Minggu, 11 Agustus 2019
Sacrifice and Love
Rabu, 31 Juli 2019
MENAPAKI USIA 40 TAHUN
Setiap kali membaca lowongan kerja, baik dari Whatsapp maupun iklan di surat kabar, tertulis klasifikasi batas usia pelamar, maksimal usia 35 tahun atau kurang dari 40 tahun. Permintaan usia maksimal 40 tahun biasanya untuk posisi yang lebih tinggi. Misalnya, kalau di perusahaan, ada di posisi General Manager, atau dosen di perguruan tinggi.
Hal tersebut membuat penulis ingin memahami, ada apa dengan seseorang yang usianya lebih dari 40 tahun? Mengapa instansi yang membuka lowongan kerja tidak menginginkan usia 40 tahun ke atas? Padahal dari segi pengalaman mereka lebih banyak. Dari segi pengetahuan pun mereka lebih mapan. Sebelum kita berselancar jauh, membahas misteri usia 40 tahun, mari kita simak ulasan dari seorang milyader sukses, yang sebelumnya jatuh bangun membesarkan bisnis dan kehidupannya.
Jack Ma pernah bercerita kepada anak-anak muda di Korea Selatan dalam acara yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi di sana, tentang pandangan hidupnya. Jack Ma menjelaskan mengenai garis waktu yang akan kita lalui dalam kehidupan ketika menginjak usia 20 tahun hingga 60 tahun.
Jack Ma menuturkan, bahwa sebelum kita menginjak usia 20 tahun, jadilah murid yang baik. Banyaklah belajar untuk mendapatkan ilmu dan pelajaran hidup. Sebelum kita menginjak usia 30 tahun, ikutlah seseorang. Masuklah ke sebuah perusahaan atau instansi. Perusahaan besar bagus untuk kita mempelajari proses. Kita adalah bagian dari mesin besar itu. Sedangkan bekerja di perusahaan kecil, kita dapat belajar tentang passion dan semangat, kita juga belajar tentang mimpi dan harapan.
Jadi menurut Jack Ma sebelum usia 30 tahun, intinya bukan perusahaan mana yang kita tuju, tapi pimpinan mana yang kita ikuti. Pimpinan yang baik akan mengajari kita dengan cara yang berbeda. Kita bisa belajar cara berpikir dan keteladanannya.
Antara usia 30 sampai 40 tahun, kita perlu benar-benar memikirkan dan memutuskan, apakah kita ingin bekerja sendiri atau melanjutkan pekerjaan.
Antara usia 40 sampai 50 tahun, kita sudah harus melakukan hal yang sudah kita kuasai, mengasah dan mengembangkan bidang pekerjaan kita. Pada usia ini kita berusaha mengurangi memulai hal-hal baru yang belum kita kuasai. Umumnya, itu sudah terlambat. Kita bisa saja sukses tapi tingkat pengorbanannya harus tinggi.
Pada usia 50 sampai 60 tahun, percayakan pekerjaan pada anak muda. Mereka bekerja jauh lebih baik dari kita. Jadi andalkan mereka, berinvestasilah pada mereka. Dukung dan pastikan mereka bekerja dengan baik.
Ketika kita sudah di atas usia 60 tahun, perbanyaklah waktu bersama keluarga.
Dari ulasan Jack Ma di atas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa usia 40-50 tahun cenderung sulit diberi beban atau tugas baru di luar kemampuan yang dikuasai. Pegawai dengan usia 40-50 tahun tetap bisa berkomitmen dan bekerja dengan tim, namun biasanya ketika ada seseorang karyawan lain yang lebih muda usianya mempunyai ide baru, baginya bisa jadi adalah sesuatu yang ‘aneh’, muncul kewaspadaan. Pertimbangannya, kalau ide itu terlaksana apa tidak mengganggu kenyamanan yang sudah didapat selama ini. inilah sesuatu yang negatif, yang sering terjadi.
