Minggu, 05 Juli 2026

Ketika Ibadah Tak Menyentuh Hati: Mengulik Akar Sombong dan Suka Merendahkan Orang Lain pada Ahli Ibadah

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Sudah beberapa hari saya ingin menuliskan artikel ini, tetapi selalu saja ada alasan untuk menundanya. Kesibukan, rasa lelah, atau pikiran bahwa "nanti saja kalau ada waktu" menjadi penghalang hingga akhirnya penulis tersadar bahwa menunda kebaikan adalah salah satu pintu yang sering dimanfaatkan setan untuk melemahkan semangat. Padahal, persoalan yang akan dibahas dalam tulisan ini sangat penting untuk menjadi bahan renungan bersama. Khususnya, sebagai pengingat bagi penulis sendiri.

Tidak sedikit kita menjumpai seseorang yang tampak sangat tekun menjalankan ibadah. Ia tidak pernah meninggalkan salat berjamaah, rajin berpuasa sunah, dan gemar membaca Al-Qur'an. Namun, di sisi lain, setiap berbicara lisannya sering menyakiti orang lain, sikapnya meremehkan sesama, merasa dirinya paling benar, bahkan memandang rendah orang yang dianggap kurang salih atau tidak seperti dirinya. Fenomena ini mengundang pertanyaan besar, mengapa ibadah yang begitu banyak belum mampu melahirkan akhlak yang mulia? Apakah ada yang salah dengan ibadahnya? Mari kita uraikan pelan-pelan jawabannya.

Akar yang pertama, adanya Penyakit Hati. Mengapa ibadah yang demikian tidak melahirkan akhlak tawadhu? Jawabannya karena ibadah itu berhenti di anggota badan, belum sampai menyentuh bagian yang lain, sehingga penyakit hati masih bersemayam. Dan para ulama menyebut dua penyakit hati utama di balik fenomena ini adalah Riya dan Ujub.

Riya adalah beribadah agar dilihat dan dipuji manusia. Ujub adalah bangga terhadap amal sendiri sehingga merasa lebih mulia dari orang lain. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya” HR. Bukhari. 

Ketika niat bergeser dari "karena Allah" menjadi "agar dianggap salih", maka ibadah berubah fungsi. Ia bukan lagi tangga menuju Allah, melainkan panggung untuk menaikkan status sosial. Dari sinilah lahir perasaan: “Saya kan rajin salat berjamaah dan puasa, masa kalah sama dia yang tidak puasa dan jarang ke masjid.” Perasaan inilah awal mula sifat sombong.

Akar yang kedua, Peringatan Al-Qur’an tentang Salat Tanpa Jiwa. Ternyata, orang yang salat mendapat teguran dari al-Qur’an. Siapakah itu? Allah berfirman dalam surat al-Ma’un ayat 4-6.  : “Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya, yang berbuat riya” Kata “sahyun” artinya lalai. Lalai bukan berarti meninggalkan salat, tapi salatnya hanya badannya yang hadir.

Tidak ada yang salah dengan gerakan dan bacaannya, tapi hatinya melayang. Tidak ada tadabbur, khususnya penghayatan tentang lafaz takbir yang sering dibaca dalam salat, bahwa Allah Maha Besar, tidak ada yang melebihi atas kekuasaanya, dengan kata lain, selain Allah semua kecil, tak berdaya, dan tidak ada apa-apanya. Salat dengan tidak memerhatikan kualitas ini, tentu tidak akan mampu mengikis kesombongan. Standar Allah tentang sikap sombong tidak berubah. Sifat sombong tidak disukai Allah. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” QS. An-Nisa ayat 36. Tidak ada pengecualian, walau dia rajin tahajud dan lain sebagainya.”

Akar yang ketiga, adanya Potret Orang Bangkrut di Hari Kiamat. Sudah digambarkan adanya satu golongan di hari kiamat, yang disebut di salah satu hadits yang paling menakutkan yaitu tentang “orang bangkrut”. Nabi Saw. bersabda: “Tahukah kalian siapa orang bangkrut itu?” Sahabat menjawab “Yang tidak punya harta.” kemudian Nabi Saw. menjawab: “Orang bangkrut dari umatku adalah yang datang di hari kiamat dengan pahala salat, puasa, zakat. Tapi dia pernah mencaci, menuduh, berbuat zalim, dan memakan harta atau hak orang lain. Maka kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang yang dizaliminya. Jika pahalanya habis, dosa orang yang dizalimi itu ditimpakan kepadanya, lalu dia dilempar ke neraka” HR. Muslim. Memahami ini, ternyata salat dan puasa bisa ludes karena lisan yang suka merendahkan dan menzalimi orang lain. Ini bukti bahwa Allah tidak hanya menilai kuantitas ibadah, tapi juga kualitasnya.

Sebagai penutup, lewat tulisan sederhana ini, penulis menjadikannya sebagai peringatan dan cermin muhasabah diri bukan sebagai alat untuk menghakimi orang lain. Sebab, yang paling membutuhkan perbaikan adalah hati kita sendiri. Selanjutnya adalah kembali meneladani Nabi Saw. Beliau manusia paling mulia, paling banyak ibadahnya, tapi paling tawadhu.

Di antara kunci tawadhu adalah mengingat bahwa semua nikmat termasuk hidayah salat adalah pemberian Allah. Kita tidak tahu akhir hidup seseorang. Bisa jadi ahli maksiat yang kita hina, mati dalam keadaan husnul khatimah. Dan penilai amal hanyalah Allah. “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” QS. An-Najm ayat 32. Wallahu a’lam bis-sawab. Semoga bermanfaat!

Minggu, 17 Mei 2026

MASIH ADA KEHIDUPAN AKHIRAT

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

 

“Dunia sedang pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat sedang datang mendekat. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia.”

(Ali bin Abi Thalib)

 

“Barang siapa mengenal hakikat dunia, maka ia tidak akan tertipu olehnya. Dan barang siapa yakin kepada akhirat, maka ia akan mempersiapkan bekalnya.”

(Imam Al-Ghazali)

 

Saat ini tampak sekali, sebagian besar manusia berbondong-bondong mengejar dunianya dengan begitu keras, seolah-olah kehidupan hanya berhenti pada kenikmatan yang terlihat oleh jangkauan mata. Ukuran keberhasilan pun sering kali hanya dinilai dari banyaknya simpanan materi, luasnya pengaruh, dan tingginya kedudukan sosial.

Dunia memang menawarkan kenyamanan yang membuat manusia terlena, hingga lupa bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan. Tidak sedikit yang merasa dirinya kuat karena harta, merasa aman karena jabatan, dan merasa mulia karena tervalidasi oleh pujian manusia.

Manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan yang sangat kuat terhadap kehidupan dunia. Hati manusia mudah terpikat oleh sesuatu yang terlihat indah, menjanjikan kenyamanan, dan memberikan kepuasan. Dunia akhirnya tidak lagi dipandang sebagai sarana menjalani amanah kehidupan, tetapi berubah menjadi tujuan utama yang diperebutkan tanpa batas.

