.0 tentunya peraturan sangatlah penting.

Kembali ke sub judul, metode sederhana ATM sudah banyak dilakukan. Kalau belum bisa menciptakan hal yang baru, bahkan belum bisa memodifikasi ide orang lain, meniru menjadi alternatif pilihan. Meniru tidak membuat diri kita rendah, karena meniru pun butuh ilmu dan proses yang serius. Meniru banyak dilakukan oleh sekolah yang sudah maju untuk lebih maju lagi. Meniru bisa dengan studi banding, kerjasama program atau kurikulum, pertukaran pelajar, dll.

Apa sebenarnya tujuan utama atau branding sekolah kita sehingga layak disebut berkualitas? Bagus nilai rata-rata UN kah? PPDB melebihi kuota kah? atau semua yang baik-baik, yang hebat-hebat menjadi tujuan kita? Kalau semuanya, maka kita harus segera bergerak. Prestasi UN bisa meniru program sekolah A, prestasi non akademik bisa meniru program sekolah B, dan seterusnya, tinggal kita menyesuaikan dengan kondisi sekolah kita.

Melalui tulisan sederhana ini, pertanyaan ‘sulit atau mudahkah memajukan sekolah itu?’ sungguh sangat bisa dijawab. Tentunya dengan mengedepankan akal sehat dan semangat kebersamaan dari semua pihak pertanyaan itu bisa dijawab mudah. Namun sebaliknya pertanyaan itu jawabannya bisa menjadi sulit bila yang bergerak maju hanya beberapa pihak.


Akhirnya proses harus terus berjalan, agar sekolah kita, sekolah Anda, sekolah saya tidak tergerus oleh perkembangan jaman. Kita yang berposisi sebagai guru, atau yang lagi dipercaya menjadi Kepala Sekolah bisa bersaing dan bersanding dengan mereka yang sudah lebih dulu berproses dalam kemajuan. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat!

Minggu, 02 September 2018

Energi Spiritual

Oleh Mujianto

 

            Dua minggu yang lalu tepatnya di tanggal 18 Agustus 2018, saya berkesempatan menemani istri mengikuti family gathering di sekolahnya. Kegiatan yang membolehkan mengajak anggota keluarganya ikut. Acaranya cukup padat. Ada kunjungan ke tempat wisata dan outbound-nya. Kegiatan outbound mampu memberi hiburan tersendiri, sekaligus meningkatkan kekompakkan guru, hingga menambah rasa kekeluargaan.

   Namun, bagi saya ada yang lebih berkesan dan membekas sampai saat ini. Yaitu sambutan yang disampaikan salah satu peserta, suami salah satu guru yang juga mantan guru dan sekarang menjadi pengurus yayasan di sekolah itu.

    Beliau yang sekarang bekerja sebagai supervisor di salah satu rumah sakit swasta di Sidoarjo itu, menyampaikan tentang suksesnya program rumah sakit yaitu gerakan membaca sholawat 5000 kali rutin setiap hari bagi pengurus, dan karyawan di rumah sakit tersebut. Dibilang sukses karena omset rumah sakit semakin besar. Jumlah pasien yang berobat naik signifikan hingga 300 persen.

            Menurut beliau, gerakan amalan itu adalah bagian dari ikhtiar doa bersama yang bertujuan agar rumah sakitnya semakin dipercaya. Bukan mendoakan agar banyak orang yang sakit, tetapi agar orang yang sakit itu berobatnya ke rumah sakit tersebut. Tidak kemana-mana. Dan nantinya kalau omset rumah sakit semakin besar maka semakin besar pula kesejahteraan yang akan diperoleh para karyawan.

  Beliau pun melanjutkan ulasannya. “Bagi kami, rumah sakit sudah menyiapkan SDM yang bagus, fasilitas juga lengkap tetapi kenapa tidak ada peningkatan jumlah pasien yang signifikan? Berarti ada yang kurang yaitu ikhtiar batin, maka dari itu energi spiritual yang harus ditingkatkan. Pengurus dan karyawan termasuk dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya hingga satpam mempunyai tanggungjawab baru yaitu menyelesaikan bacaan lima ribu sholawat setiap harinya. di sana akan terlihat banyak karyawan yang memegang tasbih elektrik."