Usia 40 Tahun dalam Perspektif Islam
Saat usia 40 tahun inilah kondisi manusia telah benar-benar matang lahir dan batin. Nabi Muhammad Saw. diangkat oleh Allah Swt. sebagai Nabi dan Rasul dalam usia 40 tahun. Itulah salah satu rahasia Allah Swt. mengangkat nabi Muhammad Saw. sebagai nabi dan rasul dalam usia 40 tahun.
Allah Swt di dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaf ayat 15 sudah memberi perhatian khusus pada usia 40 tahun yaitu, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”
Menurut sebagian besar para ahli tafsir, usia 40 tahun disebut tersendiri pada ayat ini, karena pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupannya, baik dari segi fisik, intelektual, emosional, karya, maupun spiritualnya.
Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan beralih menapaki usia dewasa penuh. Apa yang dialami pada usia ini sifatnya stabil, dan mapan berpendirian. Perilaku di usia ini akan menjadi ukuran manusia pada usia-usia berikutnya.
Bila seseorang tidak berubah sifatnya setelah berumur 40 tahun, maka orang tersebut biasanya tidak akan berubah sifatnya untuk selamanya, hingga ajal datang menanti. Jadi sudah sangat sulit berubah.
Selaras dengan apa yang disampaikan Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ayyuhal Walad: “Barangsiapa yang telah melampui usia 40 tahun sedangkan kebaikannya tidak dapat mengalahkan kejahatannya, maka hendaklah dia mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam neraka.”
Sobat, usia 40 tahun kita jadikan sebagai warning untuk bersegera mengubah perilaku kita yang negatif menjadi sesuatu yang positif dan produktif. Nasib baik dan buruk kita, bukan bergantung pada orang lain tapi bergantung pada diri kita sendiri.
Allah Swt.
berfirman dalam Surat Ali-Imran ayat 133, “Dan bersegeralah kamu kepada
ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa."
Rabu, 17 Juli 2019
Persaingan Sekolah dalam Bingkai Kemajuan
Walaupun guru yang nantinya akan berperan banyak, namun pada hakikatnya dalam lingkup lembaga atau sekolah, guru adalah pelaksana dari ide, dan program tersebut. Ada juga sekolah yang gurunya diajak berpikir untuk mengeluarkan idenya, seperti lewat rapat atau yang lainnya, namun kebijakan dan golnya sering kali tetapa ada pada pimpinan.
Ada juga sekolah yang nilai UN-nya biasa saja tetapi prestasi non akademik dan kuota PPDB setiap tahunnya selalu terpenuhi. Bahkan ada juga sekolah yang tiga hal di atas bisa diraih. Peringkat terbaik UN, prestasi non akademik menonjol dan PPDB terpenuhi.
Akhirnya proses harus terus berjalan, agar sekolah kita, sekolah Anda, sekolah saya tidak tergerus oleh perkembangan jaman. Kita yang berposisi sebagai guru, atau yang lagi dipercaya menjadi Kepala Sekolah bisa bersaing dan bersanding dengan mereka yang sudah lebih dulu berproses dalam kemajuan. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat!
Minggu, 02 September 2018
Energi Spiritual
Oleh Mujianto
Dua minggu yang lalu tepatnya di tanggal 18 Agustus 2018, saya berkesempatan menemani istri mengikuti family gathering di sekolahnya. Kegiatan yang membolehkan mengajak anggota keluarganya ikut. Acaranya cukup padat. Ada kunjungan ke tempat wisata dan outbound-nya. Kegiatan outbound mampu memberi hiburan tersendiri, sekaligus meningkatkan kekompakkan guru, hingga menambah rasa kekeluargaan.
Namun, bagi saya ada yang lebih berkesan dan membekas sampai saat ini. Yaitu sambutan yang disampaikan salah satu peserta, suami salah satu guru yang juga mantan guru dan sekarang menjadi pengurus yayasan di sekolah itu.
Beliau yang sekarang bekerja sebagai supervisor di salah satu rumah sakit swasta di Sidoarjo itu, menyampaikan tentang suksesnya program rumah sakit yaitu gerakan membaca sholawat 5000 kali rutin setiap hari bagi pengurus, dan karyawan di rumah sakit tersebut. Dibilang sukses karena omset rumah sakit semakin besar. Jumlah pasien yang berobat naik signifikan hingga 300 persen.