Kehidupan modern pun semakin memperkuat kecenderungan manusia untuk mencintai dunia. Pemanfaatan media sosial yang tidak tepat menambah sarana budaya pamer. Persaingan gaya hidup membuat banyak orang merasa harus selalu terlihat berhasil di hadapan orang lain.

Akibatnya, banyak orang hidup dalam tekanan untuk terus mengejar standar kesuksesan yang sebenarnya semu. Mereka tampak bahagia di luar, tetapi di dalam hatinya dipenuhi kecemasan dan kelelahan.

Dalam Al-Qur’an Allah Swt. sudah mengingatkan, “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali ‘Imran: 14).

 

Di Kehidupan Akhirat Ada Keadilan Sejati

Kehidupan akhirat mengajarkan bahwa keadilan sejati tidak selalu selesai di dunia. Banyak orang baik hidup dalam kesulitan, sementara sebagian pelaku kejahatan justru tampak menikmati hidupnya tanpa rasa takut. Jika manusia hanya percaya pada kehidupan dunia, tentu mereka akan menilai, bahwa semua itu  tidaklah adil.

Namun akhirat hadir sebagai jawaban bahwa Allah tidak pernah lalai terhadap apa yang dilakukan manusia. Akan ada hari ketika seluruh rahasia dibuka, seluruh kedustaan dihancurkan, dan seluruh hak dikembalikan kepada pemiliknya. Hari itu tidak ada kekuasaan yang mampu menyelamatkan seseorang selain rahmat Allah dan amal salehnya.

Banyak orang baru menyadari pentingnya akhirat ketika musibah datang menghampiri. Saat sakit, kehilangan orang tercinta, atau berada dalam titik terendah kehidupan, manusia mulai memahami betapa lemah dirinya.

Mengingat akhirat tidak berarti menjadikan seseorang meninggalkan dunia sepenuhnya. Islam mengajarkan keseimbangan antara bekerja untuk kehidupan dunia dan mempersiapkan bekal akhirat. Dunia adalah ladang amal. Di sinilah manusia diberi kesempatan menanam kebaikan sebanyak mungkin.

Senyum yang tulus, membantu sesama, mendidik anak dengan baik, menjaga kejujuran dalam pekerjaan, tidak menzalimi orang lain, hingga menahan diri dari menyakiti orang lain merupakan investasi yang nilainya akan terlihat di akhirat kelak.

Pada akhirnya, setiap manusia sedang berjalan menuju satu tujuan yang sama, yaitu kembali kepada Allah. Cepat atau lambat, semua akan meninggalkan dunia yang dicintainya. Rumah, kendaraan, dan segala kebanggaan dunia tidak akan ikut masuk ke liang kubur.

Allah SWT. berfirman, “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An‘am: 32).

Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, tetapi juga bukan untuk dicintai secara berlebihan.

Manusia yang bijak adalah manusia yang mampu memanfaatkan dunia tanpa diperbudak olehnya. Ia sadar bahwa kehidupan yang abadi adalah akhirat. Kesadaran inilah yang akan membuat manusia memiliki tujuan hidup yang benar, bersyukur, dan lebih tenang. Wallahu a’lam.

Selasa, 09 September 2025

Cara Pandang

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Cara pandang adalah perspektif atau sudut pandang yang digunakan seseorang dalam menilai suatu hal, baik itu peristiwa, orang lain, maupun dirinya sendiri. Cara pandang tidak terbentuk secara instan, melainkan hasil dari proses panjang yang dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman hidup, hingga lingkungan sosial.

Setiap orang memiliki cara pandang yang unik, namun tidak semua cara pandang membawa dampak positif. Ada yang terbuka, kritis, dan toleran, namun ada pula yang sempit, kaku, bahkan diskriminatif. Oleh karena itu, penting untuk mengasah dan mengembangkan cara pandang agar tidak hanya didasarkan pada prasangka atau emosi sesaat, melainkan pada pertimbangan yang rasional, dan bijaksana.

 

Meningkatkan Kualitas Cara Pandang

Dalam kehidupan sehari-hari, cara pandang berpengaruh besar terhadap sikap, pengambilan keputusan, serta relasi sosial. Oleh karena itu, mengasah cara pandang menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter dan kebijaksanaan pribadi. Apalagi yang sedang mempunyai amanat sebagai seorang pemimpin, cara pandangnya mempengaruhi keputusan dan kebijakan yang akan dirasakan orang banyak.

Mengasah cara pandang berarti melatih diri untuk melihat segala sesuatu tidak hanya dari satu sisi, melainkan secara lebih luas dan mendalam. Ini melibatkan kemampuan berpikir reflektif, terbuka, serta kesediaan memahami pandangan orang lain.

Menurut Darmaprawira, dalam buku Pendidikan Kewargaan yang Demokratis. Individu yang cara pandangnya tajam dan bijak tidak mudah terjebak dalam penilaian sepihak, fanatisme, atau prasangka. Ia mampu menimbang suatu persoalan dengan pertimbangan rasional dan empatik

Pengalaman hidup juga memainkan peran penting dalam memperkaya cara pandang. Bertemu dengan orang dari latar belakang berbeda, menjelajahi tempat baru, atau menghadapi situasi sulit dapat membuka perspektif yang sebelumnya sempit. Istilah yang popular di kalangan orang Jawa, Ketika melihat orang yang berpikiran sempit disebut dengan ‘Duline kurang adoh’ bukan karena tidak pernah berkunjung ke tempat yang jauh, tapi karena tidak bisa mengambil suatu pelajaran.

Selain pengalaman, membaca buku, berdiskusi, dan mendengar cerita dari orang lain adalah sarana penting dalam mengasah cara pandang. Buku membuka jendela ke dunia lain, memperkenalkan sudut pandang baru, dan memperluas cakrawala berpikir. Diskusi yang sehat mendorong kita untuk mempertimbangkan pendapat berbeda

Menurut Moeljono dalam buku Character Building: Membangun Karakter Bangsa, bahwa Proses berliterasi, dan berdiskusi yang sehat membantu individu keluar dari “zona nyaman berpikir” dan mendorong lahirnya cara pandang yang lebih matang.

Cara pandang adalah sudut atau perspektif seseorang, dan mengasah cara pandang bukan hal yang mudah, terutama di tengah masyarakat yang cenderung mengedepankan penilaian instan dan hitam-putih. Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh perbedaan, cara pandang yang luas dan bijak menjadi bekal penting untuk menciptakan kehidupan yang lebih damai, dan beradab. Wallahu a’lam bis-shawab.

Rabu, 03 September 2025

Mustahil, Perubahan Tanpa Berubah

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

(QS. Ar-Ra’d: 11)

 

Perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti dalam hidup. Namun ironisnya, banyak orang menginginkan hasil yang berbeda dalam hidup mereka, tanpa benar-benar mengubah perilaku, kebiasaan, atau pola pikir yang selama ini mereka jalani. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya keinginan untuk berubah, namun lemahnya kesadaran bahwa perubahan sejati menuntut tindakan nyata.