Tulisan sederhana ini hanya pengingat saja, bukan wejangan yang mengulas secara panjang lebar apa itu energi spritual, yang sebagian besar dari kita sudah mengetahuinya.

Karena beliau menyampaikan itu semua di hadapan kepala sekolah, guru dan karyawan, tentunya beliau punya maksud agar sekolah bisa menirunya, sebagai ikhtiar mencari murid baru.  Bentuknya tidak harus sama, bisa dengan materi amalan yang lain, seperti istighotsah rutin, menghatamkan al-Qur’an satu minggu sekali, atau yang lainnya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa semakin dekat dengan Allah SWT, dan semua yang terjadi adalah atas kehendak-Nya.

Semakin dekatnya kita kepada Allah, akan membuat harapan dan keinginan kita akan segera terwujud. Sebagaimana hubungan kita dengan seseorang di dunia ini. Lebih dekatnya hubungan kita dengan seseorang, tentu kita yang akan lebih diperhatikan dibandingkan yang lain, yang kurang dekat dengan seseorang itu.  

Selanjutnya agar amalan itu tidak sia-sia, haruslah dilakukan dengan istikamah. Seorang hamba yang melazimkan sikap istikamah dalam melakukan amal salih maka dia kan dekat dengan Allah dan akan menjadi hamba yang dicintai-Nya.

Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Allah berfirman : “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang aku cintai daripada kewajiban yang aku bebankan kepadanya. Dan senantiasa (terus-menerus istiqamah) hamba-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya”.

Energi spiritual harusnya lebih diutamakan, karena dengan energi itu kita ingin ada campur tangan Allah dalam ikhtiar kita, bahkan sebelum kita berikhtiar. Kita berharap sejak awal, kita tidak salah dalam melangkah. Wallahu a’lam.  (2 September 2018)

 


Senin, 27 Agustus 2018

Menjadi Guru Penulis


Oleh: Mujianto, M.Pd.

Ketika kita mendengar atau melihat informasi tentang seseorang dengan karya tulisnya yang banyak, tentu ada rasa kepingin di benak kita. Ingin dalam artian bisa menirunya. Punya kemampuan untuk menulis dan menghasilkan karya. Apalagi karya tulis itu sudah dicetak atau diterbitkan. Sungguh membahagiakan. Senada dengan kata mutiara yang disampaikan oleh sayyidina Ali.

"Semua orang akan mati kecuali karyannya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak" (Ali bin Abi Thalib)

 

Seorang guru tidak bisa dilepaskan dari kegiatan menulis. Namun, tidak hanya sekadar rasa ingin, tetapi sudah dalam tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu memunculkan pemahaman pada dirinya bahwa guru harus punya kemampuan menulis. Tentunya yang saya maksud adalah menulis dalam arti luas. Seperti menulis karya ilmiah, opini, esai, karya sastra, dll.  Tapi pada kenyataanya masih sangat sedikit guru yang melakukannya. 

 

Saya yakin setiap guru punya kemampuan menulis. Akan tetapi kemampuan dan kemauan kadang tidak berjalan seimbang. hal itu disebabkan karena motivasinya yang relatif rendah, mungkin karena pengaruh lingkungan. Padahal, peluang guru menjadi seorang penulis sangatlah besar. Tentunya dengan kebiasaan guru membaca materi pelajaran sebelum mengajar menjadi modal pokok seorang guru menjadi penulis. Guru bisa mengawali menulis pelajaran yang dia ajarkan sendiri.

 

“Penulis yang baik, karena ia menjadi pembaca yang baik”.