Menurut beliau, gerakan amalan itu adalah bagian dari ikhtiar doa bersama yang bertujuan agar rumah sakitnya semakin dipercaya. Bukan mendoakan agar banyak orang yang sakit, tetapi agar orang yang sakit itu berobatnya ke rumah sakit tersebut. Tidak kemana-mana. Dan nantinya kalau omset rumah sakit semakin besar maka semakin besar pula kesejahteraan yang akan diperoleh para karyawan.
Beliau pun melanjutkan ulasannya. “Bagi kami, rumah sakit sudah menyiapkan SDM yang bagus, fasilitas juga lengkap tetapi kenapa tidak ada peningkatan jumlah pasien yang signifikan? Berarti ada yang kurang yaitu ikhtiar batin, maka dari itu energi spiritual yang harus ditingkatkan. Pengurus dan karyawan termasuk dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya hingga satpam mempunyai tanggungjawab baru yaitu menyelesaikan bacaan lima ribu sholawat setiap harinya. di sana akan terlihat banyak karyawan yang memegang tasbih elektrik."
Tulisan sederhana ini hanya pengingat saja, bukan wejangan yang mengulas secara panjang lebar apa itu energi spritual, yang sebagian besar dari kita sudah mengetahuinya.
Karena beliau menyampaikan itu semua di hadapan kepala sekolah, guru dan karyawan, tentunya beliau punya maksud agar sekolah bisa menirunya, sebagai ikhtiar mencari murid baru. Bentuknya tidak harus sama, bisa dengan materi amalan yang lain, seperti istighotsah rutin, menghatamkan al-Qur’an satu minggu sekali, atau yang lainnya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa semakin dekat dengan Allah SWT, dan semua yang terjadi adalah atas kehendak-Nya.
Semakin dekatnya kita kepada Allah, akan membuat harapan dan keinginan kita akan segera terwujud. Sebagaimana hubungan kita dengan seseorang di dunia ini. Lebih dekatnya hubungan kita dengan seseorang, tentu kita yang akan lebih diperhatikan dibandingkan yang lain, yang kurang dekat dengan seseorang itu.
Selanjutnya agar amalan itu tidak sia-sia, haruslah dilakukan
dengan istikamah. Seorang hamba yang melazimkan sikap istikamah dalam melakukan
amal salih maka dia kan dekat dengan Allah dan akan menjadi hamba yang dicintai-Nya.
Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Allah berfirman : “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang aku cintai daripada kewajiban yang aku bebankan kepadanya. Dan senantiasa (terus-menerus istiqamah) hamba-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya”.
Energi spiritual harusnya lebih diutamakan, karena dengan energi
itu kita ingin ada campur tangan Allah dalam ikhtiar kita, bahkan sebelum kita
berikhtiar. Kita berharap sejak awal, kita tidak salah dalam melangkah. Wallahu
a’lam. (2 September 2018)
Senin, 27 Agustus 2018
Menjadi Guru Penulis
Ketika
kita mendengar atau melihat informasi tentang seseorang dengan karya tulisnya
yang banyak, tentu ada rasa kepingin di benak kita. Ingin
dalam artian bisa menirunya. Punya kemampuan untuk menulis dan menghasilkan karya.
Apalagi karya tulis itu sudah dicetak atau diterbitkan. Sungguh membahagiakan.
Senada dengan kata mutiara yang disampaikan oleh sayyidina Ali.
"Semua orang akan mati kecuali karyannya, maka tulislah sesuatu yang
akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak" (Ali bin Abi Thalib)
Seorang
guru tidak bisa dilepaskan dari kegiatan menulis. Namun, tidak hanya sekadar
rasa ingin, tetapi sudah dalam tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu memunculkan
pemahaman pada dirinya bahwa guru harus punya kemampuan menulis. Tentunya yang
saya maksud adalah menulis dalam arti luas. Seperti menulis karya ilmiah,
opini, esai, karya sastra, dll. Tapi pada kenyataanya masih sangat
sedikit guru yang melakukannya.