Salah satu penyebab utama proses perubahan yang gagal adalah ilusi bahwa cukup dengan niat dan harapan, segalanya akan berbeda. Padahal, niat tanpa ikhtiar hanyalah omong kosong. Seseorang bisa memiliki visi besar untuk masa depan, namun jika cara hidupnya masih seperti kemarin, maka hasil yang diterima juga akan sama seperti hari-hari sebelumnya.

Dalam kehidupan spiritual, pendidikan, karir, maupun hubungan sosial, prinsip ini tetap berlaku. Misalnya, seseorang yang ingin lebih dekat dengan Tuhan tidak bisa hanya berharap keimanan meningkat tanpa memperbaiki amal, memperbanyak ibadah, dan menjauhi maksiat. Seorang pelajar tidak bisa berharap nilai naik tanpa belajar lebih keras. Seorang pemimpin tidak bisa berharap perubahan dalam organisasi tanpa mengubah cara ia memimpin.

Perubahan bukan hanya tentang tindakan, tetapi juga cara berpikir. Banyak orang ingin berubah, namun tidak siap untuk berpikir dengan cara baru. Maka diperlukan banyak literasi dan belajar dari pengalaman. Pola pikir (mindset) adalah akar dari segala tindakan. Tanpa perubahan mindset, perubahan perilaku hanya akan sementara dan tidak berkelanjutan.

 

Refleksi untuk Lembaga Pendidikan dalam Meningkatkan Daya Saing

Hal yang sama berlaku untuk sebuah organisasi, tim, seperti lembaga pendidikan sekolah menuntut perubahan untuk hasil yang lebih baik. Di tengah persaingan antar lembaga pendidikan yang semakin ketat, setiap sekolah tentu menginginkan peningkatan jumlah murid baru setiap tahun ajaran. Peningkatan jumlah murid di tahun ajaran sebelumnya harus dipahami secara mendalam penyebabnya. Apakah karena memang kualitas lembaga yang bagus ataukah suatu keberuntungan? Jika dipahami hanya suatu keberuntungan, maka perlu kewaspadaan.

Dalam dunia pendidikan yang dinamis, tidak mungkin ada hasil baru tanpa upaya baru. Harapan untuk menarik lebih banyak murid akan tetap menjadi harapan semu jika lembaga masih mempertahankan cara kerja lama yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan zaman.

Orang tua saat ini semakin selektif dalam memilih sekolah bagi anak-anak mereka. Mereka tidak hanya melihat fasilitas fisik, tetapi juga nilai-nilai yang ditanamkan, pendekatan pendidikan yang digunakan, serta rekam jejak prestasi dan budaya sekolah.

Lembaga pendidikan yang ingin unggul dalam menarik murid baru harus mulai bertransformasi secara menyeluruh, bukan sekadar mengganti spanduk promosi atau mempercantik brosur. Program unggulan dan Branding yang positif semakin dikuatkan, pembenahan mutu guru, pelayanan administrasi, komunikasi publik, hingga inovasi pembelajaran yang menarik dan bermakna.

Pentingnya kesadaran bahwa perubahan hanya mungkin terjadi jika lembaga benar-benar mau berubah, bukan sekadar kelihatan berubah. Evaluasi mendalam, keberanian berinovasi, dan keterbukaan terhadap perubahan menjadi kunci penting. Memperoleh murid baru bukan soal keberuntungan, tetapi hasil dari keseriusan membangun kualitas dan kepercayaan publik.

Lembaga pendidikan yang berhasil berubah adalah mereka yang menyadari bahwa perubahan bukan ancaman, tetapi peluang. Mereka tidak menunggu perubahan datang dari luar, melainkan menciptakannya dari dalam. "mustahil, perubahan tanpa berubah," apakah benar adanya? Wallahu a’lam bis-shawab.

 

Selasa, 26 Agustus 2025

Kepatuhan Tanpa Berpikir

 



Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Kepatuhan adalah salah satu elemen penting dalam menjaga keteraturan sosial. Tanpa kepatuhan terhadap hukum, dan norma, masyarakat bisa terjerumus ke dalam kekacauan. Namun, terdapat sisi gelap dari kepatuhan yang jarang dibicarakan, yaitu kepatuhan tanpa berpikir.

Kepatuhan tanpa berpikir adalah bentuk kepatuhan di mana seseorang menaati perintah, atau aturan tanpa mempertanyakan validitas, etika, atau logikanya. Dalam konteks ini, kepatuhan bukan lagi cerminan tanggung jawab, melainkan penyerahan diri secara pasif terhadap kekuasaan, atau kepentingan tertentu.

Hal itu membuktikan bahwa seseorang dapat mematikan nalar dan empati dirinya sendiri hanya demi “melakukan yang diperintahkan.” Kepatuhan seperti itu menjadi ladang subur bagi penyalahgunaan kekuasaan.

Kepatuhan tanpa berpikir tentu berhubungan dengan tanggung jawab moral seseorang. Banyak terjadi, seseorang yang benar-benar melakukan kesalahan, sering merasa tidak bersalah, dan cukup enteng dijawab dengan kalimat “karena saya hanya menjalankan perintah.” Dan dalih seperti ini sering dipakai untuk bersembunyi. Janganlah kita lupa bahwa kepatuhan tidak menghapuskan tanggung jawab pribadi, dan semua ada nilai dan dampak yang harus dipertanggungjawabkan masing-masing.

Dalam dunia yang kompleks ini, tantangan moral dan etika semakin rumit. Kepatuhan buta tidak lagi bisa dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan dan kebijakan. Tentu, diperlukan keberanian untuk bertanya pada diri sendiri, “Apakah yang saya taati ini benar?” Tanpa pertanyaan kritis seperti itu, seseorang hanya akan bergerak seperti robot, patuh tapi tidak sadar, hidup tapi tidak merdeka.

 

Guru, Nalar Kritis, dan Institusinya

Dalam dunia pendidikan, guru tidak hanya mengajar materi pembelajaran, tetapi juga seharusnya menjadi agen perubahan dan pembimbing moral yang aktif berpikir kritis. Namun, realitas di banyak sekolah menunjukkan hal sebaliknya, guru justru kerap menjadi pelaksana pasif suatu kebijakan, baik yang datang dari sekolah ataupun dari luar tanpa mempertanyakan relevansi, efektivitas, atau dampaknya terhadap peserta didik.

Dalam hal kepatuhan, guru mempunyai cobaan tersendiri. Sebagai seorang bawahan atau pelaksana, tentunya harus siap menjalankan perintah dari kepala satuan pendidikannya maupun sistem yang lebih tinggi. Namun, kepatuhan sebaiknya tetap dibarengi dengan nalar kritis, bukan bermaksud menawar tugas yang diberikan, tetapi berpikir mendalam, sebagai bentuk perhatian menemukan celah, apakah kebijakan ini akan baik bagi satuan pendidikannya?, dan adakah sesuatu cara yang lebih hebat dari itu?. 

Nalar kritis akan kembali kepada kualitas dan kemajuan lembaga, walaupun tidak mudah untuk dilakukan, karena membutuhkan keberanian dan kecerdasan.