 

Itulah ungkapan dari seorang Hernowo, penulis buku Mengikat Makna: Kiat-kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis. Bahwa kemampuan menulis memang harus diiringi dengan kebiasaan membaca. Dengan membaca, rohani kita akan mendapatkan ‘gizi’ yang baik. Apalagi program literasi di sekolah semakin digaung-gaungkan oleh Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) satu tahun ini.  Hal Ini bisa menjadi spirit tersendiri bagi seorang guru, yang tidak hanya sebagai warga sekolah tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai teladan. Kita tidak bisa serta merta menyuruh peserta didik untuk aktif membaca hingga berani menulis, sedangkan Anda sebagai guru tidak mau ikut larut di dalamnya, memberi contoh senang membaca dan berusaha membuat suatu karya tulis.

 

Saya pun aktif mencermati siapa sosok pemenang di event lomba Guru Berprestasi yang dulu disebut Guru Teladan. Ternyata sang juara adalah mereka yang aktif menulis baik di media cetak atau elektronik. Seperti Ahmadiyanto, peraih Juara Pertama Guru Berprestasi Jenjang SMP Tingkat Nasional 2017. Seorang guru PKn di SMPN 1 Lampihong Kab. Balangan berhasil mengharumkan nama Balangan dan Kalimantan Selatan di tingkat Nasional. Diketahui ia merupakan sosok yang gemar menulis termasuk artikel untuk media cetak sebelum mulai aktif mengikuti berbagai lomba guru.

 

Tulisan sederhana ini hanya untuk penyemangat bagi saya pribadi dan teman-teman guru, agar berperan aktif pada program literasi sekolah. Peserta didik butuh figur teladan untuk mengantarkan mereka memahami slogan bahwa membaca membuka cakrawala dunia itu apakah benar?, dan buku adalah jendela dunia itu apakah ya?. Mari kita jawab dengan karya! Memang menulis itu tidak mudah tapi harus segera dimulai agar menjadi terbiasa, karena semuanya butuh latihan, dan latihan. Wallahu a’lam.

 







Minggu, 19 Agustus 2018

Memaknai Kemerdekaan Seutuhnya



Oleh: Mujianto

Kita yang Belum Pernah Ikut Berperang

Memahami adalah langka awal dalam melakukan suatu hal. Pemahaman yang baik akan menghasilkan suatu yang baik pula. Terkait kemerdekaan, kita yang beruntung ini, kaum muda yang belum pernah merasakan perihnya penyiksaan, kejamnya pembunuhan, dan dasyatnya peperangan, tentu pemahaman tentang sebuah kemerdekaan tidak ‘setebal’ mereka para pejuang yang dengan gigih mempertahankan tanah air.
Peluru senjata api yang menembus anggota badan para pejuang memahamkan pada mereka bahwa badan yang sehat itu adalah anugerah. Sedangkan kerja paksa, perampasan dan pengasingan mengingatkan pada mereka bahwa kebebasan berpendapat, berkarya, dan menentukan nasib sendiri itu adalah segalanya. Mereka memahami dan terus berjuang menyudahi itu semua, agar jangan sampai anak-anak keturunannya dan rakyat Indonesia merasakan penderitaan yang sama.
            Kita yang belum pernah hidup pada masa penjajahan disarankan untuk mencoba merenung dalam kesendirian, membayangkan hingga muncul pemahaman lebih dalam mengenai perjuangan para pahlawan yang atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa diraihlah kemerdekaan.
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kemerdekaan adalah suatu keadaan di mana seseorang atau negara bisa berdiri sendiri, bebas dan tidak terjajah lagi.
            Dalam konteks kemerdekaan Republik Indonesia, kemerdekaan berarti rakyat Indonesia bebas dari segala penjajahan bangsa asing, terutama kolonialisme Belanda yang 3,5 abad telah menduduki dan menjajah bangsa Indonesia dengan segala sumber daya alamnya yang melimpah. Dengan proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia bebas menentukan  hidupnya secara mandiri tanpa dicampuri bangsa lain.
            Pertanyaan besar muncul. Apakah Indonesia benar-benar merdeka, khususnya merdeka dari pengaruh asing? Terutama kebijakan-kebijakan pemerintahannya?
            Atas nama investasi, tambang emas, kilang minyak, gas alam semuanya dikelola oleh pihak asing. Dan hasilnya sebagian besar dibawa mereka. Inilah yang disebut dengan penjajahan tidak langsung atau kita masih belum merdeka secara substansial. Bukannya kita hidup tidak bersosial, dengan tidak membutuhkan negara lain tetapi kemandirianlah yang perlu kita tonjolkan. Bahwa kita mampu bekerja dan berkarya untuk mengelola SDA kita sendiri.