Saya
yakin setiap guru punya kemampuan menulis. Akan tetapi kemampuan dan kemauan
kadang tidak berjalan seimbang. hal itu disebabkan karena motivasinya yang
relatif rendah, mungkin karena pengaruh lingkungan. Padahal, peluang guru
menjadi seorang penulis sangatlah besar. Tentunya dengan kebiasaan guru membaca
materi pelajaran sebelum mengajar menjadi modal pokok seorang guru menjadi
penulis. Guru bisa mengawali menulis pelajaran yang dia ajarkan sendiri.
“Penulis
yang baik, karena ia menjadi pembaca yang baik”.
Itulah
ungkapan dari seorang Hernowo, penulis buku Mengikat Makna: Kiat-kiat
Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis. Bahwa
kemampuan menulis memang harus diiringi dengan kebiasaan membaca. Dengan
membaca, rohani kita akan mendapatkan ‘gizi’ yang baik. Apalagi program
literasi di sekolah semakin digaung-gaungkan oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) satu tahun
ini. Hal Ini bisa menjadi spirit tersendiri bagi
seorang guru, yang tidak hanya sebagai warga sekolah tetapi lebih dari itu,
yaitu sebagai teladan. Kita tidak bisa serta merta menyuruh peserta didik untuk
aktif membaca hingga berani menulis, sedangkan Anda sebagai guru tidak mau ikut
larut di dalamnya, memberi contoh senang membaca dan berusaha membuat suatu
karya tulis.
Saya
pun aktif mencermati siapa sosok pemenang di event lomba Guru
Berprestasi yang dulu disebut Guru Teladan. Ternyata sang juara adalah mereka
yang aktif menulis baik di media cetak atau elektronik. Seperti Ahmadiyanto,
peraih Juara Pertama Guru Berprestasi Jenjang SMP Tingkat Nasional 2017. Seorang guru PKn di SMPN 1
Lampihong Kab. Balangan berhasil mengharumkan nama Balangan dan Kalimantan
Selatan di tingkat Nasional. Diketahui ia merupakan sosok yang gemar menulis
termasuk artikel untuk media cetak sebelum mulai aktif mengikuti berbagai lomba
guru.
Tulisan
sederhana ini hanya untuk penyemangat bagi saya pribadi dan teman-teman guru,
agar berperan aktif pada program literasi sekolah. Peserta didik butuh figur
teladan untuk mengantarkan mereka memahami slogan bahwa membaca membuka
cakrawala dunia itu apakah benar?, dan buku adalah jendela
dunia itu apakah ya?. Mari kita jawab dengan karya! Memang menulis itu
tidak mudah tapi harus segera dimulai agar menjadi terbiasa, karena semuanya
butuh latihan, dan latihan. Wallahu a’lam.
Minggu, 19 Agustus 2018
Memaknai Kemerdekaan Seutuhnya
Rabu, 08 Agustus 2018
Syukur Itu Bergerak dan Menggerakkan
Ungkapan di atas adalah
jawaban dari Albert Einstens, salah satu ilmuwan terbesar yang pernah hidup,
ketika ditanya tentang pencapaian tertingginya. Ternyata bukan temuan-temuannya,
tetapi mengucapkan terima kasih kepada orang lain bagi Einstens adalah
pencapaian yang tertinggi.
Terima kasih adalah
ungkapan syukur yang dikeluarkan dari lisan yang digerakkan dari hati untuk
dilanjutkan ke syukur perbuatan. Allah SWT Maha Tahu bahwa sedikit sekali
hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Allah SWT memberikan balasan yang berlimpah
bagi mereka yang menggunakan dengan maksimal segala nikmat yang sudah
diberikan-Nya dan mengancam dengan adzab yang pedih. Ini jelas bahwa ada hukum
tarik menarik (law of attraction) dalam firman-Nya, bahwa setiap pribadi yang
bersyukur akan Dia tambah nikmat kepadanya.