Pada lembaga dengan sistem manajemen yang baik, guru akan diberikan ruang, dipersilakan mempertanyakan kebijakan secara konstruktif. Guru pun bisa menjalankan perannya sebagai pendidik sejati, yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mampu memperjuangkan kualitas pendidikan yang lebih baik.

Mendorong guru untuk berpikir kritis terhadap kebijakan bukan berarti mendorong pembangkangan, melainkan menghidupkan kembali profesionalisme. Sekolah bukanlah pabrik yang hanya menjalankan instruksi, tetapi komunitas intelektual. Ketika guru hanya patuh tanpa berpikir, maka pendidikan kehilangan jiwanya.

Agama Islam sangat menghargai akal dan pikiran sebagai alat untuk memahami sesuatu yang benar dan yang salah. Rasulullah SAW. pun mendorong umatnya untuk bertanya dan mencari ilmu. Dalam Surah Al-Zumar ayat 9 disebutkan: “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” Ini menjadi dalil bahwa kepatuhan yang ideal dalam Islam adalah yang dilandasi oleh pemahaman dan kesadaran,

Kembali kepada dunia pendidikan, pendidikan tidak hanya mengajarkan murid dari yang tidak bisa menjadi bisa tentang sesuatu hal, tetapi juga membangun kesadaran kritis, berpikir mendalam, menumbuhkan keberanian moral dan tanggung jawab individu. Wallahu a’lam bis-shawab.

Jumat, 22 Agustus 2025

Ujaran Sang Pemimpin Sejati

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

 

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin.”

(HR. al-Bukhari).

 

Ujaran dari seorang pemimpin sejati bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan di depan publik, tetapi cerminan dari karakter, dan visi yang dipegang teguh. Kata-kata pemimpin sejati seperti halnya mutiara, memiliki bobot moral yang kuat karena tidak lahir dari kepentingan pribadi dan sesaat, melainkan dari kesadaran akan tanggung jawab besar yang diemban.

Ujaran seorang pemimpin sejati tentunya tidak dimaksudkan untuk mencari tepuk tangan, ataupun sekadar balasan ucapan terima kasih tetapi untuk membangkitkan kesadaran, dan membentuk arah.

Pemimpin sejati memahami bahwa setiap kata yang keluar dari lisannya memiliki dampak sosial yang luas. Ia tidak berbicara tanpa berpikir atau hanya untuk menangguk popularitas. Sebaliknya, ia menimbang setiap kalimat dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan perpecahan, kesalahpahaman, atau bahkan konflik. Ia sadar bahwa kata-kata yang keluar dari lisannya bisa menjadi alat pemersatu atau sebaliknya, penghancur.

Ciri utama ujaran pemimpin sejati adalah kejujuran. Ia tidak menutup-nutupi fakta atau menyembunyikan kebenaran demi menjaga citra. Di situlah integritasnya diuji, ketika ia berani berkata benar dalam situasi yang sulit.

Lebih dari itu, ujaran dari pemimpin sejati bersifat membangun dan menginspirasi. Ia tidak menggunakan kata-kata untuk merendahkan, menakut-nakuti, atau mengintimidasi yang dipimpinnya. Seorang pemimpin dengan kebijaksanaan yang tinggi akan memilih diksi yang menguatkan semangat kolektif, membangkitkan rasa percaya diri, serta menanamkan harapan yang masuk akal dan bisa diperjuangkan bersama. Walau dalam masa SULIT sekalipun.

Ujaran yang dilontarkan pemimpin sejati juga mencerminkan rasa hormat terhadap keragaman. Ia tidak mengutamakan satu kelompok dan mengabaikan yang lain. Kata-katanya merangkul semua lapisan ataupun golongan. Pemimpin sejati mampu menggunakan redaksi bahasa yang memperkuat semangat persatuan dan kesetaraan di tengah perbedaan.

Di era digital saat ini, ujaran pemimpin menyebar lebih cepat dan lebih luas dari sebelumnya. Karena itu, tanggung jawab moral atas ucapan menjadi semakin besar. Pemimpin sejati tidak boleh terpancing untuk menyampaikan ujaran yang dangkal, provokatif, atau menyudutkan pihak tertentu hanya karena tekanan opini publik atau kepentingan politik jangka pendek. Ia harus mampu menahan diri dan tetap mengedepankan kebijaksanaan, bahkan di tengah riuh rendahnya informasi yang saling bersilang.

Pemimpin sejati juga tahu kapan saatnya berbicara dan kapan saatnya diam. Tidak semua situasi menuntut respon cepat berupa ujaran publik. Kadang, keheningan yang tenang dan penuh pertimbangan justru lebih bermakna daripada ucapan yang terburu-buru. Ketika ia akhirnya berbicara, kata-katanya akan memiliki dampak yang lebih kuat karena lahir dari kontemplasi, bukan reaksi spontan.

Ujaran dari pemimpin sejati adalah cerminan jiwanya. Menurut Andrias Harefa Dalam buku Delapan Langkah Menjadi Pemimpin Autentik Berintegritas, digambarkan bahwa pemimpin autentik memiliki “compass” nilai-nilai utama yang memandu tutur kata dan tindakan mereka secara konsisten.

Kepercayaan publik kepada seorang pemimpin akan terbangun dari melihat integritasnya. Konsistensi antara ucapan dan tindakan adalah tanda integritas sejati. Pemimpin tidak hanya berbicara dengan rangkaian kalimat indah, tetapi juga menjalankannya dalam kehidupan nyata. Wallahu a’lam bis-shawab.

Selasa, 19 Agustus 2025

Diam Pada Waktunya Adalah yang Terbaik

Oleh Mujianto, M.Pd.


Dalam kehidupan, diam sering kali disalahartikan sebagai bentuk kelemahan, ketundukan, atau bahkan kekalahan. Diam, dalam banyak konteks, justru menunjukkan kekuatan batin, pengendalian diri, dan kedewasaan emosional yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Orang yang memilih diam bukan karena takut atau menyerah, melainkan karena ia tahu bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi. Terkadang, diam adalah pilihan sadar untuk tidak menambah luka dalam relasi, untuk tidak menanggapi kebodohan dengan kebodohan, dan untuk menjaga martabat diri.

Ada kekuatan besar dalam memilih diam di saat yang tepat. Diam di sini bukan diartikan tidak tahu apa-apa, tetapi diam yang penuh kesadaran, diam yang memang dipilih, karena merupakan langkah cerdas. Diam bukan berarti tidak peduli, melainkan cara elegan untuk tidak ikut terbakar dalam kekacauan. Ketika situasi tak memungkinkan kita untuk didengar secara utuh, maka diam adalah bentuk kebijaksanaan. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita cukup kuat untuk tidak membuktikan apa pun kepada siapa pun. Dan pada akhirnya, waktu dan kebenaran akan berbicara lebih lantang daripada semua argumen.