Belajar dari Sejarah

            Ada hikmah besar di balik kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia memiliki kesempatan baru untuk melakukan pembangunan demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Akan tetapi setelah proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia belum bisa mengisi kemerdekaan, bangsa ini masih tetap berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya, karena masih ada negara yang tidak mengakui kedaulatan pemerintahan Republik Indonesia. Yaitu tentara Jepang dan sekutu. Seperti Pertempuran Surabaya tanggal 25 Oktober 1945, Pertempuran Lima Hari di Semarang tanggal 15 Oktober 1945, dan Pertempuran Ambara tanggal 15 Desember 1945.
            Setelah begitu susahnya meraih kemerdekaan dan mempertahankannya, kita rakyat Indonesia harus mampu berjuang pula dalam mengisinya. Berjuang sesuai dengan kemampuan dan profesi kita masing-masing.  Terutama mampu ‘membaca’ ulang sejarah menjadikannya sebagai dasar berprilaku.
Sejarah menjadi catatan terbaik untuk melangkah mau dibawa kemana negeri ini. Kolonialisme mengajarkan ketidakmanusiaan, kebengisan dan ketidakadilan. Ini sebuah tamparan keras bagi para elit yang duduk di pemerintahan agar tidak mengulang kembali ajaran kolonialisme, tetapi berjuang berusaha menyejahterakan rakyat. Berpura-pura bertindak atas nama rakyat, tetapi nyatanya hanya kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya.
Sebagai penutup tulisan ini, dalam konsep Islam, kita diingatkan bahwa kemerdekaan adalah hak setiap manusia, tetapi ada batasnya. Para pahlawan yang di antaranya adalah para ulama mengingatkan bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang dijadikan sebagai ‘pintu masuk’ untuk berbuat baik, membenahi diri, peduli sesama dan mengutamakan kepentingan bangsa, serta mengutamakan kehidupan akhirat.  Dalam Al-Qur’an surat An-Naazi’at ayat 37, “Orang yang malampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, sesungguhnya neraka adalah tempat tinggalnya”. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat!

Rabu, 08 Agustus 2018

Syukur Itu Bergerak dan Menggerakkan


0leh: Mujianto

Seratus kali dalam sehari saya mengingatkan diri bahwa kehidupan lahir batin saya bergantung pada pekerjaan orang lain, baik yang hidup maupun yang mati, dan bahwa saya harus memacu diri saya agar memberikan yang setara dengan yang sudah saya terima dan masih terus saya terima ini.” Albert Einsten (1879-1955). 

Ungkapan di atas adalah jawaban dari Albert Einstens, salah satu ilmuwan terbesar yang pernah hidup, ketika ditanya tentang pencapaian tertingginya. Ternyata bukan temuan-temuannya, tetapi mengucapkan terima kasih kepada orang lain bagi Einstens adalah pencapaian yang tertinggi.

Terima kasih adalah ungkapan syukur yang dikeluarkan dari lisan yang digerakkan dari hati untuk dilanjutkan ke syukur perbuatan. Allah SWT Maha Tahu bahwa sedikit sekali hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Allah SWT memberikan balasan yang berlimpah bagi mereka yang menggunakan dengan maksimal segala nikmat yang sudah diberikan-Nya dan mengancam dengan adzab yang pedih. Ini jelas bahwa ada hukum tarik menarik (law of attraction) dalam firman-Nya, bahwa setiap pribadi yang bersyukur akan Dia tambah nikmat kepadanya.