Kajian mengenai syukur
begitu sering dikumandangkan. Baik melalui media maupun di mimbar dakwah. Namun
terasa lewat begitu saja. Di antara hal yang menyebabkan banyak
orang tidak bertahan dalam rasa syukur adalah meningkatnya rasa cemas dan
lemahnya motivasi meningkatkan kualitas diri melalui apa yang sudah
dimilikinya. Oprah Winfrey punya konsep sederhana yang ia pegang untuk
menjalani hari-hari dalam kehidupannya. Yaitu jika Anda fokus pada apa
yang tidak Anda miliki, Anda tidak akan pernah merasa cukup dalam hal apapun. Sering
kita mendengar atau mungkin juga kita mengalami hal mirip dengan fenomena ini.
Di desa, ketika ada seorang anak melihat pesawat terbang lewat di atas
kampungnya, si anak ini berkata kepada bapaknya. Dalam bahasa jawanya seperti
ini. “Pak, iku montor molok yo Pak, aku kepingin numpak iku Pak”.
Si bapak kemudian dengan cepat menjawab, “wis talah le, duwet teko
endi, iku ngono sing iso numpak wong sugeh-sugeh, duwete akeh, lah awakmu iku
ono sing dipangan dino iki ae wis untung, disyukuri ae, gak usah aneh-aneh.'' Ini
adalah cara bersyukur yang kurang benar. Syukur diartikan menerima saja.
Sampai-sampai si anak takut punya impian.
Ketika kebanyakan orang
merasa lemah, kekurangan, dan memandang orang lain lebih beruntung. Maka orang
ini dalam posisi diam, tidak bergerak, keinginan atau impian saja sebagai
pendobrak awal perubahan sudah tidak dipunyai, apalagi berfikir atau berusaha
sebagai bentuk ‘bergerak’ ke arah yang lebih baik. Maka ketika tidak ada
pergerakan dari hamba-hamba-Nya, maka bisa jadi Allah tidak akan menggerakkan
keajaiban-keajaibannya.
Ada sebuah kisah menarik
di zaman Nabi Musa. Pada suatu hari Nabi Musa didatangi seseorang dari kaumnya
yang bernama Sa’id. Sa’id ini adalah saudagar kaya. Kekayaanya berlimpah. Ia
bermaksud meminta resep ke Nabi Musa supaya kekayaannya tidak bertambah lagi
atau bahkan dikurangi. Karena ia takut kekayaannya menyebabkan dirinya menunggu
lama di hari penghisaban. Nabi Musa pun menjawab, memberikan resepnya, “jangan
sekali-kali mengucapkan alhamdulillah.” Kontan saja si Sa’id kaget dan
berkata, “bagaimana saya bisa tidak mengucapkan alhamdulillah,
sedangkan segala nikmat dan apa yang sudah saya miliki ini adalah
pemberian-Nya.” Sa’id itu pun pulang. Ia tetap selalu bersyukur dan
mengucapkan alhamdulillah dalam dzikirnya. Kekayaan Sa’id pun bertambah dan
selalu bertambah.
Berbeda ketika Nabi Musa
didatangi seseorang dari kaumnya juga, yang bernama Syaki. Syaki datang ke
rumah Nabi Musa. Ia menyampaikan keinginannya meminta resep agar ia bisa
menjadi kaya. Nabi musa pun memberi resepnya agar ia selalu bersyukur dan
sering mengucapkan alhamdulillah. Mendengar jawaban Nabi Musa seperti itu, Si
Syaki ini kecewa. Ia menimpali, “bagaimana saya bisa bersyukur wahai
Nabi, saya ini serba kekurangan dan tidak punya apa-apa, apa yang bisa saya
syukuri.” Ia pun pulang dan tidak menjalankan saran dari Nabi Musa.
Akhirnya Syaki ini hidupnya bertambah miskin.
Kisah di atas sangat
menginspirasi kita. Bahwa sejak dulu sudah ditawarkan konsep sederhana namun
sangat mujarab. Bahwa Nabi Musa tidak menyuruh yang lain kepada umatnya.
Seperti menjadi pedagang, atau menjadi pemimpin, dsb., tetapi menyuruh
senantiasa bersyukur.
Setelah kita bersyukur
Selanjutnya kita lihat di dalam Al-Qur’an surat al-Jumu’ah ayat 10, Allah SWT
berfirman “maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah
dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” Wallahu
a’lam.