Diam juga memiliki batas dan konteks. Ada kalanya diam justru bisa disalahartikan jika dilakukan terus-menerus tanpa keberanian untuk bersuara ketika ketidakadilan terjadi. Oleh karena itu, diam yang bermakna bukanlah pasif atau apatis, melainkan sikap yang terkontrol, dan penuh kesadaran. Diam yang bijaksana tahu kapan harus berhenti dan kapan harus berbicara.

 

Orang Licik dengan Segala Keunikannya

Menghadapi orang yang licik bukanlah perkara mudah. Selain memiliki dua wajah, mereka juga pandai memanipulasi. Mereka tahu bagaimana memancing reaksi, memutarbalikkan fakta agar menguntungkan diri sendiri, dan  akhirnya membuat orang lain yang merasa bersalah.

Sikap orang licik sangat tidak mengenakkan, selain ucapannya yang tidak bisa dipegang, hari ini berkata A, besok B, juga sering menyalahkan orang lain atas masalah yang mereka buat sendiri.

Bereaksi dengan marah atau terburu-buru justru membuat kita masuk ke dalam permainan mereka. Di sinilah sikap diam menjadi senjata yang paling kuat karena ia bukan hanya menghindarkan kita dari jebakan, tetapi juga menunjukkan bahwa kita tidak bisa dikendalikan oleh kelicikan.

Orang yang licik biasanya haus perhatian dan ingin melihat orang lain terpancing oleh provokasi mereka. Dengan tetap diam, kita memotong sumber kekuatan mereka. Diam bukan berarti kita tidak tahu atau tidak berdaya, melainkan kita memilih untuk tidak bermain dalam arena yang mereka ciptakan. Ini adalah bentuk kecerdasan emosional dan ketegasan yang tersembunyi. Sikap diam memberi pesan yang tegas: “Aku tahu permainanmu, tapi aku tidak tertarik untuk ikut serta.”

Diam memungkinkan kita mengamati dengan lebih jernih. Kita dapat melihat pola, strategi, dan kelemahan orang yang licik tanpa harus terburu-buru menanggapi. Diam memberi ruang bagi kebenaran untuk terungkap dengan sendirinya, karena tipu daya tidak akan bertahan lama di hadapan waktu. Kekhasan orang licik adalah terus berusaha membangun citra palsu.

Dalam diam, kita tidak merendahkan diri ke level permainan yang curang. Kita tidak perlu membalas dengan cara yang sama, karena kita tahu nilai kita lebih tinggi daripada permainan itu. Diam bukan kelemahan, tapi kekuatan yang tak mudah diganggu.

Mereka yang diam dengan kesadaran dan kendali penuh, padahal ia mampu menjawab, dan menguraikan tanggapan sebagai bentuk perlawanan, namun tidak melakukannya, mereka itu adalah pemenang. Wallahu a’lam bis-shawab

.

 

Ijazah Sanad dan Syahadah Guru al-Qur’an:



 IJAZAH SANAD:

  1. Ijazah sanad surat al-Fatihah riwayat Imam Hafs th.2025
  2. Ijazah sanad Al-Qur'an Qira’at Imam 'Ashim (riwayat Imam Hafs & Imam Syu’bah) th. 2025
  3. Ijazah sanad ilmu tajwid Hidayatus Shibyan
  4. Ijazah sanad ilmu tajwid Tuhfatul Athfal
        
        
            SYAHADAH:

  1. Syahadah Guru Tahfiz metode Tilawati th. 2023
  2. Syahadah Guru al-Qur’an metode Tilawati th. 2006
  3. Syahadah Guru al-Qur’an metode Ummi th. 2012
  4. Syahadah Guru al-Qur’an metode Yanbu’a th. 2010

Rabu, 06 Agustus 2025

Ikhtiar Seorang Guru: Mengantarkan Anak-Anaknya ke Pintu Kesuksesan

 


Oleh Mujianto, M.Pd.


Sering saya temui seorang guru dengan kesederhanaannya. Kondisi keuangannya yang tidak berlebih, ternyata mampu mengantarkan anaknya menempuh pendidikan tinggi, bahkan perguruan tinggi favorit di luar negeri.

Salah satunya, adalah seorang guru agama di MI. Katakanlah nama beliau pak Solichin (nama disamarkan), beliau adalah salah satu takmir masjid, masjid yang menjadi tempat tinggal saya, saat menjadi marbot ketika menempuh S1 dulu. 

Dua anak beliau mendapatkan beasiswa kuliah di al-Azhar Kairo, Mesir. Menurut saya, itu hal yang luar biasa. Luar biasanya, karena beliau sudah disibukkan dengan tugas mengajarnya, mengurusi murid-murid di sekolah, lalu kapan ada waktu untuk anaknya sendiri di rumah, saat di pendidikan dasar dulu? Walaupun, di pendidikan menengah, anak beliau masuk pesantren. Mungkin, selain didikan di rumah, tentu ada amalan yang bisa membuat si anak dimudahkan oleh Allah dalam menempuh pendidikannya.

Ada rasa ingin tahu pada diri ini. Apa ikhtiar beliau? Tentu ada rahasia yang bisa ditiru, khususnya orang tua yang profesinya menjadi seorang guru, yang ingin menjadikan anaknya sukses dunia dan akhiratnya, namun tidak ada cukup waktu untuk menemani. Rahasia beliau adalah kesungguhan yang mendalam sebagai seorang guru dalam melayani dan mendidik murid-muridnya sehingga berdampak kepada anaknya sendiri.

Seorang guru adalah pelita bagi murid-muridnya, namun ia juga seorang ayah atau ibu bagi anak-anaknya sendiri. Dalam keseharian, guru menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk mendidik dan mengajarkan ilmu kepada anak orang lain.

Di balik peran profesional itu, tersimpan harapan dan doa yang dalam, agar ilmu yang ditanamkan kepada murid juga berbuah kebaikan bagi anak kandungnya, anaknya sendiri. Inilah bentuk ikhtiar yang luhur, menjadikan profesi sebagai ladang doa, dan menjalankannya dengan sungguh-sungguh, sebagai jalan keberkahan bagi keluarga.

Dalam pandangan spiritual, setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas akan kembali kepada pelakunya dalam bentuk kebaikan yang tak selalu disangka. Ketika seorang guru bersungguh-sungguh membimbing murid hingga mereka paham, tumbuh, dan berhasil, sesungguhnya ia sedang menanam benih yang bisa tumbuh di tempat lain, termasuk dalam kehidupan anaknya sendiri.

Islam mengajarkan bahwa siapa yang memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusannya. Maka ketika seorang guru memudahkan jalan ilmu bagi murid, itu bisa menjadi sebab Allah memudahkan jalan ilmu bagi anaknya.

Tak sedikit guru yang saat mengajar muridnya, diam-diam menyelipkan doa dalam hatinya, “Ya Allah, seperti aku ingin anak ini paham, semoga Engkau juga memahamkan anakku di tempat lain.” Doa seperti ini, meski tak terdengar oleh murid, adalah bentuk zikir yang tinggi nilainya.

Seorang guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga seorang pendidik yang menanam nilai-nilai kehidupan. Dalam peran gandanya sebagai guru dan orang tua, ada sebuah ikhtiar mulia yang kerap luput disadari.