Kajian mengenai syukur begitu sering dikumandangkan. Baik melalui media maupun di mimbar dakwah. Namun terasa lewat begitu saja.  Di antara hal yang menyebabkan banyak orang tidak bertahan dalam rasa syukur adalah meningkatnya rasa cemas dan lemahnya motivasi meningkatkan kualitas diri melalui apa yang sudah dimilikinya. Oprah Winfrey punya konsep sederhana yang ia pegang untuk menjalani hari-hari dalam kehidupannya. Yaitu jika Anda fokus pada apa yang tidak Anda miliki, Anda tidak akan pernah merasa cukup dalam hal apapun. Sering kita mendengar atau mungkin juga kita mengalami hal mirip dengan fenomena ini. Di desa, ketika ada seorang anak melihat pesawat terbang lewat di atas kampungnya, si anak ini berkata kepada bapaknya. Dalam bahasa jawanya seperti ini. “Pak, iku montor molok yo Pak, aku kepingin numpak iku Pak”. Si bapak kemudian dengan cepat menjawab, “wis talah le, duwet teko endi, iku ngono sing iso numpak wong sugeh-sugeh, duwete akeh, lah awakmu iku ono sing dipangan dino iki ae wis untung, disyukuri ae, gak usah aneh-aneh.''  Ini adalah cara bersyukur yang kurang benar. Syukur diartikan menerima saja. Sampai-sampai si anak takut punya impian.

Ketika kebanyakan orang merasa lemah, kekurangan, dan memandang orang lain lebih beruntung. Maka orang ini dalam posisi diam, tidak bergerak, keinginan atau impian saja sebagai pendobrak awal perubahan sudah tidak dipunyai, apalagi berfikir atau berusaha sebagai bentuk ‘bergerak’ ke arah yang lebih baik. Maka ketika tidak ada pergerakan dari hamba-hamba-Nya, maka bisa jadi Allah tidak akan menggerakkan keajaiban-keajaibannya. 
  

Ada sebuah kisah menarik di zaman Nabi Musa. Pada suatu hari Nabi Musa didatangi seseorang dari kaumnya yang bernama Sa’id. Sa’id ini adalah saudagar kaya. Kekayaanya berlimpah. Ia bermaksud meminta resep ke Nabi Musa supaya kekayaannya tidak bertambah lagi atau bahkan dikurangi. Karena ia takut kekayaannya menyebabkan dirinya menunggu lama di hari penghisaban. Nabi Musa pun menjawab, memberikan resepnya, “jangan sekali-kali mengucapkan alhamdulillah.” Kontan saja si Sa’id kaget dan berkata, “bagaimana saya bisa tidak mengucapkan alhamdulillah, sedangkan segala nikmat dan apa yang sudah saya miliki ini adalah pemberian-Nya.” Sa’id itu pun pulang. Ia tetap selalu bersyukur dan mengucapkan alhamdulillah dalam dzikirnya. Kekayaan Sa’id pun bertambah dan selalu bertambah.

Berbeda ketika Nabi Musa didatangi seseorang dari kaumnya juga, yang bernama Syaki. Syaki datang ke rumah Nabi Musa. Ia menyampaikan keinginannya meminta resep agar ia bisa menjadi kaya. Nabi musa pun memberi resepnya agar ia selalu bersyukur dan sering mengucapkan alhamdulillah. Mendengar jawaban Nabi Musa seperti itu, Si Syaki ini kecewa. Ia menimpali, “bagaimana saya bisa bersyukur wahai Nabi, saya ini serba kekurangan dan tidak punya apa-apa, apa yang bisa saya syukuri.” Ia pun pulang dan tidak menjalankan saran dari Nabi Musa. Akhirnya Syaki ini hidupnya bertambah miskin.

Kisah di atas sangat menginspirasi kita. Bahwa sejak dulu sudah ditawarkan konsep sederhana namun sangat mujarab. Bahwa Nabi Musa tidak menyuruh yang lain kepada umatnya. Seperti menjadi pedagang, atau menjadi pemimpin, dsb., tetapi menyuruh senantiasa bersyukur.
 

Setelah kita bersyukur Selanjutnya kita lihat di dalam Al-Qur’an surat al-Jumu’ah ayat 10, Allah SWT berfirman “maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”  Wallahu a’lam.