Bahwa dengan mencerdaskan murid, sesungguhnya seorang guru sedang membuka jalan kecerdasan bagi anaknya sendiri. Ini adalah bentuk amal yang berbalik manfaatnya, saat seorang guru bersungguh-sungguh mencerdaskan anak orang lain, Allah akan mencerdaskan anaknya lewat jalan-jalan yang tak selalu kasatmata.

Namun sebaliknya, jika seorang guru mengajar dengan setengah hati, abai terhadap murid, dan tidak sungguh-sungguh, maka ikhtiar kebaikan itu pun terhenti. Ia tidak hanya menyia-nyiakan amanah profesinya, tetapi juga menutup jalan keberkahan yang bisa kembali kepada keluarganya. Guru yang bersikap demikian, bisa berimbas ke anaknya sendiri. Seringkali, anaknya mengalami tantangan yang tak kecil dalam belajar, tidak karena mereka bodoh, tetapi karena keberkahan itu tak mengalir sebagaimana mestinya. Ini bukan hukuman, tetapi teguran halus bahwa kebaikan harus dimulai dari diri sendiri.

Guru yang jujur, sabar, dan ikhlas dalam mengajar, sedang membuka jalan luas bagi anak-anaknya untuk tumbuh dalam cahaya ilmu dan nilai. Dan siapa yang menanam cahaya, takkan pernah hidup dalam gelap karena kebaikan selalu menemukan jalannya untuk kembali kepada pemiliknya. Wallahu a’lam bis-shawab.

Selasa, 22 Juli 2025

Menciptakan Kebahagiaan Pada Diri Sendiri


Oleh Mujianto, M.Pd.


"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang."

(Surah Ar-Ra’d ayat 28)

 

Kebahagiaan adalah dambaan setiap manusia, namun sering kali kita mencarinya di tempat yang salah. Banyak orang mengira kebahagiaan hanya bisa dari pencapaian besar, harta yang melimpah, atau pengakuan dari orang lain.

Kebahagiaan sejati bukanlah sesuatu yang diberikan oleh dunia luar, melainkan sesuatu yang dapat diciptakan sendiri dari dalam diri setiap individu. Menciptakan kebahagiaan sendiri bukan berarti menutup diri dari dunia, tetapi menjadikan diri sebagai sumber utama dari rasa tenang dan damai.

Menciptakan kebahagiaan bukanlah tentang menunggu momen-momen tertentu terjadi, melainkan tentang membangun kebiasaan, cara berpikir, dan gaya hidup yang mendukung kebahagiaan itu hadir. Rasulullah SAW. bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya." (HR. Muslim). Orang-orang yang bersyukur akan memiliki pikiran yang positif, sehingga meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi telah diatur oleh Allah SWT. dan ada hikmah di dalamnya. Sikap ini melahirkan ketenangan hati dan menyebabkan kebahagiaan.

Langkah awal untuk menciptakan kebahagiaan dalam diri adalah dengan mengenali dan menerima diri apa adanya. Penerimaan diri berarti memahami kelebihan dan kelemahan pribadi. Saat seseorang mampu mengenali dan berdamai dengan dirinya sendiri, mereka akan memiliki fondasi emosional yang kuat untuk mengembangkan rasa bahagia.

Banyak orang merasa tidak bahagia karena terus membandingkan diri dengan orang lain, padahal setiap individu memiliki jalur dan pola hidup yang unik.

Penerimaan diri adalah cara utama dalam menemukan kebahagiaan dari dalam. Di dalam penerimaan diri terdapat bukti rasa syukur yang besar kepada Allah SWT. Sering kali kita merasa tidak bahagia karena terus membandingkan diri dengan orang lain, menghakimi kelemahan sendiri, dan mengabaikan potensi yang kita miliki. Dengan belajar menerima diri apa adanya kita dapat menciptakan ruang untuk bertumbuh tanpa adanya tekanan.

Aspek penting lain dalam menciptakan kebahagiaan adalah menjaga kesehatan mental dan fisik. Olahraga teratur, tidur yang cukup, serta mengonsumsi makanan yang sehat memiliki dampak besar terhadap suasana hati dan kestabilan emosi.

Merawat kesehatan mental bisa melalui rasa syukur yang selalu ditingkatkan, dan mengelola emosi negatif yang bisa mengganggu kebahagiaan dan pelan-pelan mengubahnya menjadi sikap husnuzan.

Selain itu, hubungan yang sehat dan dukungan sosial juga berperan besar dalam memperkuat kebahagiaan diri. Meskipun kebahagiaan berasal dari dalam diri, manusia tetap makhluk sosial yang membutuhkan koneksi. Menjaga hubungan yang saling menghargai, membangun komunikasi yang jujur, dan memberikan waktu untuk orang-orang terdekat adalah bagian penting dari kebahagiaan diri.

Menciptakan kebahagiaan pada diri sendiri adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Juga, bukan berarti menjalani hidup tanpa masalah, tetapi bagaimana kita merespons setiap kejadian yang kita alami dengan sikap yang bijak. 

Kebahagiaan adalah tanggung jawab pribadi, kita diberi kuasa untuk berikhtiar membentuk hidup yang lebih bermakna. Dalam dunia yang terus berubah ini, memiliki sumber kebahagiaan yang stabil dari dalam diri adalah sebuah keistimewaan. Wallahu a'lam bis-showab.


Senin, 21 Juli 2025

Sesuatu yang Tidak Mengenakkan Itu Juga Rezeki

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Dalam hidup, kita cenderung memaknai rezeki secara sempit. Rezeki dimaknai hanya sebatas materi, seperti uang, makanan, atau harta benda lainnya. Padahal, dalam perspektif yang lebih dalam, rezeki bisa berupa apa saja yang datang dari Sang Pemilik Alam Semesta ini, termasuk hal-hal yang tampaknya tidak menyenangkan.

Banyak orang luput memahami bahwa cobaan, kegagalan, bahkan rasa sakit, bisa menjadi bentuk rezeki bagi manusia. Di sinilah kita diingatkan untuk memperluas makna rezeki dan menyelami nilai spiritual yang terkandung di balik peristiwa-peristiwa yang tidak kita sukai.

Contoh sederhana, batuk sering dan terlalu cepat dianggap sebagai gangguan atau tanda bahwa tubuh sedang tidak sehat. Padahal, jika ditinjau dari sudut pandang medis, batuk justru bisa menjadi bentuk rezeki. Secara medis, batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh yang sangat penting. Ia bekerja untuk membersihkan saluran pernapasan dari lendir, kuman, debu, dan partikel yang dapat membahayakan sistem pernapasan. Artinya, batuk bukan hanya gejala penyakit, tetapi juga proses alami tubuh untuk menjaga kesehatan dan menyingkirkan zat yang tak dibutuhkan.

Rasa sakit tidak hanya memaksa kita untuk merintih, tetapi juga menunduk, merenung lalu tersadar berusaha lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

 

Ujian dengan Penderitaannya Adalah Rezeki yang Tersembunyi

Rezeki dalam bentuk ujian juga menjadi penanda bahwa kita sedang diperhatikan oleh Sang Khaliq. Semakin tinggi derajat seorang hamba, semakin berat pula ujian yang diberikan kepadanya. Artinya, ujian bukan tanda keburukan.

Tidak semua orang diberi kesempatan untuk tumbuh melalui penderitaan, karena hanya mereka yang disiapkan untuk sesuatu yang lebih besar yang mampu melaluinya. Jadi, rasa tidak mengenakkan itu bisa menjadi bentuk kepercayaan Tuhan kepada kita.

Tidak semua kenikmatan adalah rezeki yang membawa kebaikan. Rezeki yang hakiki adalah segala sesuatu yang mendatangkan keberkahan dan mendekatkan seseorang kepada Allah. Jika seseorang hanya mendapatkan yang enak-enak tetapi itu membuatnya lalai dari ibadah, menjadi sombong, atau bermaksiat, maka sejatinya itu bukanlah rezeki, melainkan ujian yang tersembunyi, bahkan bisa menjadi istidraj, yakni kenikmatan dunia yang Allah berikan sebelum azab.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 44, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa kenikmatan dunia bisa menjadi cara Allah menguji atau bahkan menyesatkan mereka yang lupa diri. Oleh karena itu, bisa jadi, kenikmatan itu datang bukan sebagai bentuk cinta Allah, melainkan ujian untuk melihat ke mana hati kita akan condong.

Memahami bahwa “sesuatu yang tidak mengenakkan itu juga rezeki” adalah bentuk kedewasaan spiritual. Dunia tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tapi selalu memberi apa yang kita butuhkan untuk tumbuh. Maka, jika saat ini kita sedang berada dalam ketidaknyamanan, barangkali itulah rezeki yang sedang menyapa bukan untuk menyenangkan kita, tapi untuk menguatkan dan memuliakan kita. Wallahu a’lam bis-showab.

Rabu, 16 Juli 2025

Mengakui Kesalahan

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

 

Jadikan taubat bukan hanya untuk dosa-dosa yang telah kamu lakukan, tapi juga untuk kewajiban yang belum kamu tunaikan.

(Ibnu Taimiyyah)

 

Kesalahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan manusia. Sejak awal kehidupan, manusia tumbuh dan belajar melalui proses mencoba, jatuh, gagal, lalu memperbaiki. Dalam dinamika itu, kesalahan muncul sebagai konsekuensi dari keterbatasan pengetahuan, emosi, dan pengalaman diri.

Tidak ada manusia yang luput dari salah, karena kesempurnaan bukanlah milik makhluk, melainkan milik Sang Pencipta. Menyadari kenyataan bahwa setiap orang pernah atau bisa saja melakukan kesalahan dapat menjadi dasar dari sikap empati, toleransi, dan keadilan dalam memandang serta bersosialisasi dengan sesama.

Setiap individu pasti pernah membuat kesalahan, baik kecil maupun besar. Namun yang membedakan seseorang yang memahami dan mau berkembang adalah kemampuannya untuk menghadapi dan mengakui kesalahan yang dilakukannya.

Menghadapi kesalahan bukanlah hal yang mudah. Banyak orang lebih memilih menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan menyangkal fakta demi melindungi harga diri. Namun, sikap seperti itu justru memperpanjang konflik batin dan menghambat pertumbuhan pribadi.

Mengakui kesalahan adalah bentuk tanggung jawab dan kematangan emosional. Saat seseorang mengakui kesalahannya, ia menunjukkan bahwa ia bersedia belajar, berubah, dan memperbaiki. Sikap ini mempererat hubungan dengan orang lain karena menunjukkan kejujuran dan kerendahan hati.

 

Pandangan Islam tentang Hakikat Manusia dan Ampunan

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat” (HR. Tirmidzi). Hadis ini tidak hanya menunjukkan realitas bahwa kesalahan adalah keniscayaan, tetapi juga menegaskan bahwa kemuliaan manusia justru terletak pada kesediaannya untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan tersebut.

DI dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 53, Allah SWT berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ayat ini menjadi penguat bahwa setiap kesalahan, sekecil atau sebesar apapun, selama disertai dengan taubat yang tulus, Allah akan mengampuni. Wallahu a’lam bis-showab.


Selasa, 15 Juli 2025

Berubah dan Berbuatlah dengan Niat yang Benar, Jangan Hanya Sekadar untuk Menyenangkan Orang Lain!

 


Oleh Mujianto, M.Pd.

"Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Tahu akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."

QS. At-Taubah: 105

  

Perubahan adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan. Setiap orang, cepat atau lambat, akan dihadapkan pada titik di mana mereka harus tumbuh, menyesuaikan diri, atau mengevaluasi kembali jalan hidupnya. Namun, yang sering kali menjadi persoalan adalah motivasi di balik perubahan itu.

Tidak sedikit orang yang berubah bukan karena mereka ingin atau butuh, tapi karena tekanan sosial, keinginan untuk diterima, atau rasa takut ditolak. Inilah yang membuat perubahan menjadi beban, bukan pertumbuhan.

Dalam kehidupan sosial, manusia memiliki kecenderungan alami untuk diterima dan disukai oleh lingkungannya. Ini adalah bagian dari kebutuhan dasar manusia akan pengakuan. Namun, masalah mulai muncul ketika seseorang mulai mengorbankan jati dirinya demi memenuhi ekspektasi orang lain. Mengubah sikap, atau bahkan prinsip hidup hanya untuk menyenangkan orang lain.

Menyenangkan semua orang adalah misi mustahil, dan mencoba melakukannya hanya akan membawa kelelahan emosional. Penting untuk memahami bahwa kita tidak bisa mengendalikan cara orang lain memandang kita. Seberapa keras pun usaha kita untuk tampil seperti yang mereka inginkan, tetap akan ada kritik, tuntutan baru, dan ekspektasi yang tak pernah habis.

Berubahlah, tapi karena kita ingin tumbuh. Berubahlah, karena kita tahu ada ruang untuk menjadi lebih baik. Tapi jangan pernah berubah hanya untuk membuat orang lain senang, sementara kita sendiri merasa terasing dari diri sendiri. Dunia akan selalu punya pendapat, dan responnya masing-masing  tapi hidup yang kita jalani sepenuhnya adalah milik kita sendiri. Maka, jadilah versi terbaik dari diri kita sendiri.

 

Berbuat Karena untuk Mencapai Tujuan

Dalam perjalanan hidup, kita sering kali dihadapkan pada pilihan. Bertindak karena keinginan pribadi untuk berkembang, atau bertindak karena ingin terlihat baik di mata orang lain. Banyak orang terjebak dalam pola pikir bahwa validasi eksternal adalah tolok ukur keberhasilan.

Tindakan yang didasarkan pada keinginan menyenangkan orang lain biasanya hanya memberi kepuasan sesaat, bukan kepuasan yang bermakna dan bertahan lama. Melangkah mengejar prestasi yang seharusnya bagian dari tujuan hidup, bukan karena ingin mendapat tepuk tangan, pengakuan, atau diterima dalam lingkaran sosial tertentu.

Tindakan yang lahir dari tujuan yang benar, jauh lebih kuat dan berakar dalam. Tujuan yang benar memberi arah yang jelas, membentuk karakter, dan melahirkan konsistensi.

Berbuat untuk mencapai tujuan adalah bentuk penghargaan terhadap waktu dan potensi diri. Itu adalah komitmen pada pertumbuhan sejati. Sedangkan berbuat demi menyenangkan orang lain sering kali membuat kita lelah secara emosional.

Maka penting untuk selalu bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku melakukan ini karena itu bagian dari panggilan jiwaku, apakah ini prestasi yang harus aku usahakan? Atau hanya karena aku ingin terlihat baik dan berhasil di mata orang lain? Wallahu a’lam bis-shawab.

Minggu, 13 Juli 2025

3 Pilar Utama Membangun Lembaga Sekolah dari Dalam


 Oleh Mujianto, M.Pd.

Membangun lembaga sekolah yang kokoh tentu kita pahami tidak cukup hanya dengan infrastruktur fisik dan kurikulum yang lengkap. Justru, kekuatan utama dari sebuah sekolah terletak pada pembangunan internal yang mencakup kepercayaan, penghormatan, nilai, visi, peraturan, komitmen dan relasi antara individu di dalamnya.

Transformasi sejati hanya mungkin terjadi ketika pembenahan dimulai dari dalam: dari pemimpin yang visioner, guru yang berintegritas, murid yang terlibat aktif, dan sistem manajemen yang transparan, bijak serta reflektif. Dalam konteks ini, membangun lembaga sekolah dari dalam berarti ada hal yang menurut penulis, wajib dipenuhi sebagai fondasi utama dari struktur atau nilai yang menopang seluruh proses pendidikan lembaga sekolah.

Pilar pertama adalah membentuk visi-misi sekolah yang kuat-kontekstual dan berupaya menjadikannya paradigma. Banyak sekolah memiliki visi dan misi, namun tidak semuanya hidup dan dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Visi dan misi hanya sebagai pajangan di ruang guru, sudut-sudut ruangan, dan media sosial sekolah. 

Visi yang dirumuskan bersama oleh seluruh pemangku kepentingan, guru, kepala sekolah, murid, dan orang tua akan memberi arah yang jelas dan menyatukan tujuan semua pihak. Visi ini harus mampu menjawab tantangan zaman serta memperhatikan karakteristik lokal tempat sekolah berada, agar tidak sekadar menjadi slogan kosong.

Agar visi dan misi tidak menjadi slogan kosong, seluruh elemen sekolah, kepala sekolah, guru, murid, hingga orang tua perlu memahami, meyakini, dan menjalankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hal ini dapat dimulai dengan menjadikan visi sebagai rujukan dalam setiap pengambilan keputusan, menyelaraskan program kerja sekolah dengan misi yang ditetapkan. 

Visi yang hidup akan menciptakan kesadaran kolektif, memperkuat identitas sekolah, dan mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang bermakna. Dengan demikian, sekolah bukan hanya institusi pembelajaran, melainkan tempat di mana cita-cita bersama diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari.

 

Pilar kedua adalah mengokohkan lembaga sekolah melalui sistem yang konsisten dan komitmen stakeholder. Dalam membangun lembaga sekolah yang kuat dan berdaya saing, pondasi utama yang sering kali terabaikan adalah tata aturan yang jelas dan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholder). 

Peraturan bukan sekadar dokumen administratif, melainkan kerangka nilai dan perilaku yang mengarahkan dinamika kehidupan sekolah. Sementara itu, komitmen stakeholder, mulai dari kepala sekolah, guru, murid, orang tua, hingga masyarakat sekitar menjadi energi sosial yang mendorong berjalannya sistem pendidikan secara konsisten.

Membahas tentang komitmen, komitmen ini bukan sekadar hadir dalam rapat, tetapi dalam kompetensi semua pihak untuk bertanggung jawab atas peran masing-masing demi kemajuan bersama. Komitmen ini perlu didukung oleh sistem yang konsisten, transparan, dan adil dalam pelaksanaan aturan, penilaian kinerja, dan pengembangan profesional. Sistem yang sehat dan partisipatif akan menjaga komitmen tetap hidup dan berkembang.

Komitmen akan tumbuh subur jika semua pihak merasa memiliki visi yang sama dan melihat bahwa kontribusi mereka berdampak langsung terhadap kemajuan sekolah. Namun, komitmen tersebut hanya dapat bertahan dan berkembang jika ditopang oleh sistem yang konsisten dan adil. Sistem mencakup aturan yang jelas, mekanisme evaluasi yang transparan, serta kebijakan yang diterapkan secara merata tanpa tebang pilih.

Konsistensi sistem menjamin bahwa setiap bentuk komitmen tidak sia-sia, karena diakui, dihargai, dan diperkuat oleh struktur yang mendukung. Ketika ada ketimpangan antara semangat individu dan kelemahan sistem, maka kelelahan, frustrasi, dan apatisme mudah muncul.

Pilar ketiga adalah refleksi dan evaluasi berkelanjutan. Ketika ada refleksi berupa kalimat "bahwa keberhasilan lembaga adalah hasil dari kerjasama kita semua," maka sebaliknya semua unsur harus mengakui, "bahwa jika terjadi kegagalan, adalah karena kita semua." Sehingga dengan kesadaran di atas menjadi sebuah refleksi yang efektif bagi semua unsur. 

Langkah ketiga ini menjadi kunci agar pembangunan internal sekolah tidak berhenti sebagai proyek sesaat. Sekolah harus memiliki sistem refleksi berkala yang melibatkan semua pihak, sebagai bagian dari budaya perbaikan berkelanjutan. 

Ibarat tim sepak bola, semua unsur baik pemain belakang, tengah, depan, bahkan pelatih, atupun pemilik tim/klub bisa saling mendukung menjadi penyebab kemenangan. Walaupun faktanya, tidak semua unsur berperan dengan baik. Ada di antara unsur tersebut yang menonjol, menjadi yang terbaik penyebab kemenangan, seperti pemain depannya yang pandai mencetak gol, atau kiper yang pandai menghalau bola, atau pelatih yang mampu meracik strategi dan membangkitkan semangat, sehingga semua pemain menjalankan perannya dengan apik dan percaya diri. 

Sebaliknya, ada unsur yang menjadi penyebab kekalahan. Ada pemain yang tidak menjalankan perannya dengan baik. Sehingga makna kerjasama menjadi pudar. Maka dari itu, semuanya harus terevaluasi secara berkala, sebagai bentuk membangun diri. Peran siapa harus diapresiasi, dan peran apa yang harus dibenahi.

Dengan membangun diri dari dalam, sekolah tidak hanya akan menjadi institusi pendidikan, tetapi juga komunitas pembelajaran yang tumbuh bersama demi mencetak generasi masa depan yang tangguh dan bermakna. Waalahu ‘alam bis-sawab.